|
bab tiga
SIFAT KECERDASAN
“Seharusnya tidak dipercayai bahwa semua makhluk ada demi
keberadaan manusia. Sebaliknya, semua makhluk hidup lainnya juga telah
direncanakan untuk kepentingan mereka sendiri dan bukan demi yang lainnya.”
—Maimonides
“Jika seseorang melihat dengan mata dingin pada kerusakan
yang dibuat oleh manusia sepanjang sejarah, sulit untuk menghindari kesimpulan
bahwa dia telah menderita sejenis penyakit mental bawaan yang mengarahkannya
menuju perusakan diri sendiri.”
—Arthur Koestler
Tentang Larangan berlawanan Mengetahui Apa yang Anda Makan
Penindasan kesadaran diperlukan oleh praktik universal
menjadikan hewan sebagai komoditi, memperbudak dan membunuh hewan untuk makanan
menyebabkan “penyakit mental bawaan” yang mengarahkan kita pada kerusakan bukan
hanya pada diri kita sendiri tetapi pada makhluk hidup lainnya dan sistim-sistim
bumi ini. Karena praktik memanfaatkan dan membuka kekejaman hewan untuk makanan
telah sampai pada diperlakukan sebagai normal, alami, dan tidak dapat
dihindarkan, ia telah menjadi tidak terlihat. Meskipun ini dasar, ia berlanjut
menjadi hampir diabaikan dalam ceramah umum yang dilakukan terus-menerus tentang
mengapa kita memiliki masalah-masalah yang kita miliki dan bagaimana kita dapat
menyelesaikannya. Kekurangan kesadaran ini adalah tragis. dalam perasaan klasik.
Itu sungguh-sungguh diperoleh dari kenyataan bahwa para penulis, pembicara, ,
peneliti, ahli theologi, dokter, politisi, pengusaha, ekonom, dan mereka yang
berada dalam posisi kepemimpinan dan pengaruh, seperti mereka yang tidak, semua
secara teratur makan makanan diperoleh dari kekejaman hewan yang diperlakukan
dengan kejam dan akan lebih suka secara bersama mengabaikan akibat-akibat yang
mengganggu atas perilaku ini.
Budaya kita mendorong kita semua menjadi omnivora.”Makan
segalanya”, telah menjadi suatu keterangan yang tepat atas budaya kita dimana ia
memakan dan membinasakan ekosistim global. Ini ironisnya benar pada tingkat
individu juga. Karena industrialisasi produksi makanan, kita makan produk-produk
yang diberi warna buatan, rasa buatan, diperhalus, diproses, diradiasi,
dirancang, dan dimuat bahan kimia yang menegaskan kita akan makan hampir apapun
dan segalanya. Kita dengan kejam ditekan oleh perusahaan periklanan untuk
menelan apapun, dan terima kasih pada kemampuan kita yang terlatih dengan baik
untuk mengisolasi kesadaran kita dari kengerian yang secara teratur kita
konsumsi selama kita makan, itu mudah bagi kita dengan cara yang sama
menghalangi kesadaran kita tentang pengawet dan residu kimia beracun dalam
makanan kita. Kita bahkan boleh membanggakan diri kita sendiri tentang tidak
menjadi pemilih tentang apa yang kita makan. Disamping menuju keuntungan yang
dapat diandalkan untuk industri-industri pengobatan dan farmasi, ini secara
mental menuju pada pencintaan bersama kita atas budaya yaitu “omnivorasius.” Itu
kelaparan selera makan besar sekali untuk mengkonsumsi hampir semuanya,
menjelmakan keindahan dan keaneka ragaman alam menjadi perkakas, mainan, dan
makanan yang kita idamkan dan itu tidak pernah memuaskan kelaparan batin kita
tetapi menuju kepastian yang tak terelakkan menuju kebingungan, ketagihan,
frustasi, dan pengrusakan lingkungan. Hewan-hewan, mudah diserang, menanggung
beban kelaparan kita yang rakus. Penderitaan mereka
kembali, pada akhirnya, kepada kita juga.
Makan hewan dengan demikian suatu dasar perlindungan konsumen
yang tak dikenali, agama gadungan dari dunia modern kita. Perlindungan konsumen
hanya dapat tumbuh dengan subur ketika kita merasa terlepas dan rindu
menentramkan ini dengan mengkonsunsi, yaitu usaha melengkungkan menghubungkan
kembali dengan urutan yang lebih besar. Karena perbedaan terhadap kekejaman kita
yang terbesar melibatkan makan— tindakan mengkonsumsi kita yang paling suci,
penting, dan melukiskan—kita tak bisa diacuhkan menjadi konsumen yang berbeda
terhadap kekejaman dengan bertambahnya selera makan yang besar sekali. Dengan
mengomoditaskan hewan-hewan, kita ironisnya dan tidak dapat dihindari membangun
sistim yang akhirnya menjadikan kita sebagai komoditi juga.
Harga jaringan kita diukur dalam dolar, seperti sapi-sapi
yang dijual dengan ukuran pon.
Karena hakekatnya hampir kita semua adalah omnivora,
kekejaman kita tidak terlihat dan tidak dapat disebutkan, seperti rahasia
keluarga yang sangat besar. John Bradshaw, Virginia Satir, dan yang lainnya yang
telah berusaha menerangi reaksi psikologi dari keluarga-keluarga yang tidak
berfungsi baik selama lebih dari dua puluh lima tahun terakhir telah menekankan
bahwa semakin keluarga itu tidak berfungsi dengan baik, semakin banyak rahasia
yang dimilikinya.1 Rahasia adalah perilaku kecanduan dan kejam yang
berlangsung terus-menerus yang tidak pernah didiskusikan. Penyiksaan anak,
penyiksaan seksual, kecanduan narkoba, dan alkoholisme telah menjadi
rahasia-rahasia budaya, untuk disembuhkan, harus dibawa ke dalam cahaya, secara
penuh diakui, lalu bekerja melalui diskusi terbuka. Dalam keluarga-keluarga yang
tidak berfungsi dengan baik, rahasia-rahasia dan bayangan-bayangan tetap dikubur
dan dengan penuh rasa sakit belum dipecahkan, dinyatakan seperti malu, perilaku
bunuh diri, penyerangan, kekerasan, emosional yang berjauhan, dan psikologis
yang mati rasa. Rahasia terbesar dari keluarga yang memiliki budaya yang tidak
berfungsi dengan baik, menjadi omnivora dan demikian terlibat sebagai pelaku
dari penyiksaan, kita tidak ingin membicarakannya. Usaha-usaha kita untuk
memahami keluarga yang tidak berfungsi dengan baik demikian dapat meningkatkan
kesadaran hanya sampai pada tingkat tertentu. Usaha-usaha ini sangat penting,
meskipun, karena mereka bagian dari kerja perdahuluan yang diperlukan untuk
menghadapi bayangan rahasia yang lebih besar, lebih dalam, lebih mendasar, dan
lebih menghancurkan: keras hati dan penyiksaan tersembunyi kita terhadap
hewan-hewan untuk makanan.
Penyesalan yang mendalam dan kesedihan yang kita tahan
tentang kengerian yang secara rutin dan efisien kita berikan pada hewan-hewan
untuk memakan mereka adalah alami dan sehat. Orang-orang yang membunuh atau
menyiksa yang lainnya tanpa penyesalan yang mendalam mengejutkan kita, dan kita
mengunci mereka sebagai dan penderita gangguan pribadi dan penderita sakit
jiwa. Tapi kita masih menyiksa dan membunuh hewan-hewan yang merasa sakit dan
takut sama seperti kita, dan meskipun kita mencoba untuk mengacuhkan dan
memotong penderitaan mereka pada tangan kita, kita tahu, di dasar hati, bahwa
itu tidak perlu, menakutkan dan jahat.
Ada pepatah Jerman, Übung macht den
Meister: berlatih membuat ahli. Jika kita berlatih
golf dan tenis, kita menjadi cakap pada golf dan tenis, dan golf dan tenis
menjadi bagian dari kita dan bagian dari cara sifat kita. Jika kita berlatih,
seni, drama, atau seni bela diri, kita menjadi cakap dalam bidang ini, dan
mereka mempengaruhi kita dan menjadi bagian dari cara sifat kita. Jika kita
berlatih kedermawanan, kebaikan, dan penuh perhatian, kita menjadi cakap untuk
lebih dermawan, baik, dan perhatian terhadap yang lainnya., dan
kualitas-kualitas ini menjadi bagian dari cara sifat kita. Jika kita berlatih
membunuh, berbohong dan mencuri, kita menjadi mahir dengan membunuh, berbohong,
dan mencuri, dan kegiatan-kegiatan ini menjadi bagian kita dan bagian cara sifat
kita. Dengan secara kejam dan tekun berlatih kemampuan memutuskan kenyataan akan
daging, keju, atau telur di piring kita dari kenyataan atas kesengsaraan
perasaan yang dipikul untuk menyediakannya, kita telah menjadi ahli pada
mengurangi perasaan menjadi obyek-obyek belaka, pada perkakas, pada cara-cara,
pada properti. Kita telah menjadi cakap pada menjadi mati rasa dan memutuskan,
dengan tidak merasakan simpati bagi penderitaan yang kita minta oleh keinginan
kita untuk makan makanan dari hewan. Kita telah menjadi ahli akan penyangkalan,
sama sekali menolak untuk mendaftar dalam kesadaran akibat-akibat
tindakan-tindakan kita. Penyangkalan ini menjadi sejenis kelumpuhan yang
menghalangi tindakan yang efektif dan inovatif. Berlatih sejak usia bayi, ritual
harian kita tentang makan telah membuat kita sangat cakap dalam seni menjadikan
obyek yang lainnya. Ini adalah tragedi yang sangat besar dan kita sulit
mengijinkan kita sendiri menjadi sadar karenanya.
Di dalam gereja-gereja kita, para pendeta sering berbicara
tentang tragedi dari mengasihi benda-benda dan menggunakan orang, ketika kita
harus malahan mengasihi manusia dan menggunakan benda-benda. Setelah kebaktian,
orang-orang makan makanan dimana hewan-hewan telah menjadi benda-benda untuk
digunakan, bukan dicintai. Tindakan ini, secara ritual diulang, mendorong kita
menjadi menggunakan orang sama seperti kita menggunakan hewan-hewan—sebagai
benda. Kita semua tahu dalam tulang kita bahwa
hewan-hewan lainnya merasakan dan menderita seperti kita. Jika kita menggunakan
mereka sebagai benda-benda, kita tidak bisa diacuhkan akan menggunakan manusia
lainnya sebagai benda-benda. Ini adalah prinsip universal
bukan perseorangan, dan mengabaikannya tidak membuatnya pergi. Ia beroperasi
dengan sifat beraturan matematika seperti Pythagoras mengajar: apa yang kita
tabur dalam perlakuan kita terhadap hewan-hewan, kita pada akhirnya menuai dalam
kehidupan kita. Karena ini adalah pantangan untuk berkata ini atau membuat
hubungan mendasar ini dalam budaya penggembalaan kita, kita dapat pergi ke
gereja yakin bahwa kita tidak akan menghadapi permohonan mendesak yang tidak
menyenangkan utk mencintai semua makhluk hidup dan untuk tidak menggunakan
mereka sebagai benda-benda.
Pantangan ini terhadap
pembicaraan mengenai perlakukan kita terhadap hewan atas makanan sangat kuat
dimana saya selalu merasakannya sebagai suatu kekuatan hidup. Selama beberapa
tahun saya telah berbicara pada setiap minggu pagi di gereja-gereja dan
center-center setahap demi setahap, terutama gereja Persatuan dan memberikan
seminar mengenai pengembangan intuisi. Saya menemukan dalam berbicara dalam
kelompok orang-orang yang kelihatannya progresif dimana sewaktu saya mulai
mengangkat topik mengenai kekejaman yang melekat terhadap hewan-hewan melibatkan
memandang mereka sebagai alat-alat, dan cabang susila dan rohaniah dari praktik
kebudayaan kita dengan memakan mereka, kelihatannya saya harus mendobrak suatu
dinding batin yang tidak kelihatan yang memang menolak mendengarkan ide-ide ini
berbicara. Kelihatannya seperti penolakan kolektif bawah sadar dari suatu
kelompok.
Ini ironis, karena gerakan
Persatuan dari dua pendiri, Charles dan Myrtle Fillmore, adalah vegetarian etis
yang mencela kekejaman yang tak perlu pada hewan yang terlibat memandang mereka
sebagai komoditi, dan yang berbicara menentang pemakaian Alkitab berjilid
kulit,memakai bulu, membedah hewan, atau dalam segala cara mencelakakan “saudara
dan saudari kecil kita dari dunia hewan.” Mereka sangat mendorong orang-orang
menjauhkan diri dari memakan makanan dari hewan. Charles pernah banyak sekali
menulis mengenai subyek ini, sebagai contoh di tahun 1915, ”Maka itu, dalam
cahaya kebenaran Tuhan adalah cinta kasih, dan Yesus datang untuk mewujudkan
cinta kasihnya di dunia ini, kita tidak bisa percaya adalah kehendaknya untuk
orang-orang memakan daging, atau melakukan apa saja yang bisa menyebabkan
penderitaan kepada yang tidak bersalah dan tidak berdaya.”2 Di tahun
1920, dia pernah menulis, ”Kita tidak bisa mencari perdamaian dunia di bumi ini
sampai manusia berhenti memakan hewan-hewan.”3 Bersama-sama, Charles
dan Myrtle memulai Restoran Vegetarian Persatuan di luar Kansas City,
menulis,”Ide dan tujuan dari Restoran Persatuan adalah menunjukan bahwa manusia
bisa hidup, dan hidup dengan baik, dengan diet tanpa daging.”4 Hari
ini, tujuh puluh tahun kemudian, kita menemukan makanan dari hewan kini berada
di menu, dan vegan etis dimana pendiri-pendiri dari Persatuan ini memasukkan
dalam struktur ajaran mereka telah dikekang dan pada hakekatnya dilupakan.
Apa yang terjadi dengan
Persatuan bukan merupakan kasus yang diisolirkan. Kita tahu bahwa Buddha
mengajari welas asih terhadap hewan-hewan dan seorang vegan etis yang makanannya
berbasis tanaman, dan masih banyak orang dewasa ini memnaggil mereka sendiri
pengikut Buddha dan memakan makanan dari hewan. Suatu argumen kuat bisa dibuat
bahwa Yesus dan para pengikut awal dia menyebarkan suatu ajaran welas asih yang
serupa terhadap hewan, dan—menurut peneliti Keith Akers dalam The Lost
Religion of Jesus, sebagai contoh—ajaran asli ini dilanggar oleh Paulus dan
kemudian para pengikut yang ada keinginan untuk daging hewan.5
Tampaknya kita memiliki selera untuk memakan hewan-hewan, tetapi tidak ada
selera untuk mendengarkan keadaan yang menyedihkan dari hewan yang kita makan,
atau keadaan yang menyedihkan dari manusia yang menderita dalam berbagai cara
dikarenakan selera kita pada hewan.
Kecerdasan: Kemampuan Untuk
membuat Hubungan
Untuk lebih sepenuhnya
mengerti dampak dari pilihan makanan kita terhadap kesadaran dan budaya kita,
membantu sekali mengerti sifat dari kecerdasan dalam cara paling luas dan dalam
yang kita bisa. Teori sistim menyediakan kerangka kerja yang baik diterima dan
berguna untuk mengerti kecerdasan. Walaupun memakai bahasa ilmiah,
prinsip-pronsip yang menerangkannya sesuai dengan tradisi kebijaksanaan kuno di
dunia ini. Menurut teori sistim, semua sistim pengaturan diri dilihat sebagai
memiliki kecerdasan, dan sistim ini saling berhubungan dengan satu sama lain
dalam cara-cara kompleks yang mengembangkan kehidupan. Sistem-sistem lebih
sederhana, seperti sel-sel, membentuk sistim-sistim kompeks yang lebih besar dan
lebih banyak, seperti sistim organ tubuh, sistim pernafasan, yang membentuk
bahkan sistim lebih besar dan lebih kompleks lagi seperti kayu pohon, itik,
tuna, biri-biri, dan manusia, yang membentuk hutan kecil, kawanan, sekolah,
kawanan, dan desa, yang membentuk hutan, komunitas tepi pantai, ekosistim laut,
padang rumput, dan masyarakat. Sistim ini membentuk sistim yang lebih besar
lagi, seperti planet, ynag merupakan bagian dari bahkan sistim yang lebih besar.
Setiap sistim adalah suatu keseluruhan yang menyumbang pada keseluruhan yang
lebih besar, dan terdiri dari keseluruhan yang lebih kecil.
Dengan sederhana dikatakan,
kecerdasan adalah kemampuan dari sistim apa saja untuk membuat hubungan yang
berarti dan membantu untuk sistim itu dalam hubungannya dengan sistim lain. Ahli
Ekologi, George Bateson, sebagai contoh, menjelaskan pikiran sebagai suatu pola
organisasi yang penting untuk seluruh sistim kehidupan. Pikiran tidak terbatas
pada bentuk kehidupan tertentu, tetapi juga meliputi ekosistim dan alam semesta
sebagai “pola yang menghubungkan” yang saling berhubungan dan terorganisir.6
Teori sistim membenarkan kecerdasan yang jelas yang tersusun di luar kecerdasan
manusia individu dan kecerdasan hewan hingga kecerdasan komunitas, spesis,
ekosistim, bumi, dan di luarnya, dan sebaliknya, hingga kecerdasan organ tubuh,
sel-sel, dan komponen-komponen lebih kecil mereka. Tidak sulit melihat bahwa
kenyataan yang kita ketahui dan alami terbentuk dari keseluruhan yang merupakan
bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan keseluruhan yang lebih besar ini
adalah bagian dari bahkan keseluruhan yang lebih besar lagi. Setiap bagian
berhubungan dengan setiap bagian lain dengan memasukkannya atau dimasukkannya
bersamanya dalam keseluruhan yang lebih besar. Kecerdasan terletak dalam
kemampuan dari setiap bagian keseluruhan untuk menerima umpan balik darinya dan
membuat hubungan dengan seluruh sistim lainnya yang berkaitan dengannya, dan
dengan demikian membuka kekuatan inherennya untuk melayani keseluruhan yang
lebih besar.
Di dalam orkestra, seperti di
dalam komunitas, kecerdasan memperbolehkan individu untuk membuat konstribusi
unik mereka selain menerima umpan balik dari keseluruhan yang lebih besar dan
melayani mereka dalam cara yang berarti, dan sepenuhnya bersangkut paut.
Kegembiraan mekar melalui pengalaman dari keterkaitan kecerdasan - dan
kebahagiaan mungkin saja memang menjadi tujuan akhir dari tarian tanpa batas,
yang selalu mekar dan selalu berubah dari pembentukan yang timbul melalui
sekumpulan sistim alam semesta yang saling berkaitan yang tak terhitung
banyaknya, masing-masing dan setiap sistim termasuk dan termasuk dalam yang tak
terbilang lainnya. Kita bisa melihat bahwa tidak ada makhluk yang akhirnya
terpisah; semuanya saling berkaitan dan semuanya tumbuh dari sistim kecerdasan
yang lebih besar, sampai bagian-bagiannya, yang sangat penting dan memberikan
kehidupan.
Keseluruhan paling besar yang
termasuk tiap atom, tiap sel, setiap makhuk hidup, komunitas, planet, bintang,
galaksi, dan alam semesta adalah, hingga bagiannya, katakan seorang manusia
individu, yang tidak dapat digambarkan, dan berintuisi sebagai ilahi, tak
terbatas, abadi, maha tahu, dan di luar seluruh dualisme. Tidak ada sesuatu
secara harafiah di luar dari keseluruhan terbesar ini, tidak ada “itu” yang
bukan. Bahasa kita secara keseluruhan gagal menggambarkan “itu,” karena dengan
bahasa sangat alaminya membuat obyek dan benda, dan keutuhan terakhir di dalam
semua wujud terletak karena sekumpulan keseluruhan bukan keadaan dalam setiap
artinya-ia berpisah dari kekosongan. Kecerdasan dari keseluruhan alam semesta
inimencakup semua bagian yang jelas hingga yang terkecil, dan kehidupan di dalam
seluruh bagian sebagian kecerdasan mereka. Pemikiran dualistik kita tidak bisa
memahami ini secara langsung, karena ini di luar dari keberadaan atau pengalaman
yang seperti kita ketahui. Kecerdasan alam semesta ini hanya bisa dirasakan
tanpa dualistik, melalui daya penerimaan intuitif dalam keheningan batin yang
tidak ditutupi oleh konsep dan pemikiran yang sudah ada.
Kecerdasan, Telor dan Ayam
Seluruh sekumpulan keseluruhan
ini-sistem, planet, komunitas, manusia, hewan, tanaman, sel-sel, dan
sebagainya-adalah mungkin karena mereka mengambil bagian dari kecerdasan alam
semesta yang beroperasi melalui dan di dalamnya. Kecerdasn ini adalah kemampuan
mereka membuat hubungan yang berarti bagi keberadaan mereka dan itu melayani
tujuan mereka atau telos. Telos dari setiap bagian keseluruhan adalah melayani
keseluruhan yang lebih besar di dalam dimana ada wujudnya, dan kecerdasan
universal yang kita lihat dalam alam adalah perluasan kompleks dari jaringan
keterkaitan dan umpan balik secara tanpa batas. Kecerdasan dari seorang makhluk
tertentu adalah demikian spesifik pada sifatnya sendiri sebagai suatu
keseluruhan yaitu dilayani oleh bagian itu yang membentuknya, dan sebagai suatu
bagian yang melayani keseluruhan yang lebih besar di dalamnya dimana ditanamkan.
Kita bisa melihat bahwa kecerdasan adalah spesifik untuk seluruh sistim
pengaturan diri, dan bahwa semuanya ada suatu teologi unik, atau tujuan, dimana
kecerdasan mereka cocok untuk memenuhi.
Sebagai contoh, kecerdasan
yang memanifestasi sebagai seekor ayam terutama cocok untuk memenuhi tujuan ayam
itu, dan terhadap pemikiran, kecerdasan ini kompleks sekali. Kecerdasan ini
menyertai dan mengatur hubungan ayam dengan keseluruhan yang melayani tujuannya,
yaitu, sel-sel dan sistim di dalam tubuhnya, memperbolehkan untuk pencernaan,
pembuangan, tekanan darah yang baik dan sirkulasi, melihat, mendengar, dan
merespon pada lingkungannya, reproduksi, proteksi sistim kekebalan, pengelolaan
beratus-ratus hormon dan tingkat enzim, dan sebagainya. Kecerdasan yang
memanifestasi sebagai seekor ayam juga melayani hubungannya dengan ayam-ayam
lainnya dan lingkungannya, sewaktu dia mencari makanan, menempatkan dirinya di
dalam susunan kekuasaan dari komunitasnya, terbang ke dahan di malam hari untuk
keselamatan, kawin dengan ayam jantan, membangun sarangnya, melindungi anaknya,
mengajari anaknya cara mencari makanan, dan sebagainya. Kecerdasan ini juga
memperbolehkannya melayani keseluruhan yang lebih besar dalam cara uniknya
sendiri, menyumbang pada keluarganya, kawanannya, dan pada ungkapan tanpa henti
dari spesisnya dengan membesarkan anaknya, mengambil bagian dalam komunitas
ekosistim hutan di Asia Tenggara dimana ayam-ayam berdiam dan berevolusi selama
beribu-ribu tahun, dan menyumbang pada perayaan perkembangan hidup di bumi ini
dan di alam semesta.
Kita bisa dengan mudah melihat
bahwa ada jumlah kecerdasan yang sangat banyak yang ditanam dalam seekor ayam.
Selain itu semua fungsi luar dan kecerdasan yang bisa dijelaskan ini, ada juga
dunia dalam, dunia ayam ini yang subyektif, yang sama-sama mungkin menjadi satu
tujuan penting untuk penanaman kecerdasan alam semesta. Kita mungkin saja tidak
pernah sungguh-sungguh mengetahui keadaan perasaan batin dari menjadi seekor
ayam, tetapi jelas sekali bagi setiap orang yang berada di sekitar ayam-ayam
dimana mereka ada perasaan yang besar sekali. Terasa seperti apa duduk selama
berhari-hari di atas beberapa telor, merawatnya dengan hati-hati, membaliknya
secara teratur untuk menjaganya tetap hangat? Dan tanpa ragu-ragu mengambil
resiko dan anggota tubuh dengan galaknya melindungi ayam-ayam kecil ini dari
binatang lain setelah mereka dilahirkan? Mungkin saja kita manusia tidak bisa
merasakan apa yang dirasakan ayam ini, atau kita telah kehilangan kemampuan
untuk menghormati atau berempati dengannya, tetapi tidak berarti bahwa
kecerdasan universal, dan kehadiran kreatif tanpa batas, tidak mengetahui dan
menghargai dan menikmati dan mengasihi ayam itu dan kehidupannya. Ayam itu
terwujud sewaktu kita manusia terwujud, dengan suatu kecerdasan unik yang
membimbing dan memenuhinya pada berbagai tingkat dan memperbolehkannya untuk
memenuhi tempatnya dalam susunan yang lebih besar. Seperti milik kita,
kecerdasannya termasuk kesadaran, perasaan, kerinduan, dan suatu sistim saraf
pusat dengan reseptor rasa sakit.
Merusak Kecerdasan dan
Tujuan
Sewaktu kita dengan paksa
mengeluarkan seekor ayam, ikan, sapi atau hewan lainnya dari kehidupan alaminya
supaya bisa mengurung dan memanipulasinya untuk makanan.Kita secara sistimatik
menggagalkan dan menghalangi kecerdasan aslinya. Kecerdasan universal di
dalamnya tidak bisa lagi beroperasi secara bebas dan menyumbang pada dan
memperkaya banyak tingkat dari keseluruhan lebih besar yang dia layani. Ini
adalah suatu serangan masal dan tragis terhadap inti dari jiwanya dan merusak
tujuannya. Sewaktu kita mengurung hewan untuk makanan, menghancurkan keluarga
mereka dan hubungan dengan komunitas, melenyapkan hubungan mereka dengan bumi
dan dengan habit mereka, dan menggagalkan penggerak kecerdasan mereka, kita
melakukan kekerasan keras terhadap bukan saja makhluk-makhluk ini, tetapi
terhadap seluruh sistim kecerdasan yang saling berkaitan yang menopang mereka
dan yang mereka jalankan. Dalam melakukan kekerasan itu, kita merusak kecerdasan
kita sendiri. Kita bahkan tidak bisa menjalankan rencana dan pekerjaan tanpa
kehilangan banyak dari kecerdasan sejati kita dan tujuannya. Bagaimana ini bisa
menjadi tujuan kita mencuri tujuan dari makhluk hidup lainnya?
Sebagai ahli waris dari
tradisi menggembala, kita tentu saja mencoba merasionalisasikannya, katakan
bahwa hewan-hewan yang kita pelihara untuk makanan tidak akan ada tanpa usaha
penggembala dan peternakan kita, dan mereka oleh karena itu tidak ada untuk
tujuan mereka, tetapi untuk tujuan kita. Seperti yang dikatakan, bilamana Tuhan
tidak ingin kita memakan hewan, Tuhan tidak akan membuatnya. Tuhan tidak akan
membuatnya dari daging. Tentu saja, hal yang sama bisa dikatakan mengenai
manusia untuk membenarkan kanibalisme. Atau seseorang akan mengatakan apabila
Tuhan tidak ingin manusia mencuri satu sama lain. Dia tidak akan membuatnya
dengan bukaan tubuh yang cocok. Karena dari luka kita sendiri, kita tidak bisa
melihat kebutaan dan kekejaman yang selalu mengiringi pemikiran kita dimana yang
lain terwujud untuk tujuan kita. Para pemilik budak di daerah Selatan tidak bisa
melihatnya, juga. Dan namun, apabila kita manusia adalah mereka yang dilahirkan
dalam pengurungan yang menyedihkan secara teratur dikebiri, dicap, diperkosa,
dipukul, dan dimutilasi, dan didorong menjadi gila karena kita dipandang hanya
sebagai daging enak oleh spesis yang lebih kuat dan lebih “cerdas”, kita tentu
saja berharap bahwa spesis “tinggi” ini akan mengenali bahwa kita memiliki satu
tujuan yang lebih besar daripada hanya menjadi komoditas yang dikurung, dibunuh,
dibungkus, dijual, dan dimakan. Kita juga harus memperoleh kembali kecerdasan
yang kita sudah kehilangan melalui desentizing kita sendiri kepada kebenaran
yang tidak dapat disangkal yang dari perspektif berjuta-juta hewan yang
ketakutan yang kita lihat hanya sebagai bahan pokok makanan, kita adalah teroris
yang jahat.
Sesuai dengan derajat
hilangnya kesadaran, ia kehilangan kemampuan untuk membuat kaitan yang
memberikan bimbingan berarti kepadanya dalam kreativitasnya untuk melayani
keseluruhan yang lebih besar—tujuan sejatinya. Sewaktu kecerdasan kita
meningkat, kapasitas kita untuk kebahagiaan dan welas asih meningkat. Kita
menjadi lebih sadar atas hubungan kita dengan keluarga manusianya, seluruh
jaringan kehidupan, dan sumber seluruh kehidupan yang tanpa batas, dan kerinduan
melayani keseluruhan yang lebih besar ini. Sewaktu kecerdasan kita berkurang,
kita terlepas dari pelayanan kita terhadap keseluruhan yang lebih besar, mnejadi
sedikit sensitif pada umpan balik dari mereka, lebih memusatkan diri sendiri dan
lebih terpenuhi sendiri. Kekurangpekaan ini mnejadi kebodohan, membawa kekejaman
yang tidak dapat dielakkan, penyakit, ketidakbahagiaan, penderitaan dan
kematian.
Kebenaran ini bukan rahasia
atau sukar dimengerti. Kita melihatnya dalam tubuh kita sendiri, dimana sel-sel
dan sistim-sistim bekerja sama dengan kecerdasan yang mengejutkan yang
memperbolehkan kita, sebagai keseluruhan yang lebih besar, secara serempak:
makan dan mencerna makanan, membaca buku, memantau lingkungan untuk suara,
indera penciuman, dan sensasi, bernafas, memompa darah, mengobati terbakar sinar
matahari, menghancurkan sel-sel kanker yang kesasar, mengatur tingkat dari
beratus-ratus hormon dan enzim, dan mungkin saja bahkan memelihara janin yang
berkembang! Kegiatan umum seperti membaca buku, bermain piano, terlibat dalam
diskusi kelas, atau bermain tenis tidak bisa dibayangkan tanpa pelayanan
kecerdasan yang terkonsentrasi dari berjuta-juta bagian keseluruhan yang lebih
kecil, bekerja sama, membuat hubungan penting yang tak terhitung banyaknya, dan
terus menerus memantau tingkat umpan balik dalam cara ruwet yang tidak bisa
dibayangkan. Apabila kerjasama dan kecerdasan dalam tubuh berhenti, penyakit dan
kematian dengan cepat tak terelakkan lagi terjadi.
Sel-sel yang tidak bisa lagi
melayani keseluruhan atau merespon sewajarnya untuk umpan balik telah menjadi,
pada pokoknya, sibuk sendiri, dan membangkitkan tumor-tumor kanker yang
berbahaya dan saling berlawanan. Kecerdasan tubuh kita mengetahui bahwa sel-sel
ini akhirnya akan menghancurkan keseluruhan yang lebih besar dimana mereka hidup
dan bersandar, dan terus-menerus bekerja untuk menghapuskan mereka dan
membetulkan kondisi yang membawa pada perkembangbiakan mereka. Kecerdasan tubuh
kita membuat hubungan dan melayani kita, keseluruhan yang lebih besar. Dalam
cara sama, kecerdasan manusia adalah kemampuan untuk membuat hubungan yang
berarti, dan bilamana kita tidak melayani keseluruhan yang lebih besar,
keseluruhan yang lebih besar ini akan memberitahu kita. Individu-individu yang
merusak masyarakat disingkirkan darinya dan, kita berharap, direhabilitasikan;
apa yang terjadi sewaktu masyarakat secara tidak bertanggungjawab merusak bumi
ini? Apabila kecerdasan kita lemah, kita kehilangan pandangan dari tujuan kita
dan menjadi semakin mati rasa pada umpan balik sehat dari keseluruhan yang lebih
besar yang penting bagi kita sebagai sistim kecerdasan dan sub sistim. Apabila
kecerdasan budaya kita cukup lemah, kita menjadi penjahat sel-sel kanker yang
kita sangat takuti di dalam kita sendiri.
Kecerdasan adalah Spesifik
bagi Tiap Spesis
Kecerdasan dalam sistim
kehidupan adalah ditentukan oleh kualitas dan kuantitas dari umpan balik sistim
ini mampu menerima, dan kemampuan ini untuk menerima umpan balik adalah secara
dekat berkaitan dengan kemampuan merasakan hubungan yang berarti. Karena setiap
spesis hewan unik, jelas sekali bahwa masing-masing spesis memiliki jenis
kecerdasan khasnya sendiri yang jelas sekali sesuai dengan telosnya, atau tujuan,
dan pada jenis umpan balik yang ia terima dan hubungan yang ia buat. Katakan
satu jenis kecerdasan adalah lebih tinggi dari yang lain yang mengabaikannya
dengan menanamkan standar semaunya, dan biasanya adalah bagian dari prasangka
yang mengabadikan mode kecerdasan manusia yang dianggap di puncak hirarki.
Tetapi kita ketahui bahwa
secara harafiah ada berbagai jenis kesadaran hewan yang tak terhitung banyaknya,
dan ada banyak jenis kecerdasan yang sepertinya manusia tidak memilikinya.
Orang-orang dengan sahabat-sahabat hewan, seperti anjing dan kucing, selalu
terkagum dengan kemampuan intuitifnya hewan-hewan ini. Sebagai contoh, seperti
studi tunjukkan, hewan-hewan ini selalu bisa mengetahui saat yang tepat
sahabat-sahabat manusia mereka, beberapa mil jauhnya, memutuskan untuk kembali
ke rumah. Terdapat banyak contoh lain dari bukan sahabat-sahabat manusia
memiliki kecerdasan yang kita hanya bisa terkagum, mampu kembali ke rumah dan
bergerak dengan sempurna, bermigrasi beribu-ribu mil, dan berkomunikasi dalam
cara yang sama sekali tidak bisa dijelaskan dengan sains materialistik kita.7
Ironis sekali sewaktu kita dikelilingi oleh beribu-ribu spesisi dari kehidupan
intelijen yang berbagi bumi kita bersama kita yang kesadaran, kemampuan, dan
pengalaman subyektif yang kita miliki hampir tidak mulai mengerti dan menghargai.
Keragaman kecerdasan dalam
alam adalah menakjubkan karena spesis, subspesis, dan individu semuanya memiliki
kualitas kecerdasan yang unik. Akan tetapi, para ilmuwan, seperti kebanyakan
orang dalam kebudayaan kita, biasanya enggan mengenali atau menghormati
keanekaragaman kecerdasan dalam alam karena mereka berpartisipasi dengan cara
sadar atau tidak sadar dalam suatu komunitas yang membutuhkan suatu dominasi
hampir sepenuhnya pada hewan-hewan. Persamaan bisa didapati sebelum Perang Sipil
Selatan, dimana perbudakan adalah legal. Orang-orang kulit hitam, menjadi budak
dan obyek dominasi and eksploitasi, “dikenal” oleh budaya dominasi memiliki
kecerdasan inferior.
Ironis besar ini yaitu dengan
tidak mengindahkan, meremehkan, dan menindas kecerdasan dalam hewan-hewan lain,
kita dengan aktif mengurangi kecerdasan kita sendiri. Ini adalah hal yang
terpenting dari penyakit budaya kita hari ini dan alasan jalur kita adalah
sangat berbahaya. Dengan menolak kecerdasan dalam hewan, mengabaikan kemampuan
luas mereka untuk merasakan dan untuk hidup sebagai subyek dalam cara mereka
sendiri di dalam dunia yang alami, kita telah membuat kebudayaan kita dan kita
sendiri kurang cerdas. Walaupun kecakapan teknologi kita, individu kita dan
kecerdasan budaya kita sangat mengganggu dimana kita menciptakan sistim
kekerasan dan penyalahgunaan yang besar sekali yang merusak bumi ini dan
menyebabkan penderitaan sangat besar pada manusia dan hewan, dan dengan mudah
mengabaikan kerusakan dan penderitaan yang kita buat. Sewaktu sistim kehidupan
mengabaikan umpan balik dan menolak membuat hubungan dimana jenis kecerdasan
yang unik disesuaikan, dimana sistim kehidupan adalah kurang hidup, kurang sadar,
kurang bebas, kurang bisa merespon atau mengadaptasi, dan adalah, dari
perspektif kelangsungan hidupnya sendiri, dalam suatu situasi berbahaya.
Keseluruhan yang lebih besar, yang merugikan sistim itu melalui kehilangan
kecerdasan dan kepekaannya, secara alami akan, sebagai bagian dari kecerdasan
mereka, membatasi dan menghapuskannya.
Ini seolah-olah syaraf-syarat
kita telah dimatikan dan bagian dari anggota badan kita dipotong, tidak
merasakan sakit, tidak sadar akan kerusakan yang telah dilakukan, jadi tidak
termotivasi dan tidak mampu menghentikan perusakan diri sendiri. Sebagai contoh,
Dan Kindlon and Michael Thompson mendiskusi dalam buku mereka Raising Cain
tingkat bunuh diri menanjak dengan cepat di antara anak laki remaja, dengan
empat belas persen dari lima belas tahun bunuh diri pada hari tertentu.8
Tetapi apakah setiap orang tahu, atau sedih, atau bahkan peduli pada tragedi ini?
Sembilan puluh ribu hektar hutan hujan dirusak setiap hari, menyebabkan hampir
seratus spesis tanaman dan hewan menjadi punah setiap hari,9 namun
kita telah menguasai seni halus dari pemutusan dan dengan tangkas mengabaikan
ini dan tragedi terus menerus yang disebabkan manusia. Bagaimana kita bisa tanpa
belas kasihan menghancurkan laut dengan pengangkapan ikan yang berlebih, merusak
habitat kehidupan liar dengan limbah peternakan yang beracun, dan mengurangi
hutan hujan luas yang berseluk-beluk melalui peternakan, menyebabkan kepunahan
beribu-ribu spesis setiap tahun? Bagaimana kita bisa sangat sembrono dalam
pencarian laba untuk kita, secara genetik megatur makhluk-makhluk hidup dan
semakin merampas planet yang ditinggal kita dengan pemboroson militer dan limbah
beracun?
Tindakan yang didorong secara sosial untuk memakan satwa
itulah yang terutama bertanggung jawab atas hilangnya kecerdasan budaya dan
pribadi ini. Mengurung, membuntungkan, dan membunuh satwa untuk makanan pada
dasarnya amatlah kejam dan buruk sehingga kita harus menghilangkan aspek besar
dari kecerdasan pribadi dan masyarakat kita untuk melakukannya, terutama
mengingat besarnya skala satwa disembelih dan disiksa saat ini.
Di atas kecerdasan kognitif, ada kecerdasan etis, yaitu dorongan bertindak untuk
meringankan penderitaan orang lain. Melukai satwa supaya kita dapat memakan
daging, susu, dan telurnya pada dasarnya membuat kita amat terusik dan merasa
jijik sebagai makhluk rohani, sehingga agar kita bisa melakukannya, budaya
peternakan harus dengan cara sistematis membuat kita mati rasa sejak lahir,
mengurangi belas kasih alami kita. Penindasan belas kasih sehat yang adalah
dasar sifat sejati kita mungkin bahkan lebih serius daripada membuat layu
kecerdasan kognitif. Ada bukti kuat bahwa anak-anak dalam budaya kita, terutama
anak laki-laki, dibesarkan untuk menjadi keras dan terputus dengan perasaan
empati alaminya dan sifat ingin melindungi — sebuah proses yang penting dalam
budaya peternakan yang mana anak laki-laki secara rutin akan diharuskan menjadi
pria dewasa untuk menguasai dan membunuh satwa untuk makanan. Pria keras,
tangguh, terputus dari sumber kecerdasan batin dan belas kasihnya, adalah suatu
kekuatan yang menakutkan dan merusak di Bumi ini, dan dalam budaya peternakan
kita, mereka sering menjadi panutan yang secara alami ditiru para anak
laki-laki.
Ketidakterhubungan yang bertanggung jawab atas hilangnya kecerdasan dan belas
kasih kita ini menimpa para ilmuwan, dokter, politisi, dan pendeta yang dibayar
mahal sama parahnya seperti yang juga menimpa para petani kelas pekerja dan
buruh. Dalam semua kasus, hal itu mempersempit visi, menyebabkan tersedotnya
perhatian kepada kepentingan egois diri sendiri dan dalam negeri, dan
menciptakan gudang yang sangat besar dari rasa bersalah dan kekerasan yang
menyulut api peperangan, penyakit, penindasan, dan ketidakpedulian terhadap
penderitaan orang/makhluk lain. Apa yang dilakukan ada balasannya. Jika kita
menabur benih dominasi dan pengecualian, kita kehilangan kecerdasan dan belas
kasih, dan kehidupan menjadi pergulatan yang berat dan membingungkan.
Apa yang Kita Tabur, Itulah yang Kita Tuai
Ajaran
spiritual paling universal, yang secara lintas-budaya ada pada hampir semua
tradisi keagamaan dunia, didasarkan pada kebenaran dari kesalingterhubungan
kita. Hal ini disajikan baik secara positif, dalam apa yang kita sebut sebagai
Kaidah Emas (berbuatlah kepada orang lain seperti yang kita ingin mereka perbuat
kepada kita), dan secara lebih netral seperti hukum sebab dan akibat (bahwa apa
pun yang kita lakukan kepada orang lain akan kembali kepada kita). Secara
sederhana, kita tidak pernah bisa berharap untuk bahagia jika kita menyebabkan
penderitaan kepada makhluk lain, menjadi bebas jika kita mengurung orang lain,
menjadi makmur jika kita mencuri dari orang lain, atau damai jika kita melakukan
kekerasan kepada makhluk lain dan menyebabkan mereka takut. Seperti dikatakan
para Buddhis, apa pun benih yang kita tanam dan pupuk melalui tindakan tubuh,
ucapan, dan pikiran akan tumbuh, dan kita akan memetik buahnya dalam kehidupan
kita dalam bentuk kelimpahan, sukacita, kasih, dan kedamaian batin, atau
kemarahan, penderitaan, kesakitan, dan kekurangan.”Berbahagialah orang yang
berbelas kasihan”, seperti yang dikatakan dalam Perjanjian Baru, “karena mereka
akan menerima belas kasihan juga” (Matius 5:7). Karena kita membebaskan makhluk
lain, kita menjadi bebas, karena kita mengasihi makhluk lain, kita dikasihi,
karena kita mendukung makhluk lain, kita didukung, karena kita memberkati
makhluk lain, kita diberkati, karena kita membawa sukacita dan penyembuhan
kepada makhluk lain, kita menemukan sukacita dan penyembuhan dalam hidup kita.
Kebijakan kekal ini adalah fondasi kecerdasan dan belas kasih, karena ini dengan
kuat berlandaskan pada kebenaran dari saling keterhubungan. Di bawah cahayanya,
kita dapat melihat betapa penganiayaan kita terhadap satwa memiliki dampak yang
menyakitkan bagi kita. Ironi ini menyesakkan nafas. Misalnya, satwa di alam liar
tidak pernah gemuk, tapi satwa yang dibesarkan untuk makanan dikurung dengan
ketat, diberi makanan khusus, dan diberi obat-obatan dan hormon supaya mereka
menjadi gemuk secara tidak wajar (toh, mereka dijual berdasarkan berat).
Obesitas adalah masalah serius di antara manusia omnivora, dengan enam puluh
persen orang Amerika kelebihan berat badan dan dua puluh enam persen terlalu
gemuk.10 Biaya medis untuk ini diperkirakan berjumlah miliaran dollar,
dan biaya psikologis meskipun tak bisa dinyatakan dengan angka, sangatlah besar.
Kita menabur obesitas dalam miliaran ayam, kalkun, babi, dan sapi, dan kita
menuainya di dalam diri kita sendiri. Kalkun gemuk yang dibesarkan, diberi
makan, dan dikurung agar menjadi sangat gemuk sehingga mereka tidak bisa lagi
melakukan hubungan seksual, sesuatu yang mungkin juga terjadi pada semakin
banyak orang.
Di alam liar, satwa yang kita santap sebagai makanan, hidup dalam keluarga dan
memiliki hubungan sosial yang kompleks, vital, dan memperkaya hubungan sosial
dengan satwa lainnya dalam kawanan, kelompok, barisan, dan komunitas mereka.
Pada peternakan hewan, semua ikatan keluarga dihancurkan, bayi-bayi dengan cepat
dipisahkan dari ibu mereka, dan setiap satwa dipandang sebagai unit produksi
yang terpisah. Inilah yang kita tabur, dan apa yang kita tuai dalam budaya
manusia, dapat kita lihat di mana-mana: terceraiberainya keluarga. Apa yang kita
lakukan terhadap satwa, kita lakukan pada diri kita sendiri. Lebih banyak
daripada sebelumnya, keluarga berantakan, orang tua bercerai, anak-anak
ditelantarkan atau ditinggalkan, dan orang-orang merasakan keterasingan menjadi
satu-satunya “unit produksi” di dalam sistem ekonomi yang tak berperasaan dan
penuh persaingan.
Satwa betina yang dibesarkan untuk makanan dipaksa hamil dini secara tidak alami
dengan pemberian hormon, terutama pada operasi produksi telur, susu, dan babi,
karena lebih murah daripada harus memberi mereka makan sampai mereka mencapai
kematangan seksual secara alamiah. Mereka masih kanak-kanak ketika mereka dibuat
hamil secara paksa di pabrik peternakan. Praktik ini menghadirkan sejumlah besar
estrogen dan hormon lain dalam keju, susu, dan produk susu lainnya yang dimakan
oleh anak-anak kita - mendorong mereka, khususnya para gadis remaja, ke
pertumbuhan seksual dan kehamilan dini yang tidak wajar. Ini adalah dasar
kekuatan pendorong di balik trauma kehamilan dan aborsi remaja, tapi kita jarang
mendengar hal itu dibahas.
Contoh menarik lain dari perlakuan kepada diri kita sendiri seperti apa yang
kita lakukan terhadap hewan adalah mutilasi seksual bayi manusia kita. Satwa
jantan muda yang dilahirkan ke dalam sistem produksi makanan kita hampir semua
dikebiri tanpa anestesi supaya lebih mudah dikendalikan sebelum digemukkan dan
dijagal. Meskipun jelas kita tidak mengebiri semua bayi laki-laki kita, adalah
memadai dengan mengatakan bahwa prosedur bedah yang paling umum di AS saat ini
adalah sunat terhadap bayi laki-laki kita yang tak berdaya. Seperti yang
ditunjukkan oleh Ronald Goldman di Circumcision: The Hidden Trauma
(Sunat: Trauma Tersembunyi), itu masih saja dilakukan meskipun sudah terbukti
merusak dan tidak ada gunanya.11 Seperti sunat wanita dilakukan oleh
sebagian budaya peternakan, sunat pria yang dipraktikkan oleh budaya kita
mengurangi kepekaan organ seksual. Kulup penis adalah membran mirip kelopak mata
kita yang membuat kepala penis terlindungi dan lembab ketika penis ereksi,
memungkinkan kontak kulit yang lebih luas dalam kegiatan seksual. Dengan
memotong kulup pada bayi, ujung yang sensitif itu terus-menerus terbuka, dan
secara bertahap membangun lapisan sel ekstra untuk melindunginya dan mengurangi
kepekaannya. Kulit dari penis yang disunat, ketika ereksi juga tidak wajar
ketatnya. Kebanyakan pria dalam budaya kita benar-benar telah dimutilasi secara
fisik tanpa persetujuan mereka sehingga mengurangi kapasitasnya untuk mengalami
sensasi seksual. Sulit untuk mengetahui apa dampaknya terhadap hubungan,
ketidakmampuan seksual, dan pengalaman seksual wanita, tapi ini semua pasti ada
kaitannya.
Sunat dapat bertahan sebagian karena para ayah cenderung melakukan pada
anak-anak laki-laki mereka apa pun yang telah dilakukan pada mereka, dan
sebagian lagi karena perusahaan medis sering merekomendasikan itu. Setiap
prosedur bedah berarti bertambahnya pendapatan bagi para dokter dan rumah sakit,
dan apa yang terjadi pada semua potongan kulup yang diambil dari penis manusia?
Itu tidak dibuang! Mereka mendapat harga lumayan tinggi ketika dijual ke
perusahaan farmasi yang menggunakannya dalam produk mereka. Ini adalah refleksi
pedih dari praktik lama rumah jagal yang menjual pankreas babi ke industri
farmasi yang sama untuk memproduksi insulin. Bayi satwa yang rentan diikat dan
dilukai sehingga bagian tubuh mereka bisa dijual, dan sama halnya bayi manusia
yang rentan juga diikat dan dilukai sehingga bagian tubuh mereka bisa dijual.
Sejauh ini sunat adalah prosedur bedah paling menyakitkan yang dilakukan di
rumah sakit tanpa anestesi, seperti dijelaskan oleh Paul M. Fleiss, MD,:
Faktanya, bayi merasakan nyeri lebih hebat dibandingkan orang dewasa, dan
semakin muda bayinya, semakin besar rasa nyerinya. Jika orang dewasa perlu
disunat, ia akan diberi anestesi dan penghilang nyeri pasca operasi. Dokter
hampir tidak pernah memberikan keduanya kepada bayi-bayi tersebut. Satu-satunya
alasan dokter bisa pergi setelah menyunat bayi tanpa anestesi adalah karena bayi
itu tak berdaya dan tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Jeritan rasa sakit,
teror, dan penderitaannya diabaikan.12
Bayi-bayi tidak berdaya dan tidak bisa membalas, sehingga rasa takut dan rasa
sakit mereka—rasa takut dan rasa sakit kita—seperti rasa takut dan rasa
sakit dari anak-anak babi dan satwa sumber makanan lainnya, diabaikan begitu
saja.
Mengebiri jutaan satwa jantan muda juga memiliki konsekuensi lain bagi manusia
pria, karena dengan makan daging dan sekresi dari hewan yang dikebiri ini, pria
sering kali secara perlahan kehilangan kemampuan seksualnya. Lemak jenuh hewan
dan sisa kolesterol tak dapat dielakkan menyumbat pembuluh darah dan arteri
organ seksual mereka, dan akhirnya tidak cukup aliran darah yang bisa lewat
untuk mempertahankan ereksi. Di atas semua konsekuensi memalukan dan sendu dari
kebrutalan macho ini, menyantap makanan hewani secara positif berkaitan dengan
kanker prostat13 dan menurunkan jumlah sperma.14 Memakan
kekejaman dan kematian mungkin cocok bagi seorang pria dengan model maskulinitas
keras yang secara budaya bisa diterima, tapi keadaan tak masuk akal ini
terungkap melalui organnya yang lemas, impoten.
Prinsip yang sama dilakukan lagi dan lagi dalam berbagai cara yang mencolok.
Kita pompakan sejumlah besar obat-obatan ke dalam miliaran satwa tak berdaya.
Kita mengalami kecanduan narkoba, penyalahgunaan narkoba, ketergantungan obat,
dan semua kengerian dan trauma efek samping, mati rasa, dan bahaya hidup di
dalam suatu masyarakat yang semakin banyak dicekoki dengan resep-resep medis
maupun zat-zat terlarang. Kita memaksa hewan ternak untuk hidup di lingkungan
sangat tercemar dan beracun, untuk menghirup udara beracun berisi amoniak pekat
dari kotoran ribuan satwa yang terkurung dan penuh sesak, untuk hidup di dalam
kotoran mereka sendiri dan makan pakan tercemar. Kita menemukan diri kita hidup
semakin terbenam di dalam limbah kita sendiri karena udara kita menjadi semakin
terpolusi dan air dan makanan semakin tercemar. Kita memaksa satwa untuk hidup
dalam kondisi yang sangat tertekan. Kita menemukan diri kita hidup pada kondisi
yang semakin penuh tekanan. Kita mengurung dan memenjarakan satwa. Kita
menemukan diri kita merasa lebih terkurung karena bertambahnya tekanan sosial
dan ekonomi, dan kita melihat populasi di dalam penjara kita meledak.15
Kita memaksa satwa tak henti-hentinya untuk berproduksi, dan kita menemukan kita
terus-menerus didesak untuk berproduksi. Kita paksakan kesehatan buruk pada
satwa yang dibesarkan untuk makanan dengan menjejalkan mereka ke dalam situasi
penuh racun, tertekan, dan tanpa harapan, dan kita menemukan laju penyakit kita
meningkat. Kita memaksa jutaan satwa pabrik peternakan menuju kegilaan melalui
frustrasi hebat dan merintangi kerinduan dan dorongan alami mereka, dan kita
menemukan penyakit mental manusia meningkat.
Kita meneror jutaan satwa yang rentan dan tidak berdaya setiap hari dengan
kejutan listrik, pemukulan, pemberian cap, pemotongan paruh, pemotongan tanduk,
pengebirian, penakikan telinga, pemukulan hidung yang menyakitkan, dan dengan
memaksa mereka untuk menyaksikan pembunuhan satwa lain sebelum mereka dibunuh.
Karena kita meneror, maka kita semakin takut akan bayangan terorisme, dan kita
menghabiskan miliaran dolar dalam kampanye untuk “mencegah terorisme”. Kita
mencuri dan menipu satwa dalam skala besar: kita mencuri bayi mereka, tubuh
mereka, susu mereka, telur mereka, madu mereka, dan hidup mereka, dan kita
menipu mereka dengan kait, umpan, jala, dan terowongan rumah jagal. Kita
menemukan bahwa kita hidup di dalam masyarakat yang semakin penuh dengan
penipuan dan pencurian, tempat kapitalisme predator dan periklanan canggih
bekerja sama untuk menciptakan iklim yang mengesahkan kebohongan atas nama
keuntungan, dan penipuan licik atas nama laba investasi.
Kita memaksa hewan ternak masuk ke dalam kandang, dan kita menemukan semakin
banyak dari kita hidup di dalam lingkungan yang dipagari, di balik jeruji dan
kunci. Kita membuat mereka penuh sesak dan kita semakin berdesakan. Jutaan satwa
itu kita siksa dan Amnesti Internasional melaporkan bahwa penyiksaan manusia
oleh manusia jumlahnya selalu besar.16 Faktanya, salah satu teknik
penyiksaan manusia paling tersebar luas, disukai karena menyebabkan sakit parah
sementara meninggalkan sedikit bekas luka fisik, adalah kejut listrik. Menurut
Amnesti Internasional, teknologi ini dipelopori oleh perusahaan-perusahaan AS
pada tahun 1970-an untuk dipakai pada satwa, dan sekarang ada lebih dari 120
perusahaan di dunia (70 di AS) membuat perangkat kejut listrik yang digunakan
baik pada hewan maupun manusia.17
Satwa yang dibesarkan untuk makanan sering sengaja dibuat kelaparan—
kadang-kadang ayam betina itu kelaparan sebagai bagian dari “berganti bulu
paksa” untuk memberi kejutan pada tubuh mereka agar memulai lagi siklus
bertelur, dan kadang-kadang untuk menghemat biaya pakan, atau hanya kelalaian.
Kita menemukan budaya kita penuh dengan anorexia nervosa karena
orang-orang, sebagian besar wanita, membuat diri sendiri kelaparan,
kadang-kadang sampai mati. Dan, bahkan dengan begitu melimpah-ruahnya hasil
gandum—tapi diberikan sebagai pakan ternak untuk konsumsi orang kaya—ribuan
orang miskin, sebagian besar anak-anak, meninggal setiap hari karena kelaparan.
Bagi satwa betina muda yang lahir ke dalam sistem produksi makanan, penyiksaan
seksual dari pemerkosaan berulang-ulang adalah pengalaman yang menentukan. Hal
ini diperhalus sebagai “inseminasi buatan”, tetapi itu adalah pemerkosaan secara
paksa, dan babi, sapi, domba, kambing, kalkun, ayam, bebek dan satwa betina muda
lainnya, semuanya berulang kali diperkosa oleh manusia untuk menghasilkan
keturunan sebelum dibunuh. Bagi satwa-satwa betina tak berdaya ini, manusia
adalah pemerkosa dan pembunuh berantai. Kalkun betina muda, misalnya, diperkosa
rata-rata dua kali seminggu selama dua belas sampai enam belas bulan sampai
mereka disembelih untuk sup kalkun dan makanan bayi.18 Selain
pelecehan seksual sistematis untuk inseminasi, banyak hewan, khususnya babi,
adalah korban pelecehan seksual oleh pekerja pabrik peternakan, seperti yang
telah didokumentasikan oleh pekerja yang menyamar. Perkosaan adalah cerminan
inti dari budaya kita dan masalah yang sangat serius, dengan seorang wanita atau
gadis diperkosa atau diserang secara seksual di Amerika Serikat rata-rata setiap
dua menit.19 Seperti dalam peternakan, di mana satwa betina dan ibu
secara brutal dikuasai dan dieksploitasi demi keuntungan, di dalam masyarakat
manusia kita nilai-nilai feminin dan keibuan ditekan dan wanita ditolak
kesetaraan derajatnya dengan pria. Dominasi berkelanjutan dan tak kasat mata
terhadap wanita dan khususnya satwa betina memiliki konsekuensi sangat besar dan
berakibat jauh yang menjelaskan lebih rendahnya status wanita dalam budaya kita.
Memandang satwa hanya sebagai daging dan obyek untuk dikonsumsi, kita menemukan
bahwa wanita, seperti satwa, juga sering dilihat hanya sebagai daging untuk
digunakan secara seksual. Seperti dijelaskan oleh Carol J. Adams, satwa dan
wanita dalam budaya kita dihubungkan melalui pornografi, iklan, dan media
populer, dengan satwa “makanan” yang dipandang sebagai hewan betina yang
mengharapkan untuk dimakan, dan wanita dikaitkan dengan satwa sebagai obyek
seksual yang berharap untuk dipakai.
Karena kita menciptakan penyakit pada hewan melalui kondisi ganjil yang kita
paksakan pada mereka di pabrik-pabrik peternakan, kita menemukan penyakit baru
dan mematikan menghantui dan membuntuti kita, seperti SARS, AIDS, penyakit sapi
gila, dan varietas influenza yang ganas, serta jenis tuberkulosis, streptococcus,
E. coli, dan patogen penyakit lain pelemah tubuh yang kebal terhadap
obat-obatan. Dengan menjejalkan satwa dengan cara yang tidak akan pernah terjadi
di alam bebas, merusak struktur sosial, memaksa mereka untuk memakan tinja,
darah, daging, dan organ-organ satwa yang biasanya tidak akan pernah mereka
makan, dan memaksa mereka ke dalam perilaku rutin kanibal dengan memberi mereka
makanan “diperkaya” yang mengandung bagian-bagian tubuh anggota spesies mereka
sendiri, kita membuat operasi pabrik peternakan sebagai tempat pembiakan virus
mematikan, bakteri, parasit, dan protein yang tidak akan pernah mempunyai
kesempatan untuk berkembang di alam. Patogen-patogen ini, seperti prion (agen
menular berupa protein) yang bertanggung jawab atas penyakit sapi gila,
ditularkan kepada kita saat kita menelan makanan atau obat-obatan yang bahannya
berasal dari tubuh para makhluk tersiksa ini. Seperti telah ditunjukkan oleh
Greger Michael, M.D., influenza baru yang ganas dengan mudah dilacak kepada
operasi pengurungan satwa ternak penuh sesak dan penjagalan,20
seperti juga kelaziman penyakit yang disebabkan oleh salmonela, E. coli,
listeria, campylobacter, dan patogen lainnya. Pengurungan satwa ternak secara
intensif menyebabkan tingginya tingkat stres, penyakit, dan serangan patogen
pada satwa yang kita makan, yang diperangi industri dengan memberikan sejumlah
besar obat dan antibiotik sehingga satwa bisa bertahan sampai mencapai berat
tubuh layak sembelih. Ini hanya merumitkan masalah kesehatan manusia, karena
antibiotik dan obat lain mendorong evolusi bakteri dan virus menjadi jenis-jenis
yang lebih tangguh dan lebih kebal terhadap obat-obatan. Praktik ini terkenal
telah menghasilkan jenis patogen baru dan lebih mematikan, seperti baksil
tuberkulosis yang sangat kebal obat sehingga penderitaan yang disebabkan oleh
penggunaan sejumlah besar obat-obatan beracun untuk melawan penyakit ini
dianggap lebih berat dari penyakit itu sendiri. Hal ini tidak sulit untuk
dimengerti, tetapi penyakit baru dan operasi pabrik peternakan intensif dalam
kandang yang semakin besar, keduanya terus berkembang dengan hanya sedikit
masyarakat yang mempertanyakannya karena operasi itu sangat menguntungkan, dan
masyarakat sulit mengubah kebiasaan makanannya. Menabur penyakit pada satwa tak
berdaya, kita hanya bisa menuai hal yang sama untuk diri kita sendiri.
Dengan berbagai cara, ayam-ayam pulang untuk bertengger. Memaksakan horor pada
satwa, kita menemukan meningkatnya horor di media massa dan hiburan populer.
Karena kita membunuh satwa muda untuk makanan, kita menemukan angka bunuh diri
anak dan remaja meroket. Karena kita sengaja membuat marah para satwa, seperti
di rodeo, kita menemukan meningkatkannya kemarahan kita sendiri. Karena kita
sengaja menimbulkan rasa takut mereka, seperti dalam percobaan laboratorium yang
menakutkan, rasa takut kita sendiri semakin meningkat. Karena kita memaksakan
osteoporosis pada mereka dengan memaksa mereka menghasilkan susu dan telur
secara berlebihan, kita menemukan diri kita dijangkiti epidemi osteoporosis.
Karena kita sengaja memaksa mereka untuk menghasilkan hati bengkak dari itik dan
angsa yang sakit supaya dapat kita makan sebagai foie gras, kita menemukan diri
kita sendiri secara kronis makan berlebihan makanan dengan residu beracun dan
dengan demikian merusak hati dan organ internal lain kita. Karena kita memaksa
hewan untuk menjadi gemuk, berpenyakit, penuh sesak, cemas, dan stres, hal yang
sama terjadi pada kita. Karena kita memberi mereka makanan yang diproses secara
tidak alami, makanan yang sarat-kimia, kita menemukan toko bahan makanan kita
dipenuhi dengan produk serupa yang dijual sebagai makanan. Karena kita mengurung
mereka dalam kotak kecil, kita menemukan diri kita terkurung di bilik kantor
yang kita buat sendiri. Karena kita mengabaikan penderitaan satwa, kita saling
mengabaikan penderitaan kita. Karena kita menyangkal martabat dan privasi satwa,
kita menyangkal martabat kita sendiri dan menemukan privasi kita menjadi semakin
terkikis. Karena kita memaksa mereka sampai tidak berdaya, kita merasa semakin
tidak berdaya. Karena kita merendahkan mereka sebagai barang dagangan, diri kita
pun hanya menjadi komoditas belaka. Karena kita menghancurkan kemampuan mereka
untuk memenuhi tujuan hidupnya, kita kehilangan jejak tujuan kita. Karena kita
menyangkal hak-hak mereka, kita kehilangan hak-hak kita sendiri. Karena kita
memperbudak mereka, kita sendiri menjadi budak. Karena kita mematahkan semangat
mereka, roh kita sendiri rusak. Apa yang kita tabur, kita tuai.
Unit jantung rumah sakit metropolitan telah menjadi lini perakitan untuk operasi
bypass jantung. Banyak orang mengalaminya setiap hari, satu demi satu, untuk
menjalani operasi mahal dan radikal ini. Mereka biasanya adalah orang-orang yang
banyak memakan daging satwa. Sementara itu, satwa berbaris di jalur pemotongan
rumah jagal dan dibacok, satu demi satu. Orang-orang memakan daging mereka dan
berbaris di rumah sakit untuk disayat, satu demi satu. Karena kita membacok,
jadi kita akan disayat.
Saat ini para ilmuwan bekerja keras menangkarkan satwa untuk makanan yang akan
dibuat menjadi sebisa mungkin dungu, tidak peka, dan mudah dikendalikan supaya
dapat menahan rasa sakit dan stres tak terbayangkan yang dipaksakan kepadanya di
pabrik peternakan. Mereka ingin menciptakan satwa dengan perasaan dan kesadaran
minimal, satwa yang lahir dengan roh yang rusak, tanpa semangat hidup dan tanpa
tujuan lain selain untuk melayani kehendak penguasa mereka. Itu akan baik untuk
bisnis. Karena kita menyebabkannya terjadi pada makhluk lain, hal yang sama
terjadi pada kita - dan, dalam kasus ini, mungkin, sedang terjadi.
Semoga kita merenungkan dalam-dalam kebijaksanaan Kaidah Emas sebelum terlambat,
dan mulai benar-benar menjalankannya dengan menghormati para satwa yang
tergantung dari belas kasih kita. Jika tidak, masa depan kita akan sangat suram:
semua yang kita paksakan kepada makhluk lain agar mengalaminya, cepat atau
lambat akhirnya kita sendiri yang akan mengalaminya.
Dalam
tragedi-tragedi Yunani kuno, pelaku utama selalu menderita keruntuhan
dan kehancuran karena kerusakan karakternya, pemimpinnya menjadi bangga
berlebihan dan tidak sensitif.
Referensi
1. See, for example, John Bradshaw,
Bradshaw on: The Family
(Deerfield Beach, FL: Health Communications, 1988, 1996).
2. Charles Fillmore, “Vegetarianism,”
Unity Magazine,
June 1915.
3. Charles Fillmore, “The Vegetarian,”
Unity Magazine,
May 1920.
4. Charles Fillmore, “The Unity Vegetarian Inn” (Unity Village, MO).
5. Keith Akers,
The Lost Religion of Jesus
(New York: Lantern Books, 2000), p. 157.
6. Gregory Bateson,
Mind and Nature
(New York: Bantam, 1979), p. 12.
7. For a discussion of some of the unexplained dimensions of intelligence in
animals, see Rupert Sheldrake,
Dogs That Know When Their Owners Are Coming Home and Other Unexplained Powers of
Animals
(New York: Three Rivers Press, 1999) and also his
Seven Experiments That Would Change the World
(New York: Inner Traditions, 2002), as well as Jean Houston,
Mystical Dogs: Animals as Guides to Our Inner Life
(Makawao, HI: Inner Ocean Publishing, 2002). These are only a small sampling of
the books addressing this theme.
8. Dan Kindlon and Michael Thompson,
Raising Cain: Protecting the Emotional Life of Boys
(New York: Ballantine, 1999), p. 174.
9.
Rainforest Alliance Newsletter,
September 2001, p. 1.
10. Greg Critser,
Fat Land
(New York: Houghton Mifflin, 2003), p. 171.
11. Ronald Goodman,
Circumcision: The Hidden Trauma
(Boston: Vanguard Publications, 1997).
12. Paul M. Fleiss, “Protect Your Uncircumcised Son: Expert Medical Advice for
Parents,”
Mothering,
November–December 2000, p. 44.
13. John Robbins,
The Food Revolution: How Your Diet Can Save Your Life and the World
(Berkeley: Conari Press, 2001), p. 48.
14. John Robbins,
Diet for a New America
(Walpole, NH: StillPoint, 1987), p. 330.
15. The United States, for example, has one of the highest per capita rates of
animal food consumption in the world and also has the highest incarceration
rate. With only four percent of the world’s population, the U.S. has twenty-five
percent of the world’s prisoners; the country with the most animal prisoners
also has the most human prisoners.
16. Amnesty International,
Torture Worldwide: An Affront to Human Dignity
(New York: Amnesty International, 2000), p. 2. See also www.amnestyusa.org.
17. Ibid., pp. 112–113.
18. Jim Mason, “Inside a Turkey Breeding Factory: Of Rape and Pillage,”
Farm Sanctuary News,
Fall 1997, pp. 5–7.
19. U.S. Bureau of Justice Statistics,
Criminal Victimization, 2003
(Washington DC: September 2004). See R.A.I.N.N. (Rape, Abuse, & Incest National
Network), www.rainn.org/statistics.html. In 2003 there were 198,500 victims of
rape or sexual assault (one every roughly two minutes), and 87,000 victims of
completed rapes (one every six minutes).
20. Michael Greger, “SARS: Another Deadly Virus from the Meat Industry,”
VegNews
May–June, 2003, p. 10.
|
|