|
bab sembilan
SAINS REDUKSIONIS DAN AGAMA
“Kontrol Estrus akan membuka pintu produksi pabrik
babi. Kontrol siklus betina adalah rantai yang hilang kepada jalur-produksi.”
—Earl Ainsworth,
The Farm Journal,
1976
“Tidak ada agama yang tanpa cinta, dan orang-orang
boleh berkata apa saja tentang agamanya, tetapi jika agama tersebut tidak
mengajarkan mereka untuk berbuat baik dan sayang terhadap hewan dan juga
manusia, itu semua adalah berpura-pura.”
—Anna Sewell, Black Beauty
“Dikatakan bahwa pandangan tentang alam yang dimiliki
seseorang akan menentukan semua institusi mereka.”
—Ralph Waldo Emerson, English Traits
Putra Kebudayaan Menggembala
Ilmu pengetahuan dan agama adalah institusi pokok
dalam kebudayaan kita yang mewujudkan banyak cita-cita luhur kita dan mendukung
kehidupan serta kesejahteraan kita dengan beraneka ragam cara. 'Science (ilmu
pengetahuan)' berasal dari kata 'scire', “mengetahui,” dan 'religion (agama)'
dari 'religare', “menghubungkan kembali”; yang terdahulu adalah sebuah
manifestasi dari hasrat kita untuk mengenal dunia dan diri kita sendiri melalui
ilmu pengetahuan yang sistematis, dan hasrat kita yang belakangan adalah untuk
berhubungan kembali dengan sumber spiritual dari kehidupan kita dan hidup secara
harmonis satu sama lain dan dengan tatanan yang lebih tinggi. Ilmu pengetahuan
dan agama keduanya merupakan institusi raksasa, yang masing-masing mempekerjakan
jutaan orang dan menghabiskan miliaran dollar pada proyek-proyek yang semuanya,
secara teori, dimaksudkan untuk memberi peningkatan kesehatan, kemudahan,
keamanan, pemahaman, arti, dan kebahagiaan pada kehidupan kita.
Sementara itu beberapa orang akan berdebat bahwa ilmu
pengetahuan dan agama tidak memberi keuntungan pada kita, banyak yang akan
berdebat bahwa keduanya betul-betul mendukung peperangan, kehancuran, dan juga
kesengsaraan—bahwa keduanya memperburuk masalah sekaligus menyelesaikannya juga.
Mengapa begitu? Secara lebih terperinci, mengapa ada ribuan orang yang mencari
jalan untuk memperbaiki dan menyembuhkan dunia melalui pengembangan ilmiah atau
spiritual, namun masih belum menegur mentalitas keras dan buas yang diperlukan
oleh pilihan makanan kita? Di samping penolakan universal kita untuk mengizinkan
keterlibatan di dalam kekejaman dari hidangan kita, ada faktor lain yang
berlaku: reduksionisme yang dipromosikan oleh banyak institusi ilmu pengetahuan
dan institusi keagamaan Barat yang bekerja untuk menjaga agar hubungan genting
ini menjadi tidak kasat mata.
Revolusi kesadaran manusia yang dimulai untuk pertama
kalinya pada sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu di Irak dengan aksi penjinakan
dan penggembalaan hewan-hewan besar untuk dimakan, nampaknya telah menjadi
sebuah revolusi reduksionisme. Keistimewaan yang membedakannya adalah tindakan
untuk mereduksi dari bagian dalam dan bagian luar: mereduksi hewan liar yang
kuat ke tempat pengurungan dan penyembelihan secara rutin, dan mereduksi rasa
hormat manusia terhadap hewan dan alam dalam proses tersebut. Nenek moyang kita
menjadi predator (pemangsa) dari mangsa yang direduksi kekuatannya—hewan-hewan
ternak yang dikomoditaskan dan dikawal itu akan ditusuk dan dipenggal lehernya.
Mereka yang menjadi reduksi predator dan dibuat kurang peka ini, akan sering
membuat institusi ilmu pengetahuan dan institusi agama sifat reduksionis yang
sama untuk mengesahkan sikap dan kelakuan mereka.
Di samping menghasilkan sistem ilmu pengetahuan dan
keagamaan yang reduktif, budaya menggembala yang kuno ini juga menghasilkan
sistem ekonomi yang reduktif dan buas serta semakin memandang manusia sebagai
suatu unit ekonomi, serta secara berangsur-angsur mengarah ke distribusi
kekayaan yang sangat tidak merata. Pada era bersejarah tiga ribu tahun yang
lalu, kita bisa melihat di dalam tulisan kita yang paling kuno seperti pada
Homer, Perjanjian Lama, dan tulisan kuno Sumeria, tentang sebuah sistem ekonomi
yang sudah mapan dan didominasi oleh raja-raja kaya pemilik peternakan yang
bertempur demi tanah untuk ternak mereka, dengan orang banyak yang sering
direduksi, sehingga mereka menjadi hanya sekedar sumber daya belaka yang
terus-menerus bertengkar, berproduksi, dan mengonsumsi untuk kepentingan
elite-elite kaya. Ilmu pengetahuan awal digunakan untuk memanipulasi garis
keturunan ternak demi memaksimalkan produksi daging, susu, dan wol, serta agama
juga digunakan untuk membenarkan dan bahkan mengamanatkan penyembelihan hewan
untuk dijadikan makanan. Inilah fakta lembaga-lembaga yang telah kita warisi dan
yang beroperasi hingga saat ini, serta yang hidup di dalam diri kita karena kita
terus mengonsumsi makanan-makanan yang diperoleh dari hewan-hewan yang
tereduksi.
Ada manfaatnya bila memahami ilmu pengetahuan dan
agama konvensional, meski sering kali saling bermusuhan dengan sengit, namun
sebenarnya mereka memiliki persamaan mencolok dalam asumsi utamanya. Keduanya
adalah anak kebanggaan dari budaya menggembala, dan mereka berdua
cenderung memperkuat mentalitas reduksionis yang dibutuhkan oleh mereka yang
menempati budaya ayahnya. Mentalitas ini diperlukan untuk menopang praktik
memperbudak dan memakan hewan-hewan besar, dan untuk mendukung sistem ekonomi
yang berdasarkan pada penyingkiran dan eksploitasi. Penting bagi pendidikan
untuk melihat bahwa individu-individu langka ini telah mampu melebihi dan
mengangkat institusi-institusi ilmiah dan agamanya hingga ke tingkat tertentu,
institusi-institusi itu sendiri secara khas menggunakan tekanan yang memperkuat
reduksionisme yang diperlukan oleh lingkungan menggembala. Sebagai contoh, walau
ilmu pengetahuan dan agama bisa sangat diperkaya oleh prinsip feminin yang
non-reduktif (Sophia), namun ia masih dipandang rendah oleh budaya menggembala,
serta ilmu pengetahuan dan agama konvensional juga secara khas memandangnya
dengan rasa tidak percaya, yang hanya merugikan diri mereka sendiri.
Bapak dan anak-anaknya tidak berhasil dalam
menaklukkan Sophia terutama karena “pengorbanan” sehari-hari yang terus menerus
dari jutaan hewan untuk sajian di meja makan kita: ritual massa yang mereduksi
kecerdasan kita dan menekan kearifan penyembuhan kita. Sebagai kebijaksanaan,
Sophia adalah tujuan akhir dari ilmu pengetahuan dan agama, tetapi dalam
melayani mentalitas otoriter dan reduktif dari budaya menggembala, mereka tidak
punya pilihan lain selain menolak dirinya, dengan akibat-akibat spiritual tragis
yang bisa kita lihat di sekeliling kita.
Sains dan Perbudakan
“Mengubah sistem kehidupan menjadi mesin demi
menimbun modal tidak akan mungkin dengan tanpa dibantu oleh penurunan sains yang
menghasilkan dua hal bagi Anda. Pada satu sisi hal itu mematikan etika belas
kasih Anda karena paham penurunan yang mengubah sistem kehidupan telah menjadi
bagian-bagian tak berdaya yang dikumpulkan dari luar—dan paham penurunan
kemudian menciptakan pembiusan etika yang secara mendasar berkata: ‘Anda
tidak perlu khawatir tentang etika hubungan Anda karena hal ini hanyalah
persoalan yang ada di tangan Anda untuk dipermainkan.’ Seolah-olah Anda sedang
bermain dengan barang plastik. Dan itu juga memberikan Anda kekuatan manipulasi
yang sesungguhnya untuk mengambil lebih banyak susu dari seekor sapi,
memproduksi lebih banyak daging dari sapi kurus, menjejalkan sapi-sapi itu di
tempat yang lebih sempit, dan menyembelih mereka dengan ebih cepat.
“Ini adalah sistem dimana pemilik modal menerapkan
pengurangan sains demi menumpuk modal dan perampasan kehidupan dari makhluk yang
memiliki hak atas hidup mereka sendiri.”
—Vandana Shiva, Ph.D.
¹
Berakar dari pemisahan Cartesius yang salah antara
pikiran dan materi, pengurangan sains konvensional sama sekali menolak
keberadaan realitas apapun di luar aspek yang bisa dibuktikan secara fisik.
Mitos materialis ini mengabaikan spiritualitas serta petualangan kesadaran yang
misterius, dan cenderung menurunkan derajat hewan-hewan maupun manusia hanya
untuk menjadi mesin-mesin yang melangsungkan hidupnya dengan ditenagai oleh daya
genetik dan kimia. Pada hakikatnya hal itu memperkuat khayalan bahwa
makhluk-makhluk berjuang dan bersaing di alam semesta dengan tidak memiliki arti
atau tujuan. Ini telah membuat sains reduksionis menjadi sarana ampuh bagi para
elit kaya dan kompleks industri militer yang dikuasainya.
Dengan menghilangkan arti dan nilai yang tak
terpisahkan dari hewan-hewan dan alam serta menurunkan derajat kehidupan menjadi
proses materi, pemrograman genetik, dan pengondisian pelaku, maka hakikat kita
sendiri, nilai-nilai moral kita, dan status kita didefinisikan kembali sesuai
dengan seberapa efisien kita melayani tujuan kompleks ekonomi/politik tersebut.
Sains reduksionis telah membina mata yang dingin dan penuh kalkulasi serta
mengesahkan penurunan derajat makhluk-makhluk menjadi angka-angka dalam analisa
biaya/keuntungan yang dilakukan oleh para ekonom industri dan ahli siasat
militer. Hal ini telah membantu mengesahkan praktik budaya penggembalaan yang
mengomoditaskan hewan dan alam, serta secara lebih luas, diri kita sendiri dan
satu sama lain.
Sains reduksionis melayani mentalitas penggembalaan
dengan setia. Itu telah mengubah keterpisahan patologis dari dominasi maskulin
terhadap alam, hewan-hewan, dan orang-orang menjadi suatu bentuk seni yang
terpandang dan bergengsi. Sekarang kita benar-benar bisa pergi ke Dachau dan
berdiri di dalam gedung beton yang sama dengan tempat para ilmuwan Nazi
melakukan eksperimen-eksperimen mengerikan terhadap sesama manusia atas nama
ilmu pengetahuan. Seperti halnya ide-ide supremasi yang membenarkan
eksperimen-eksperimen Nazi yang kejam, hal itu juga membenarkan
eksperimen-eksperimen kejam yang kita lakukan setiap hari terhadap ribuan hewan
tak berdaya yang tidak pernah diungkapkan. Jika kita mendapat izin masuk, hari
ini kita bisa pergi ke perguruan tinggi negeri manapun atau ke ribuan operasi
riset swasta, militer atau pemerintah dan menyaksikan kekejian yang
dirasionalkan oleh alasan supremasi yang sama. Kita juga bisa pergi, misalnya,
ke Sekolah Amerika di Fort Benning, Georgia, dan melihat bagaimana tentara A.S.
melatih para personel militer dari negara-negara Amerika Tengah dan Selatan
dalam metode penyiksaan, pengawasan, dan penindasan berteknologi tinggi terbaru
yang membantu mereka untuk secara efektif menguasai rakyat mereka demi
melestarikan kepentingan perusahaan-perusahaan lintas negara dan kelompok kecil
penguasa yang terpandang².
Modal, ternak, kekayaan, perang, dan eksploitasi alam, hewan-hewan, dan
orang-orang berdiri pada fondasi yang sama saat ini sebagaimana dalam budaya
penggembalaan kuno. Hal itu terus berlangsung hingga saat ini dalam bentuk
teknologi tinggi yang dibantu oleh mitologi reduktif dari sains.
Mungkin tiada yang lebih mengerikan selain menjadi
tak berdaya dan terkurung, serta ditatap oleh mata dingin yang tak berperasaan
dan tidak peduli akan penderitaan yang kita alami. Ini adalah tatapan mata dari
para penggembala terhadap hewan-hewan miliknya, yang semuanya akan ia manipulasi
dan bunuh demi keuntungannya sendiri; itu adalah tatapan mata prajurit kepada
lawan-lawannya yang mengancam ternak dan kepentingan modal milik penguasanya;
itu adalah tatapan mata para ilmuwan atau asisten riset yang dengan sengaja
menjadikan makhluk-makhluk berperasaan sebagai obyek percobaan yang sangat
menyakitkan. Mata yang keras dan tidak bersimpati ini adalah suatu parodi
terluka dari mata manusia sejati yang bersinar dengan kebaikan penuh kasih,
welas asih, dan rasa peduli serta simpati yang alami kepada semua makhluk sesama
penghuni bumi ini. Mata yang keras itu
diperoleh hanya dengan latihan keras—latihan keterpisahan yang secara praktis
kita jalani sejak lahir dari horor diatas piring dalam kita tiga kali sehari.
Kita belajar untuk melemparkan pandangan yang tak bersimpati ini kepada mereka
yang bukan spesies kita, ras kita, negara kita, kelas, jenis kelamin, suku,
agama, atau orientasi seksual, dan terutama terhadap babi, sapi, serigala, dan
hewan-hewan yang menjadi “makanan” atau “pengganggu”. Tentu saja kita mungkin
menatap dengan mata yang lebih lembut kepada spesies hewan “peliharaan”
tertentu; tetapi amatlah mengherankan, misalnya, jika Anda pergi ke sebuah
konferensi sains dan mendengar dari para ilmuwan itu sendiri berbicara tentang
hewan-hewan apa saja yang bisa mereka bedah dengan tanpa rasa ragu. Beberapa
dari mereka hanya bisa membedah tikus besar dan kecil, yang lain juga bisa
membedah kucing, tetapi bukan anjing atau monyet, yang lainnya bisa membedah
kelinci tetapi bukan kucing, dan lain sebagainya. Dari manakah kita menarik
batas, dan mengapa? Bagi sebagian besar ilmuwan, seperti kebanyakan dari kita di
dalam budaya penggembalaan ini, hewan-hewan yang dipelihara untuk makanan berada
jauh di luar cakupan tatapan mata yang lembut. Semakin kita menjadi peka,
semakin luas lingkaran welas asih kita, dan kita merasa tidak tega untuk melukai
makhluk-makhluk hidup dalam cakupan yang lebih luas karena kita menemukan bahwa
mata kita menjadi melembut dan peduli bahkan terhadap tikus kecil, burung, ikan,
kerang, dan serangga. Pelatihan ilmiah, istilah dari Henryk Skolimowski “yoga
obyektifitas”³,
memperkuat suatu cara pandang yang sering cenderung mempersempit lingkaran belas
kasih kita dan tidak hanya membuat ketidakpekaan para ilmuwan tetapi juga
ketidakpekaan kita semua.
Ilmu pengetahuan dalam beberapa cara telah membantu kita untuk menghargai
hewan-hewan “makanan” dengan menunjukkan bahwa, contohnya, ikan memiliki
kesadaran sosial yang tinggi, dapat merasakan sakit, dan dengan cepat belajar
untuk menghindari penyebab rasa sakit, dan bahwa babi ternyata memiliki
kecerdasan yang tinggi, melebihi anjing dan mendekati simpanse. Tetapi,
dampaknya secara keseluruhan terhadap kesejahteraan hewan dengan jelas adalah
negatif. Faktanya sekarang masih ada banyak ilmuwan berpengaruh yang meskipun
akhirnya terpaksa mengakui bahwa hewan-hewan dapat merasakan sakit dan bisa
menderita, namun tetap mengabaikan kebenaran dan intensitas penderitan mereka,
sebagaimana yang dilakukan para ilmuwan terhadap orang-orang berkulit hitam
selama zaman perbudakan. Sejak awal revolusi ilmiah, para ilmuwan telah
menggunakan hewan dalam eksperimen-eksperimen yang menyakitkan dan telah
mengabaikan kaitan moral dari rasa sakit mereka. Jawaban pedas Descartes
yang terkenal atas keluhan tetangganya tentang lolongan kesakitan anjing-anjing
yang ia bedah masih bergaung di aula sains. Ia menyatakan bahwa hewan,
karena secara rasional tidak memiliki jiwa, tidak bisa merasakan sakit, dan
lolongan kesakitan yang mereka keluarkan itu hanyalah seperti suara derakan dari
putaran roda penggilingan.4 Sikap
semacam itu benar-benar berlawanan dengan Aturan Emas. Dengan
mempromosikan ilusi objektivitas, keterpisahan, reduksionisme, dan materialisme,
dan dengan mendorong para peneliti dan publik untuk mengabaikan penderitaan yang
dialami oleh makhluk-makhluk peka tersebut atas nama dan di dalam tangan budaya
kita secara umum, sains telah sangat mendukung mentalitas penggembalaan,
dan sangat merugikan hewan-hewan tersebut. Dalam hal ini, sains telah
merugikan kita, baik pada manusia maupun hewan-hewan.
Selain berperan atas mitos reduktif keterpisahan untuk lebih lanjut memperkuat
mitos budaya penggembalaan kita, sains telah menghasilkan perangkat-perangkat
teknologi yang memungkinkan penguasa hewan modern untuk menyiksa dan memperbudak
hewan dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pabrik ternak
dan tempat pemotongan hewan modern tidak mungkin ada dengan tanpa mesin-mesin
canggih, pestisida, obat-obatan, hormon, sistem kerangkeng, pecut listrik, dan
segudang peralatan teknologi lain yang menghadirkan mimpi buruk bagi
makhluk-makhluk yang diciptakan untuk berlari, terbang, berenang, bermain, dan
merayakan kehidupan mereka di dunia yang alami itu. Tidak seperti manusia modern
yang ditempatkan di ruangan kecil berhiaskan komputer di gedung-gedung
perkantoran pencakar langit, sapi, ayam, ikan, dan babi secara tidak masuk akal
kita paksakan untuk masuk ke dalam tempat buatan yang sangat asing, yang membuat
frustrasi, dan yang mengerikan seumur hidup mereka demi memenuhi keinginan egois
kita.
Sains reduksionis secara praktis mendefinisikan budaya dan citra diri kita saat
ini, dan meskipun hal itu telah membawa kemajuan dan kenyamanan materi yang tak
bisa dibantah, itu juga telah menjadi kekuatan hebat yang memperbudak diri kita
sendiri. Sains tidak hanya menjadi sumber perangkat teknologi yang menghibur dan
menyamankan kita, tapi juga yang mengalihkan perhatian dan membuat kita
kecanduan, atau yang mencemari dan berpotensi menghancurkan dunia kita. Sains
juga menciptakan alat-alat yang bisa secara langsung mengendalikan kita, sama
seperti yang telah dilakukan terhadap hewan. Beberapa contoh dari hal itu adalah
sistem pengawasan tersembunyi, sabuk kejut listrik, dan keping mikro komputer
yang bisa ditanamkan di dalam tubuh kita untuk melacak kita melalui GPS, dan
menurut beberapa sumber, berpotensi untuk mengatur kita dengan cara menimbulkan
kejang otot yang menyakitkan, ketakutan atau kebingungan mental.5
Keping-keping mikro itu telah diujikan dan dikembangkan bagi hewan, dan beberapa
versi dari keping itu secara luas telah ditanamkan baik pada hewan liar maupun
peliharaan dan semakin banyak pada manusia.6
Menurut Los Angeles Times, keping mikro kini diselipkan ke dalam tubuh
penderita Alzheimer dan penderita kondisi medis lain yang berisikan catatan
kesehatan serta data pribadi dan membuat orang “bisa dipindai seperti halnya
sebotol selai kacang di meja kasir pasar swalayan”.7 Mereka bisa membuat kita menjadi obyek, mudah dilacak dan dikendalikan
bagaikan sapi-sapi yang dibiakkan8 dan sapi-sapi perah berkeping
mikro yang kita gunakan sebagai makanan.
Pada tingkat yang lebih dalam, sains reduksionis memperbudak kita dengan hanya
mengesahkan pengetahuan yang didasarkan atas logika positivisme dan asas
keterpisahan antara diri kita dan dunia. Meskipun ada sedikit orang yang
mempopulerkan sains dan muncul di publik untuk menjadi lebih maju, holistis, dan
bahkan spiritual, orang-orang ini umumnya ditolak oleh maskapai ilmiah besar
yang didirikan di atas prinsip pembagian, reduksi, dan analisa yang diwarisi
dari induknya, yaitu budaya penggembalaan.9 Musuhnya adalah musuh budaya penggembalaan, yaitu prinsip feminin yang
ada di dalam diri kita semua dan menjelma sebagai pemahaman pada tingkat yang
lebih tinggi daripada rasionalitas keterpisahan yang diandalkan oleh sains
reduksionis. Pada taraf di mana sains dipisahkan dari kebijaksanaan intuisi dan
prinsip feminin yang berwelas asih, menyembuhkan, dan saling berkaitan, sains
cenderung untuk mempromosikan kekejaman, pengrusakan, dan kematian.
Menciptakan sains yang benar-benar melayani kita dan bukannya membahayakan,
membingungkan, serta mengendalikan kita dibutuhkan pergeseran mendasar dari
orientasi kita untuk menjauhkan diri dari mentalitas reduktif konvensional yang
memandang materi fisik sebagai hal utama dan kesadaran sebagai hal yang hanya
muncul darinya. Ketika seiring peradaban kita berhenti memandang makhluk-makhluk
lain sebagai objek benda mati dan melainkan sebagai subyek yang sadar atas
kehidupan mereka, maka secara alami kita akan menciptakan sains yang lebih
berbudaya berdasarkan keunggulan dari kesadaran dan saling keterkaitan antara
makhluk-makhluk hidup. Ini mulai terlihat dalam karya dan tulisan-tulisan dari
peneliti dan teoretikus seperti Rupert Sheldrake dengan idenya tentang medan
morfogenesis, serta Robert Jahn, Elizabeth Targ, Amit Goswami, Fred Alan Wolf,
Vandana Shiva, Larry Dossey, Herbert Benson, Deepak Chopra, Fritjof Capra, dan
lainnya yang mencoba membalikkan mentalitas reduksionis dari lingkupan sains.
Beberapa dari mereka meneliti peran pemikiran, maksud, perasaan, dan doa untuk
penyembuhan, dan ada yang bekerja untuk menerangkan saling keterkaitan sistemis
dan kekuatan kesadaran yang esensial dalam menentukan pengalaman manusia akan
realitas fisik.10 Tidaklah mengherankan bahwa para peneliti ini seperti Schweitzer,
Einstein dan yang lainnya cenderung untuk meragukan cara pandang dan perlakuan
budaya kita terhadap hewan-hewan. Pendekatan yang memberdayakan terhadap sains
ini juga dapat terlihat pada orang-orang yang berkarya pada tingkat awam dengan
ide ajaran Gandhi mengenai teknologi yang layak: mengembangkan dan memakai
teknologi yang kooperatif dan berkelanjutan dan tidak memperbudak komunitas
dalam hal keuangan atau politik demi industri minyak, pertanian, kimia berskala
besar atau kepentingan-kepentingan lain. Agar pendekatan menyeluruh terhadap
sains ini bisa mengena dan diterima secara luas, budaya kita harus berevolusi
melampaui kebiasaan makan kita saat ini dan melampaui definisi mentalitas
penggembalaan yang secara tak terhindarkan membina suatu sains reduksionisme
yang dangkal serta “perkiraan dan pengendalian” yang eksploitatif.
Para ilmuwan rasionalis Nazi menggarap senjata pemusnah massal dan perbudakan
massal, sama seperti yang dilakukan oleh pasukan ilmuwan masa kini: bukankah
kita bisa melihat bahwa proyek mereka itu tidak hanya gila, tetapi juga cara
berpikir yang mendasari proyek ini adalah jahat? Hal itu hanya bisa ditoleransi
di dalam suatu budaya seperti budaya kita, di mana masyarakat benar-benar
melakukan praktik keterpisahan dan kekejaman seperti itu di setiap hari. Sampai
saatnya kita berhenti dalam menurunkan derajat hewan menjadi obyek makanan,
sains reduksionis akan tumbuh lebih kuat dan lebih mematikan karena pada
akhirnya itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Keseluruhan dunia luar
adalah cerminan dari realitas batin kita, dan perang serta penderitaan di dunia
akan berhenti saat kita melenyapkan perang dan penderitaan itu sendiri di dalam
diri kita, orientasi mental kita, dan di kehidupan kita sehari-hari. Orientasi
mental keterpisahan dan reduksi yang mendasari metode ilmiah konvensional di
mana kita semua sudah dijenuhkan sejak kanak-kanak, terus berkobar di dalam
budaya makan kita, hidup di dalam sikap budaya kita, dan terwujud di dalam
cerminan dunia kita sebagai penderitaan dan pergulatan yang kita alami dan yang
kita timpakan kepada pihak lain.
Reduksionisme Agama
Agama konvensional Barat, seperti halnya pada sains Barat, ia berevolusi dalam
lingkungan reduksi yang sama dan menggunakan hewan-hewan dalam jumlah besar
serta cenderung menjadi reduksionis dengan cara yang sama dalam orientasi
intinya. Misteri Ilahi yang tak terbatas pada umumnya direduksi menjadi suatu
sosok otoritas yang menghakimi dan sering dijabarkan dengan berdasarkan
ciri-ciri dan sifat manusia; manusia direduksi menjadi entitas fana yang
berpusat pada diri sendiri dan terpisah dimana bisa dipilih atau diselamatkan
atau dikutuk ke dalam keabadian neraka atau surga dengan berdasarkan satu masa
kehidupan yang berlalu dengan cepat; dan hewan-hewan, pohon-pohon, ekosistem,
serta semua alam direduksi hanya untuk menjadi pendukung yang bisa dibuang ke
dalam drama ini. Seperti halnya sains, lembaga agama telah cenderung untuk
memperkuat dominasi terhadap hewan, wanita, dan alam serta untuk melestarikan
kepentingan kelompok kecil penguasa yang terpandang. Seperti halnya sains,
lembaga tersebut cenderung menjadi hierarkis, patriarkat, dan eksklusif, dan
seperti halnya sains, lembaga itu memberitahukan kita agar tidak mengandalkan
kebijaksanaan batin kita sendiri, melainkan mengandalkan kekuasaan luar. Seperti
halnya sains reduksionis, yang bersikeras pada pemisahan obyektif antara diri
dan dunia, agama konvensional Barat bersikeras pada dualisme utama dari Pencipta
dan ciptaan, Tuhan dan dunia. Semua keyakinan akan suatu keterpisahan mendasar
antara kita dan yang Ilahi, telah memperkuat ilusi keterpisahan yang juga
disebarkan oleh sains reduksionis.
Sungguh mengherankan dan instruktif bahwa sementara sains dan agama konvensional
berdebat tiada henti — saudara-saudara yang
bertengkar itu sama-sama menganut mitologi reduksionis — sains holistis telah menemukan panduan yang memberi
ilham dan berguna serta penegasan dari tradisi agama yang progresif dan
non-Barat seperti teologi pembebasan dan banyak tradisi pribumi, juga tradisi
Timur seperti Taoisme, Buddhisme Mahayana, Sikhisme, dan Vedanta.
Tradisi-tradisi agama ini cenderung telah berevolusi dalam budaya dan sub-budaya
di mana hewan-hewan tidak direduksi secara sistematis menjadi komoditas.
Khayalan reduksionis atas keterpisahan mendasar sangat diritualisasikan di dalam
hidangan kita sehari-hari sehingga secara tak terhindarkan memaksakan dirinya ke
dalam kehidupan agama kita. Kita sering diberitahukan saat kanak-kanak bahwa
kita akan dikucilkan dari surga kecuali jika kita menyetujui seperangkat
kepercayaan yang eksklusif! Ajaran-ajaran agama utama pada umumnya
memberitahukan bahwa kita akan menjadi istimewa jika kita menyetujui suatu
kepercayaan yang eksklusif. Mereka jarang meragukan pilihan makanan kita yang
kejam melainkan mendorong hal itu dengan menyatakan bahwa hewan-hewan tidak
memiliki jiwa dan bahwa Tuhan memberikan hewan-hewan kepada kita untuk dimakan — dan mereka bahkan mensponsori barbekyu, babi
panggang, ikan goreng, dan ayam kalkun untuk makan malam dalam komunitas
masyarakat di berbagai penjuru Amerika. Belum terlalu lama berselang, ketika
kaisar Constantine pada abad ke-4 membuat agama Kristen sebagai agama negara
Romawi yang menekankan tentang prinsip vegetarian, namun sepenuhnya ditindas dan
nyatanya malah dianggap menentang dogma, dan menurut laporan, Constantine malah
memerintahkan orang-orangnya untuk menuangkan lelehan timah ke dalam
kerongkongan umat Kristen yang menolak makan daging hewan.11
Ajaran Kristen asli mengenai pengampunan harus ditindas dan diputarbalikkan agar
diterima oleh budaya penggembalaan yang dominan, dan ajaran mencerahkan mengenai
Ia yang hidup dengan pedang harus mati oleh pedang menjadi suatu ironi
yang pahit.
Dengan menafsirkan sifat keilahian yang transenden sebagai sifat maskulin, agama
konvensional mendewakan sifat maskulin dengan cara yang sama seperti yang
dilakukan sains, dan menekan sifat feminin, yang memelihara dan menghubungkan.
Bahkan saat ini, ketika pada hakikatnya tidak ada teolog yang berani berdebat
bahwa Roh tanpa batas yang disebut dengan kata Tuhan bisa dikatakan lebih
tergolong pria daripada wanita, kita masih mengajar anak-anak kita sebagaimana
yang diajarkan kepada kita, bahwa Ia (pria) adalah Tuhan. Di dalam budaya
penggembalaan kuno, kaum prialah yang berperang, menggembala ternak, dan
memerkosa, dan pada dasarnya sama dengan saat ini. Dengan menekankan sifat
maskulin dari Tuhan, budaya penggembalaan mengabsahkan etos mereka tentang
dominasi, kekejaman, dan pembunuhan. Faktanya, seperti yang ditunjukkan oleh J.
R. Hyland, bentuk pemujaan utama di dalam budaya penggembalaan kuno adalah
membunuh hewan korban untuk menyenangkan para dewa.12
Yang ditekankan dalam ini semua adalah gagasan mendasar bahwa “Tuhan adalah
gembalaku”—suatu ide yang mengerikan saat kita
renungkan bahwa kenyataan dari budaya penggembalaan adalah menyebarkan ajaran
ini. Sang penggembala memperbudak, mengebiri, dan membunuh domba, kambing dan
sapi miliknya dengan tiada ampun, dan makhluk-makhluk ini, sebagaimana mereka
sekarang, tidak berdaya di dalam tangannya yang maha berkuasa.
Keinginan besar untuk “diselamatkan” mungkin diturunkan langsung dari hal ini.
Kegagalan kita yang terus-menerus untuk menyelamatkan hewan-hewan dengan
kemurahan hati kita mungkin mendorong kita kepada kekhawatiran yang
menggelisahkan atas “penyelamatan” diri kita sendiri. Penyelamatan dari apakah,
tepatnya? Mungkin dari konsekuensi atas tindakan kita? Atau secara lebih
tradisional, dari kutukan ke dalam api neraka? Dari manakah datangnya kekuatan
bayangan ini? Mungkinkah hal itu berkaitan dengan para gembala yang selama
berabad-abad memandang melalui api pada tubuh-tubuh hewan yang hangus dan yang
telah mereka kutuk dan bunuh sebagai persembahan korban, dan yang akan mereka
makan?
Mitos Tentang Setan
Pandangan mendasar yang dipromosikan oleh agama konvensional Barat adalah
pertarungan tiada akhir antara kebaikan dan kejahatan, di mana Tuhan sebagai
dewa penghuni langit di satu sisi dan Setan sebagai makhluk gelap, yang penuh
kejahatan, dan buas pada di sisi lainnya. Setan ini secara ironis digambarkan
memiliki tanduk dan kuku kambing atau sapi—korban
yang tak henti-hentinya kita kurung dan serang sebagai makanan! Setan atau iblis
ini tentu saja, setidaknya pada satu tingkat, adalah proyeksi dari bayangan kita
sendiri—perasaan bersalah, malu, dan kesedihan tak terungkap yang kita tanggung
atas keterlibatan kita sebagai pemakan hewan dalam kekejaman yang luar biasa dan
terus berlangsung di dalam rumah tangga budaya penggembalaan. Kita menindas
kesadaran atas kekejaman kita dan sebagai akibatnya kita menemukan diri kita
sendiri dihantui oleh makhluk gelap dan menakutkan. Ini tidak bisa dihindari,
sebab setan yang kita lihat adalah kekejaman kita sendiri yang kita sangkal,
sehingga kita tidak bisa menjauhkan diri darinya. Hal itu muncul sebagai setan,
musuh, perang, dan senjata pemusnahan massal. Kita diberitahukan bahwa kita
harus memihak kepada raja gembala kita, yang melindungi kita dan juga yang
menguasai kita dalam perang terhadap sang musuh. Hewan-hewan dan bumi, yang
terbaik, hanyalah dianggap sebagai milik dan panggung bagi pertempuran kosmis
ini; yang terburuk, hewan-hewan dan bumi (dan para wanita, serta kaum minoritas)
dipandang sebagai bagian dari kegelapan, setan yang gelap dan oleh karena itu
pantas “ditundukkan”.
Perasaan yang menghantui bahwa kita pada dasarnya jahat, adalah salah satu ciri
khas budaya Barat kita, dimana telah menjadi kepercayaan aliran utama yang
disebarkan oleh lembaga agama. Meskipun hal itu tidak perlu, dan ada banyak
bagian di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru maupun Lama yang menyangkal hal itu.
Matthew Fox berpendapat, contohnya, di dalam Original Blessing (Berkah
Asal), bahwa doktrin dosa asal—bahwa kita secara
alami bersifat jahat dan bejat—tidaklah didasarkan pada inti ajaran Yesus maupun
pengalaman dan tulisan dari banyak para suci serta ahli-ahli mistis Kristen dan
Yahudi yang terkenal dan tercerahkan.13
Orang-orang ini telah menemukan arti kebaikan mendasar dari kehidupan dan sifat
manusia serta “berkah asal” di dalam inti ciptaan sebagai perayaan dan evolusi
kesadaran yang terus berlanjut.
Dalam tradisi agama Timur, yang cenderung mencegah konsumsi daging dan
penggembalaan ternak, menjadi agak kurang dualistis bila dibanding dengan
tradisi Barat kita, orientasi positif ini pada dasarnya telah didirikan dengan
baik. Dalam Budhisme, misalnya, salah satu ajaran intinya adalah semua makhluk
hidup memiliki “hakikat-Buddha”, artinya semua makhluk adalah ekspresi dari
kesadaran yang tercerahkan secara sempurna dan dapat menyadari hal ini secara
langsung melalui pertumbuhan dan pemahaman rohani. Kebaikan mendasar ini
dipandang sebagai sifat sejati kita dan merupakan fondasi dari latihan rohani
kita. Banyak elemen yang semakin progresif dalam tradisi agama Barat juga
mengakui hakikat manusia, dan semua hakikat adalah refleksi dari kasih Ilahi,
dan pada intinya adalah baik. Jalur rohani kita mencakup kontak dengan cahaya
batin ini dan memurnikan diri kita untuk menjadi bejana bercahaya bagi
keberadaannya yang cemerlang.
Gagasan bahwa kita pada dasarnya jahat adalah
bertentangan sepenuhnya dengan gagasan universal tentang kebaikan asal diri
kita, karena praktik buruk kita dalam mengurung dan membunuh hewan-hewan adalah
bertentangan dengan sifat baik bawaan kita. Kita dilahirkan di dalam budaya
menggembala yang memikul segudang besar perasaan bersalah yang tersembunyi atas
kekejaman buas yang ia timpakan terhadap hewan-hewan untuk makanan, atas
kekejaman dan kekerasan tabiat putranya, dan atas kekejaman yang ia sebar
luaskan terhadap kaum wanita serta para penggembala saingan dan bangsa-bangsa.
Kekejaman sistematis dan penindasan penuh rasa penyesalan ini secara alami
muncul seiring ia menjadi asal kepercayaan budaya kita bahwa orang-orang secara
turun menurun adalah jahat. Perasaan bersalah, ketakutan, dan kegelisahan
mendalam yang muncul dari hal ini tanpa disadari telah mempengaruhi kita semua
dan menyebabkan banyak masalah bagi kita, secara fisik, mental, dan spiritual.
Karenanya, saat ini kita bisa temukan ada semakin banyak gerakan yang mendesak
kebebasan dari kesalahan dan penghakiman. Kita mengakui bahwa rasa bersalah
kronis itu melumpuhkan kita, menghabiskan energi kita, dan membuat diri kita
tetap terperangkap dalam pola-pola lama, dan dapatlah dipahami bila kita ingin
terbebas dari hal itu—tetapi kita tidak
melihat bahwa sumbernya adalah kekejaman yang terus-menerus berlanjut dari
makanan sehari-hari kita. Itulah pikiran dan perilaku yang telah menghasilkan
hal-hal tersebut.
Jadi kita bisa melihat bahwa betapa sulit untuk menunjukkan dan mengurangi
penderitaan yang ditimpakan kepada hewan melalui pembedahan hidup-hidup, rodeo,
sirkus, perburuan hewan, arena pertarungan anjing, dan seterusnya, karena
sebagai suatu kebudayaan kita masih mengonsumsi mereka. Upaya tiada henti dalam
mengurangi hewan untuk makanan secara alami akan meluas mencakup pengurangan
penganiayaan hewan yang bukan untuk makanan—namun itu tidak hanya berhenti
sampai di sana saja, pada batas hewan-hewan. Itulah sebabnya “kebiadaban manusia
terhadap manusia” adalah bersumber dari kebiadaban manusia terhadap hewan.
Agama konvensional, seperti halnya sains, secara akurat merefleksikan trauma
psikologis dari budaya menggembala yang melahirkannya dan yang masih
mempertahankannya. Segala sesuatu dibenarkan oleh mitologi kehidupan kebudayaan.
Seperti ditunjukkan oleh Joseph Campbell dalam
“Topeng Tuhan (The Masks of God)”, kebudayaan yang bergantung pada daging
hewan akan membuat mereka berada di seputar kematian karena “obyek pengalaman
terpenting adalah hewan-hewan, yang dibunuh dan dibantai...”14
Inilah kenyataan dari kebudayaan kita saat ini, dan kematian dari jutaan hewan
yang dibantai setiap hari telah bersuara melalui semua institusi agama kita,
yang kini menciptakan mitos untuk membenarkannya seperti yang mereka lakukan di
bukit gersang lembah sungai Mediterania pada tiga ribu tahun yang lalu.
Kebudayaan berbasis nabati yang ditunjukkan Campbell, memberikan harapan
kehidupan. Dunia tumbuhan menyediakan “makanan, pakaian, dan naungan bagi
orang-orang sejak zaman dulu kala, tapi juga teladan bagi kita tentang keajaiban
kehidupan—dalam siklus pertumbuhan dan pelapukannya, mekar dan berbenih, di mana
kematian dan kehidupan muncul sebagai transformasi dari suatu kekuatan tunggal,
yang lebih tinggi dan tidak dapat dihancurkan.”15 Revolusi sangat
dibutuhkan saat ini, jika kita ingin bertahan hidup, karenanya harus ada
transformasi dalam orientasi dasar budaya menggembala dimana kita terlahir di
dalamnya: dari mitos kematian dan reduksionisme ke mitos kehidupan dan holisme.
Transformasi sains, agama, dan ekonomi, yang melepaskan mereka dari
reduksionisme usang dan mengorientasikan mereka untuk memajukan dan merayakan
cinta kasih universal dan keterkaitan dari semua makhluk, adalah memungkinkan
jika kita mengubah kebiasaan makan kita sehari-hari dan mentalitas keterpisahan
yang mereka wajibkan. Walaupun kita adalah produk dari budaya penggembalaan,
kita dapat memperbaiki diri kita dan hal itu pemahaman. Pemahaman ini memerlukan
perubahan dalam perilaku kita karena perilaku kita dengan kuat membentuk
kesadaran kita. Sains, agama, dan ekonomi holisme, kebaikan, kelestarian, dan
komunitas dimulai dengan hal ini.
Jika kita dapat membina kesadaran dan mempertanyakan orientasi kematian yang
menatap dari piring kita, maka kita akan ciptakan medan kebebasan dan cinta
kasih, dan seiring kita beralih ke makanan nabati, kita akan menjadi agen
kehidupan, bernapas dengan semangat baru yang melindungi dan meliputi dunia
kita. Dengan memberkahi hewan-hewan yang berada dalam kekuasaan kita, ini akan
memberkahi diri kita seratus kali lipat. Inilah transformasi radikal secara
menyeluruh, sebagaimana tersirat dalam pepatah radikal, sumber esensial dari
dilema berat kita adalah komodifikasi hewan-hewan untuk makanan.
Referensi
1. Vandana Shiva, interviewed in
A Cow at My Table,
produced by Jennifer Abbott, VHS, 1998.
2. For further information, see www.soaw.org.
3. Henryk Skolimowski, “Life, Entropy, and Education,”
The American Theosophist,
October 1986, p. 306.
4. Carolyn Merchant,
The Death of Nature
(New York: Harper & Row, 1980).
5. See, for example, Rauni Kilde, M.D., “Microchip Implants, Mind Control &
Cybernetics,”
Spekula,
3rd Quarter 1999. See http://www.mindcontrolforums.com-/implants-kilde.htm.
Besides microchip implants, the U.S. government is developing Pulsed Energy
Projectiles (PEPs) that “cause excruciating pain from up to two kilometers
away.” See David Hambling, “Maximum Pain Is Aim of New U.S. Weapon,”
New Scientist,
March 5, 2005. These devices are tested extensively on animals.
6. David Streitfeld, “First Humans to Receive ID Chips,”
Los Angeles Times,
May 9, 2002, p. A-1. See also Will Weissert, “Chip Implanted in Mexico Judicial
Workers,” Associated Press, July 14, 2004.
7. Ibid.
8. “Swine Producer Protein Sources LLP Implements Digital Angel’s PigSMART
System for Improved Herd Management and Data Collection,” PR Newswire, June 8,
2004.
9. For example, Lynn McTaggart,
The Field: The Quest for the Secret Force of the Universe
(New York: HarperCollins, 2002), p. 227.
10. See, for example, McTaggart,
The Field,
for a recent documentation of the work being done by holistically oriented
scientists.
11. Steven Rosen,
Diet for Transcendence
(Badger, CA: Torchlight, 1997), p. 23.
12. J. R. Hyland,
God’s Covenant with Animals: A Biblical Basis for the Humane Treatment of All
Creatures
(New York: Lantern Books, 2000).
13. Matthew Fox,
Original Blessing
(New York: Tarcher/Putnam, 1983/2000).
14. Joseph Campbell,
The Masks of God,
Volume 1 (New York: Penguin, 1978), p. 77.
15. Ibid., p. 129.
|
|