|
bab dua belas
BEBERAPA BANTAHAN TERJAWAB
“Kita harus berperang melawan jiwa kejam yang tidak sadar dengan cara kita
memperlakukan hewan. Hewan menderita sama seperti kita bisa menderita.... Adalah
kewajiban kita untuk membuat seluruh dunia ini menyadarinya.
—Albert Schweitzer
“Hewan ada di dunia ini untuk alasan mereka sendiri. Mereka bukanlah diciptakan
untuk manusia lagi seperti orang hitam yang diciptakan untuk orang putih atau
wanita untuk pria.”
—Alice Walker
“Dan kini adalah yang ketiga, orang yang Tidak Tahu Malu telah bangkit,
Tidak seperti pendahulunya, orang-orang ini dengan ukuran yang besar,
Pada daging hewan mentah, mereka memakannya,
Membiadabkan sifat alami mereka dan hati batu mereka.”
—Hesiod, abad ke-8 SM
Memelihara Bantahan
Ide-ide yang dipersembahkan di buku ini, meskipun tidak rumit atau sulit untuk
dipahami, namun telah menembus pandangan dalam waktu yang lama dan hampir tidak
mungkin untuk menjelaskannya karena mereka berlawanan secara langsung dengan
asumsi tersembunyi dalam budaya yang menggiring kita. Akibat yang mereka
hasilkan, jika dipikirkan, didiskusikan dan dilakukan, sangatlah subversif
terhadap status quo. Bahkan teori sosial subversif lainnya yang jarang terlihat
di sekolah atau media – seperti Marxisme – tidak mulai berbicara tentang isu
mendalam seperti yang kita bicarakan sekarang: dominasi dan pengecualian mental
yang diperlukan untuk mengalir dari mengkomodifikasi hewan dan memakan makanan
hewani, dan itu menimbulkan persaingan, penindasan terhadap prinsip feminin,
pemerasan orang kelas bawah oleh orang kelas atas yaitu para peternak
(pemerintahan) yang kaya. Seruan Marx “Pekerja dunia, mari bersatu!” tidak
pernah mempertanyakan etika dasar dari mendominasi hewan dan alam, dan karenanya
bukan benar-benar revolusioner. Hal ini beroperasi di dalam kerangka supremasi
manusia dan tidak pernah menantang mental yang melihat makhluk hidup sebagai
komoditas. Veganisme adalah panggilan bagi kita untuk bersama-sama melihat bahwa
selama kita masih menindas makhluk hidup lain, kita akan menciptakan dan hidup
di dalam sebuah budaya penindasan yang tidak dapat dihindari. Perjuangan kelas
sosial adalah sebuah hasil dominasi dan ekslusi dari mental budaya penggiringan,
dan ini adalah bagian dari penderitaan yang tak dapat dihindari dimana
berhubungan dengan konsumsi makanan hewani.
Komitmen vegan untuk secara sadar meminimalkan kekejaman kita terhadap hewan
sangatlah revolusioner dalam implikasinya karena hal ini sering dengan cepat
mencetuskan ketidakcocokan kognitif dan kegelisahan yang mendalam. Kita telah
didarah-dagingkan sejak lahir dengan mental menggiring bahwa kita yang bahkan
menganggap diri kita sendiri cukup progresif bukanlah dipersiapkan secara khusus
untuk bertanya tentang pemerasan terhadap hewan dan manusia yang kita sebabkan
melalui pilihan makanan kita. Seperti sebuah bola yang ditekan ke dalam air,
perasaan kasih alami kita ingin keluar ke permukaan, jadi kita harus terus
bekerja untuk membuatnya tidak tertekan. Cara kita untuk menekan bola kebaikan
dan kepandaian ini tidak hanya dengan adanya koneksi namun juga dengan
menanamkan kebudayaan bantahan untuk memakan pola makan nabati, yang
terus-menerus kita ulangi pada diri kita sendiri jika bola tersebut mulai naik.
Hewan yang Disepelekan Secara Etika
Salah satu keberatan mendasar adalah belas kasihan
terhadap hewan memberikan mereka makna lebih daripada yang selayaknya. Dengan
keberatan ini, paradigma menggembala yang dominan merendahkan hewan, adalah
mencemoohkan para vegan yang peduli kepada mereka, sementara sesama manusia
lainnya menderita kemiskinan, kehancuran keluarga, peperangan, kecanduan
narkoba, terorisme, polusi, dan lain sebagainya. Keberatan ini sesungguhnya
merupakan penekanan kembali atas fundamental budaya menggembala yang
berorientasi kekuasaan yang mengesahkan penguasaan atas hewan. Hal ini
didasarkan pada sikap yang meremehkan hewan, bahwa penderitaan mereka di tangan
kita bukanlah suatu persoalan, dan bahwa jumlah mereka yang berlebihan juga
dapat dihabiskan. Jika kita bisa mengeluarkan pikiran dan hati kita ke luar dari
kotak yang dibangun oleh para penentu kebijakan bisnis untuk menyiksa dan
membunuh hewan demi makanan sebagai budaya kita, dimana ini menjebak pemikiran
dan perasaan kita dalam pandangan sempit para penguasa yang bermentalitas
menggembala, kita akan mulai melihat, merasakan, dan memahami hewan yang
sebenarnya.
Kita akan melihat bahwa, seperti halnya kita, hewan-hewan
adalah ekspresi dari kemampuan mencintai yang tanpa batas dan universal; bahwa,
seperti kita, mereka juga mendambakan kepuasan dan keinginan dalam kehidupan,
serta ingin menghindari rasa sakit dan penderitaan, seperti kita juga, mereka
sangat misterius. Jika kita sudah belajar apa saja tentang hewan, maka sangat
tidak mungkin jika kita dapat menempatkan mereka ke dalam kategori-kategori
pemahaman kita yang terbatas. Ketika kita melihat hewan di habitat aslinya
mungkin akan terlihat adanya persaingan, perjuangan, dan kekerasan, seperti para
ilmuwan yang telah terlatih untuk melihat hal itu, namun mungkin pula kita akan
melihat adanya kerja sama dan saling tolong-menolong, seperti yang telah
ditemukan oleh Kropotkin¹ dan para ilmuwan lainnya.
Selanjutnya, mungkin adalah untuk melihat perayaan, kegembiraan, humor, cinta,
kepedulian, serta interaksi dan ekspresi yang menakjubkan dari sebuah
kompleksitas bentuk kehidupan yang sungguh tak terbatas. Ada kebenaran mendasar
di dalam pepatah lama bahwa kita melihat hal-hal dengan tidak sebagaimana adanya
tapi dengan seperti apa yang kita inginkan.
Kita masih belum mulai menguak permukaan pemahaman
tentang hewan. Bagaimana kita bisa tahu bagaimana rasanya berenang seperti ikan
paus, di rumahnya di kedalaman laut dan bermigrasi ribuan kilometer, berbicara
dalam lagu-lagu bawah air dan bernapas bersamaan dalam suatu kesadaran yang
harmonis, atau terbang dalam kawanan burung, berputar dalam sinkronisasi tanpa
usaha, lima puluh burung menjadi satu, atau bersembunyi seperti anjing padang
rumput, menciptakan komunitas bawah tanah yang kompleks dengan kamar-kamar,
lorong-lorong, dan persimpangan yang seakan tiada akhir? Pengetahuan dan
pemahaman kita tentang makhluk di luar manusia sangat terpolusi lebih dari yang
kita akui oleh keyakinan kita atas superioritas kita sendiri, pemetaan
kebudayaan kita yang tidak diakui, dan keterpisahan kita dari alam. Teori-teori
kita tentang hewan di masa depan akan terlihat sebagai omong kosong kuno,
seperti halnya pada saat ini kita melihat teori abad pertengahan tentang
penyembuhan pendarahan melalui lintah serta tentang bumi sebagai pusat tata
surya.
Pemahaman kita begitu terkontaminasi oleh mentalitas yang
menganggap sesuatu hanya sebagai obyek, sehingga pembunuhan hewan secara
besar-besaran dan pemusnahan spesies serta komunitas alami terjadi pada tingkat
yang tak tertandingi dalam sejarah. Ketika kita melihat secara mendalam, kita
akan temukan bahwa pemahaman menumbuhkan dan melahirkan cinta kasih, dan cinta
kasih ini menumbuhkan dan membangkitkan pemahaman. Jika yang kita sebut
pemahaman tentang hewan tidak memicu dorongan cinta kasih dalam diri kita untuk
memungkinkan mereka menjalani kehidupan dan tujuan mereka, untuk memuliakan,
menghormati dan menghargai mereka, maka itu bukanlah pemahaman yang sejati. Ilmu
pengetahuan kita dalam banyak hal tidak mampu menjelaskan pemahaman yang sejati
ini, dan karenanya itu juga sering menjadi alat kekuasaan perusahaan, jadi yang
terbaik adalah untuk tidak terlalu bergantung pada ilmu pengetahuan itu dalam
mencari kebijaksanaan atau penyembuhan.
Mitos Pemangsaan Manusia
Keberatan kedua atas veganisme yang dicetuskan oleh
budaya menggembala adalah bahwa makan makanan hewani pastilah alami dan benar,
karena kita telah melakukannya sejak dulu. Respon pertama atas keberatan ini
adalah dengan mempertanyakan kebenaran dasarnya. Sebagai individu kita tahu
bahwa sering kali ada kontraproduktif dan melumpuhkan jika kita membawa strategi
dan keyakinan yang serupa seperti yang kita gunakan sebagai anak-anak ke masa
dewasa. Fakta bahwa kita telah melakukan sesuatu sejak dulu tidaklah menjadikan
hal itu benar atau tepat. Pembelaan yang sama atas perbudakan manusia digunakan
di sini di abad kesembilan belas. Bagaimana kita akan maju atau berkembang jika
kita terus membenarkan perilaku yang ketinggalan zaman dan keyakinan kuno itu
dengan mengesahkannya walaupun hal itu tidak layak? Perang, genosida,
pembunuhan, pemerkosaan, dan eksploitasi manusia telah berlangsung lama, tapi
kita tidak akan berani menggunakan keberadaan mereka yang sejak lama itu sebagai
pembenaran. Bahwa kita melakukannya untuk membenarkan perbudakan, eksploitasi,
pembunuhan, pemerkosaan, dan pemusnahan hewan, kemudian mengumbarnya, ini
benar-benar suatu kemunafikan. Ini melemahkan hasrat sehat kita untuk
tumbuh dalam kebijaksanaan dan membangun masyarakat yang lebih bebas, damai, dan
berkelanjutan.
Tanggapan kedua untuk keberatan ini adalah dengan mempertanyakan kejujurannya.
Apa yang dimaksud dengan “sejak dulu”? Sepuluh ribu tahun lamanya kita telah
menggembalakan dan memperjualbelikan hewan, dan dua puluh ribu sampai enam puluh
ribu tahun lamanya kita telah berburu hewan-hewan besar; sangat singkat bila
dibandingkan dengan tiga ratus ribu tahun homo sapiens berada di sini dan tujuh
sampai sepuluh juta tahun hominid berada di sini. Kerabat terdekat kita yang
masih hidup, yang dianggap mempunyai sembilan puluh lima sampai sembilan puluh
delapan persen DNA serupa kita, adalah gorila, bonobo, dan simpanse. Gorilla
yang kuat dan lembut hanya makan makanan nabati, demikian juga bonobo, dan
simpanse bermakanan pokok adalah makanan nabati. Nenek moyang kita sendiri
mungkin juga demikian, merujuk pada fisiologi kita, dan menurut bukti fosil
manusia pertama Australopithecus, makanan nabati adalah makanan pokok mereka.3
Masalahnya timbul sejak budaya kita memelihara mitologinya sendiri “Manusia,
Sang Pemangsa”, berdasarkan dan pembenaran akan kebiasaan kita memakan hewan,
menyebarkan gagasan yang salah bahwa, sebagaimana yang ditulis oleh zoologi
Swiss C. Guggisberg pada tahun 1970, “manusia telah menjadi pemangsa dan
pembunuh kejam di sepanjang keberadaannya.”4 Kebohongan yang serupa,
bahwa “manusia adalah sang pemangsa hewan buas” (Oswald Spengler), telah diulang
berkali-kali sehingga kita mempercayai dan melestarikannya. Jim Mason
menjelaskan:
Tertanam kuat dalam budaya kita, jadi, ini adalah beberapa nilai terkuat yang
berpihak pada pembunuhan dan konsumsi hewan sebagai makanan. Bagaimana mereka
bisa sampai tidak mempengaruhi studi mengenai pola makan manusia, penumpukan
makanan, dan evolusi?
Tentunya nilai budaya kita sebagai pemakan daging telah
menjadi salah satu faktor dalam membesar-besarkan peran pemburu pada evolusi
manusia dalam konteks yang sama di mana nilai-nilai patriarkat telah menjadi
salah satu faktor yang membesar-besarkan peran laki-laki dalam evolusi. Memang,
kedua kebudayaan ini menyatu dan bekerja sama dengan baik dalam mempromosikan
peran laki-laki-pemburu-perkasa dalam evolusi manusia. Berburu, sebagai
pekerjaan laki-laki, sangat dihargai oleh peneliti antropologi, terutama
peneliti laki-laki. Dan karena berburu menyajikan daging, maka itu dihargai dua
kali lipat oleh peneliti pemakan daging.
Mitos penciptaan-pemburu juga membantu masyarakat pemakan
daging untuk berhadapan dengan persoalan yang sangat rumit. Orang-orang, pada
umumnya, merasa tidak cukup nyaman membunuh hewan untuk makanan. Sebagian besar
mungkin tidak bersedia membunuh hewan milik sendiri, kecuali bila dalam kondisi
darurat. Masyarakat pemburu daerah utara bahkan mengemas aktivitas pemburuan dan
pembantaian mereka secara ritual—sebagian besar,
seperti yang kita lihat, hanya menenangkan kegelisahan dan ketidaknyamanan.5
Antropolog Donna Hart dan Robert W. Sussman, baru-baru
ini dalam terobosan sintesis bukti fosil dan primatologi, menjelaskan bahwa
manusia awal tidak memiliki gigi yang dapat mengunyah daging dan bukan pemburu
pemangsa. Mereka berpendapat bahwa pandangan “manusia pemburu” dan nenek moyang
kita sebagai “biadab yang haus darah” didasarkan pada tiga hal: “pandangan Barat
yang menyesatkan mengenai manusia modern, konsep dosa asal Kristen dan... ilmu
pengetahuan yang ceroboh saja” (kutipan dalam dokumen asli).6
Kita harus mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari
budaya kita, dan memahami bagaimana asumsi-asumsi ini terus melekat. Tidak ada
yang tahu persis mengapa kita manusia mulai membunuh dan memakan hewan. Menurut
Plutarch, pada hampir dua ribu tahun lalu menulis,
Orang-orang primitif yang pertama kali makan daging
mungkin melakukannya untuk alasan kemiskinan ekstrem. Orang-orang pada saat itu
dibatasi makan lumpur, kulit kayu, kecambah rumput, dan akar. Bila menemukan
buah pohon ek dan pohon beringin bisa saja itu menjadi alasan untuk suatu
perayaan. Jika saja orang-orang di masa itu bisa berbicara kepada kita pada hari
ini, mereka pasti akan memberi tahu bahwa betapa beruntungnya kita bisa memiliki
makanan sayuran lezat yang melimpah di ujung jari kita; dan betapa beruntungnya
kita bisa mengisi perut dengan tanpa mencemari diri kita sendiri dengan daging.
Mereka akan terheran-heran oleh nafsu yang mengarahkan orang-orang untuk makan
daging begitu banyak. Mereka akan bertanya, “Pernahkah Anda berpikir bahwa bumi
yang baik ini dapat menopang hidup Anda? Tidakkah merasa Anda malu karena
mencampur hasil bumi sehat ini dengan darah dan daging?”7
Saat ini ada banyak teori yang saling bertentangan
seperti mengapa kita mulai makan daging, dan mereka semua, sampai tingkat
tertentu, dikemas sebagai produk budaya menggembala itu sendiri. Banyak yang
mengaitkannya dengan migrasi perdana kita dari daerah tropis dan subtropis ke
daerah yang lebih dingin suhunya dimana makanan nabati tidak begitu mudah
tersedia. Banyak teori yang sengaja dibiaskan oleh asumsi-asumsi tidak nyata
dari para peneliti laki-laki yang menganggap bahwa laki-laki selalu mendominasi
perempuan, berburu hewan besar, dan berperang satu sama lain. Bahkan ketika
teori-teori terbukti tidak tepat, mereka cenderung meneruskannya karena
teori-teori itu sejalan dengan keseluruhan paradigma budaya menggembala, dan
mereka mendukung kepentingan penulis lain yang memiliki teori-teori keliru yang
serupa.
Sebuah contoh yang baik adalah Peter D'Adamo dan bukunya
yang populer berjudul Eat Right for Your Type,
yang mendorong makan makanan hewani berdasarkan golongan darah. D'Adamo menulis
bahwa orang-orang dengan golongan darah O paling cocok untuk makan daging,
karena tipe O diduga jenis golongan darah yang tertua.8 Buku-buku
tersebut seluruhnya didasarkan pada penelitian antropologi usang yang
mengasumsikan manusia awal (diduga bergolongan darah O) lebih condong sebagai
makhluk karnivora. D'Adamo mengabaikan penelitian
terbaru yang menunjukkan bahwa “Pemburu-pengumpul” awal lebih merupakan
pengumpul dibandingkan pemburu. Budaya massal, yang muncul dari opini usang
bahwa manusia gua perkasa yang menyeret perempuan dengan menarik rambutnya dan
menyantap mastodon untuk makan siang, dengan semangat mempercayai D'Adamo karena
buku-bukunya berpendapat bahwa kebanyakan orang, sebagai yang bergolongan darah
‘lebih tua’, “perlu” daging dan merasa tidak bugar bila menerapkan pola makan
vegan. Teori ini jelas membuat banyak orang tertarik, karena empat puluh sampai
enam puluh persen populasi kita adalah bergolongan darah O, tapi ini sangat
tidak tepat karena: ada banyak orang vegan bergolongan darah O yang bahagia dan
sehat, dan golongan darah tidak ada hubungannya dengan struktur dasar tubuh kita
yang dirancang sebagai makhluk herbivora atau dengan kekejaman yang ditimbulkan
pada hewan untuk makanan. Karena hal ini sangat sejalan dengan pandangan dasar
realitas budaya menggembala kita, walaupun demikian, buku tersebut laku keras
dan memberikan suatu pembenaran yang salah kepada sebagian besar orang untuk
terus menerapkan tradisi pola makan omnivora. Hal yang sama dapat dikatakan
untuk pola makan “protein tinggi” dan “rendah-karbohidrat” yang begitu populer
seperti yang sudah diduga, serta pola makan “tinggi zat besi” atau “tinggi
kalsium” yang mempromosikan makan makanan hewani. Telah lama terbukti bahwa pola
makan nabati memberi kita cukup kalsium, zat besi, dan protein, dengan tanpa
efek merusak dari hal-hal yang jahat seperti adrenalin, kolesterol, lemak jenuh,
dan endemik racun dari makanan hewani.
Dihadapkan dengan masalah-masalah yang menjadi ciri
budaya menggembala kita, kita mungkin seperti manusia metamorphosis yang terluka
oleh panah seperti dalam diskusi Buddha dengan murid-muridnya. Dia berkata bahwa
seseorang itu adalah bodoh jika ia mencoba untuk menemukan siapa yang
menembakkan panah, mengapa orang itu menembakkannya, di mana dia menembaknya,
dan lain sebagainya, sebelum mencabut anak panah dan mengobati lukanya sendiri
supaya ia tidak mati kehabisan darah, hanya untuk mendapatkan jawaban atas
pertanyaannya. Kita semua, sama halnya, sekarang dapat mencabut anak panah itu
dan mengobati luka akibat makan makanan hewani. Kita tidak perlu mengetahui
seluruh sejarah. Kita dapat dengan mudah melihat bahwa hal itu kejam dan sama
sekali tidak diperlukan; apa pun yang dilakukan orang di masa lalu, kita tidak
diwajibkan untuk meniru mereka jika didasarkan pada khayalan. Mungkin di masa
lalu orang mengira mereka perlu menyiksa hewan dan manusia untuk bertahan hidup,
dan bahwa kekejaman terjadi seakan memang diperbolehkan. Ini jelas tidak perlu
untuk kita saat ini, karena kita dapat mudah memukannya dengan berjalan ke toko
kelontong manapun, dan semakin cepat kita dapat terbangun dari kukungan mitos
kuno bahwa kita adalah makhluk predator sejak awal terciptanya, semakin cepat
kita akan mampu berkembang secara spiritual serta menemukan dan mencapai tujuan
kita di bumi ini.
Kita berada dalam posisi menguntungkan saat ini, karena
negara-negara industri di dunia, yang merupakan persentase pemakan hewan dan
umumnya berada di belahan utara, memiliki sistem distribusi makanan yang membawa
makanan nabati untuk semua penghuninya, dengan tanpa pengaruh iklim dan
topografi. Buah-buahan, sayuran, biji-bijian, polong-polongan, dan bahkan susu
kedelai, tahu, tempe, dan sebagainya, tersedia di pasar manapun. Saat ini hanya
sedikit orang yang harus makan makanan hewani karena alasan geografis. Sangatlah
ironis, bahwa mengonsumsi makanan hewani, yang rumit, sia-sia, kejam, dan mahal,
dianggap sederhana dalam budaya kita, dan bahwa pola makan vegan berbasis pada
makanan tanaman yang sederhana, efisien, murah, dan bebas dari kekejaman dalam
produksinya, dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan sulit. Namun demikian,
kebenaran akan datang menerangi secara perlahan, dan tekanan-tekanan dalam
paradigma lama akan semakin meningkat karena semakin banyak dari kita yang
menolak memperlakukan hewan sebagai objek untuk dimakan atau digunakan demi
tujuan kita.
Pembenaran oleh Ilmu Pengetahuan
Keberatan ketiga adalah bahwa ilmu pengetahuan menggunakan hewan dalam
percobaan, dan jika ilmu pengetahuan, yang telah membawa kita pada kemajuan
teknologi bernilai sangat tinggi, tidak mempertanyakan mengenai mendominasi
hewan, siapakah kita sehingga harus mempertanyakan hal itu? Kita bisa melihat
bahwa, teori-teori ilmiah selalu mencerminkan orientasi fundamental budaya
mayoritas dan bahwa ilmu pengetahuan serta budaya, bergema dan
bereproduksi satu sama lain. Seperti yang ditulis oleh Thomas Kuhn dalam karya
klasiknya, The Structure of Scientific Revolutions, seperti halnya
paradigma budaya, paradigma ilmiah menolak adanya perubahan. Sejarah ilmu
pengetahuan menunjukkan tidak terlalu banyak akumulasi bertahap tentang
pengetahuan sejati yang obyektif (yang sulit untuk dinyatakan keberadaannya
karena konteks cara untuk menentukan arti dan kebenaran) tetapi ada serangkaian
perubahan disiplin ilmu yang mendasari paradigma itu.
Paradigma adalah pola internal dalam menemukan pengetahuan dan pengalaman untuk
memahami dunia, serta untuk mempelajari paradigma tersebut. Di sekolah, selagi
kita mempelajari kulit luar pengetahuan (misalnya, fakta dan ide-ide tentang
biologi, sejarah, atau matematika), kita juga belajar pada tingkat paradigmatik
melalui bentuk proses pembelajaran itu sendiri. Ini adalah pembelajaran tidak
terlihat, yang disampaikan melalui struktur pendidikan seperti memberi tes,
membuat siswa saling bersaing, membagi ilmu pengetahuan ke dalam mata pelajaran
berbeda, dengan menggunakan hewan untuk pembedahan, memberikan otoritas kepada
guru atas siswa, dan lain sebagainya. Melalui pembelajaran paradigmatik ini
budaya tersebut mereproduksi dirinya sendiri. Paradigma dasar budaya dan ilmu
pengetahuan alam kita yang menjadi hitungan dan komodifikasi, dipelajari dengan
cara ini, meskipun sekarang cara itu semakin ditantang oleh paradigma yang
tingkatannya lebih tinggi, misalnya paradigma vegan dan spiritual yang berbelas
kasih terhadap semua makhluk serta yang terkait antara semua kehidupan. Kita
sekarang sudah mulai bisa melihat ketegangan antara paradigma-paradigma ini yang
tercermin dalam semua lembaga budaya kita.
Kuhn menekankan bahwa teori dan temuan-temuan yang mempertanyakan paradigma
ilmiah yang berlaku saat ini, biasanya datang dari para peneliti yang lebih muda
atau dari luar disiplin ilmu, dan yang lebih bebas berpikir di luar kotak
paradigmatis konvensional. Tanggapan dari mereka yang berpihak pada paradigma
dominan itu mulanya adalah mengabaikan dan menyangkal paradigma baru, dan
kemudian bila itu menjadi lebih kuat, mereka akan mengejek dan menyerangnya.
Akhirnya, jika paradigma baru itu terus mendapatkan kepercayaan dari waktu ke
waktu, maka paradigma baru itu dapat membalikkan dan mengganti paradigma
dominan. Sehubungan dengan makan, dimana tekanan terus dibangun dan terutama
muncul di pikiran orang-orang muda maupun orang-orang dari luar (luar-rumah),
yaitu paradigma dominan ini tidak bisa lagi hanya mengabaikan paradigma vegan.
Ilmu pengetahuan, sebagai garda depan paradigma dominan, dapat menjadi alat yang
potensial untuk menjatuhkannya. Diterapkan dan dipublikasikan secara terbuka dan
adil, ilmu pengetahuan dengan mudah dan jelas menunjukkan bahwa pola makan
nabati jauh lebih sehat serta lebih berkelanjutan dibandingkan pola makan
hewani, dan bahwa hewan mengalami berbagai jenis perasaan, termasuk penderitaan
fisik dan psikologis ketika dibatasi dan diperlakukan dengan kejam. Namun,
paradigma lama ini dilindungi oleh mereka yang mengendalikan dana untuk
lembaga-lembaga ilmiah. Penelitian ilmiah cenderung “membuktikan” kesimpulan
yang mendukung agenda perusahaan. Dengan dukungan dana perusahaan untuk
penelitian besar-besaran di universitas-universitas, serta dengan industri
pemerintah yang berorientasi melayani, sangatlah mudah bagi dua industri
terbesar negara—makanan dan obat-obatan—untuk menghasilkan stabilitas arus
penerbitan artikel-artikel, buku-buku, tulisan-tulisan, dan penelitian ilmiah
yang dipublikasikan dengan baik, dimana semuanya itu mengalihkan perhatian dari
peranan makanan hewani sebagai sumber penyakit, atau menyatakan bahwa makanan
hewani mengandung nutrisi penting. Di belakang kedua industri besar itu
bersembunyi industri perbankan, yang telah menginvestasikan miliaran dolar untuk
membiayai kompleksitas industri pengobatan dan daging berteknologi tinggi, serta
membutuhkan permintaan baik makanan hewani maupun perawatan medis dalam jumlah
yang berlimpah dan dapat diandalkan. Veganisme sangatlah berbahaya bagi kedua
hal ini, dan bagi kerajaan ekonomi status quo. Karenanya, ada tekanan yang
sangat besar dalam komunitas riset untuk menolak gerakan menuju evolusi
kesadaran dan welas asih lebih tinggi yang terkandung dalam idealisme vegan.
Alih-alih mengandalkan ilmu pengetahuan untuk mengesahkan veganisme dan dasar
fisiologi herbivora kita, mungkin kita dapat berbuat lebih baik dengan
mengarahkan perhatian untuk kebenaran universal: tidak dapat disangkal lagi
bahwa hewan mampu merasakan penderitaan; tubuh fisik kita sangat dipengaruhi
oleh pikiran, perasaan, dan aspirasi, dan kita tidak dapat menuai kebahagiaan
untuk diri kita sendiri dengan menabur benih penderitaan bagi sesama. Juga kita
tidak mungkin dapat bebas sementara secara tidak wajar masih menyiksa yang lain.
Kita semua terhubung. Hal ini merupakan pengalaman hati dan veganisme, akhirnya,
adalah suatu pilihan untuk mendengarkan kebijaksanaan di dalam hati kita, karena
hal itu akan membuka pemahaman keterkaitan dan kesatuan hakiki dari semua
kehidupan.
Dengan memperdalam pemahaman kita tentang kebenaran ini, nantinya ini akan
memberikan panduan yang sangat dibutuhkan bagi ilmu pengetahuan. Einstein memang
benar dan tepat ketika ia menulis, “Hal ini telah menjadi jelas bahwa teknologi
kita telah melampaui kemanusiaan kita.” Terputus dari pengetahuan intuitisi
langsung mengenai keterkaitan kita terhadap satu sama lain, ilmu pengetahuan
dapat memperkuat khayalan mental keterpisahan dan dengan cepat membuat kita
menghancurkan diri sendiri. Sekarang kita harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan
konvensional adalah aktualisasi mitologinya sendiri dengan seperangkat
nilai-nilai sarat asumsi yang diambil berdasarkan pada kepercayaan agama apapun,
dan bahwa hal ini dengan mudah dapat dihacurkan, sebagaimana yang terjadi dengan
agama lainnya, oleh mereka yang memiliki uang dan pengaruh.
Pembenaran oleh Agama
Lembaga keagamaan kita sering mengkhotbahkan
bahwa kita adalah makhluk spritual dan hewan-hewan bukan, bahwa kita mempunyai
roh dan mereka tidak punya, bahwa tidak masalah untuk memakan mereka karena kita
sudah diberi kuasa atas mereka. Meskipun keberatan ini mencerminkan orientasi
budaya pengembalaan di mana mereka berasal, cendikiawan Alkitab menunjukkan
bahwa kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “dominasi” dalam injil Kejadian
mempunyai konotasi pelayanan dan pasti tidak akan pernah menyiratkan atau
membenarkan eksploitasi, pengurungan, pengabaian, dan penyiksaan ekstrim yang
diperlakukan saat ini pada hewan-hewan. Alkitab telah ditafsirkan secara luas
dengan berbagai cara, dan lembaga-lembaga keagamaan yang dilihat sebagi
kendaraan utama untuk moral dan penuntun etika budaya kita, seperti halnya ilmu
pengetahuan, sudah hampir tidak pernah mempertanyakan tentang mengadopsi
paradigma pengembalaan yang menganggap hewan-hewan itu hanya sebagai obyek
miliknya.
Namun, ketika kita melihat
doktrin yang dangkal, kita akan temukan bahwa ada suara kuat yang melawan
penindasan hewan dalam tradisi awal agama Yahudi dan Kristen, dari para nabi
Yahudi kemudian seperti nabi Yesaya dan Hosea sampai Yesus serta murid-murid
Yahudinya; hingga bapa gereja terdahulu seperti St. Jerome, Clement, Tertullian,
St. John Chrysostom, dan St. Benedict; hingga para penyuara belakangan dari John
Wesley (pendiri Methodisme), William Metcalf (Pendeta
Protestan dan penulis buku pertama tentang vegetarisme yang diterbitkan di
Amerika Serikat), Ellen White (pendiri Gereja Advent Hari Ketujuh), dan Charles
dan Myrtle Fillmore (rekan pendiri dari Unity School of Practical Christianity);
serta para rabi penyuara dan penulis Yahudi terkemuka seperti Shlomo Goren,
Moses Maimonides, Rabi Abraham Isaac Kook, dan Isaac Bashevis Singer.9
Cita-cita vegan yang berbelas kasih dan berkeadilan bagi
hewan telah dilafalkan selama berabad-abad, sering kali dari pendirian agama,
amat menarik dan instruktif untuk melihat bagaimana suara-suara itu sudah hampir
dibungkam sama sekali atau dipinggirkan oleh budaya pengembalaan. Tampaknya ini
sudah menjadi tindakan refleks di bawah sadar. Sebagai contoh, jika kita
membaca ajaran Yesus, kita akan temukan desakan yang penuh kasih agar bermurah
hati dan mengasihi, tetapi kemungkinan bahwa Yesus yang menurut sejarah adalah
seorang vegan, telah menjadi gagasan yang radikal bagi sebagian besar orang
Kristen. Namun demikian, nasehat Yesus bahwa kita harus saling mengasihi dan
tidak melakukan kepada orang lain apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan
pada kita adalah inti dari etika vegan, yaitu belas kasih yang tak terbatas,
termasuk semua yang bisa menderita oleh tindakan kita.
Menyoroti hal ini, adalah menarik bahwa Keith Akers
membuktikan secara meyakinkan dalam The Lost
Religion of Jesus (Agama Yesus yang Hilang) bahwa
Yesus dan para pengikutnya yang paling awal adalah vegetarian etis yang
berkomitmen anti kekerasan dan keselarasan rohani dalam hidup yang sederhana di
atas segalanya. Menggambarkan sepenuhnya tentang sumber bahan-bahan tertulis
paling awal dari para pengikut awal Yesus, yaitu orang-orang Yahudi yang dikenal
sebagai Ebionit, ilmu pengetahuan Akers dengan hati-hati mengungkapkan bagaimana
pesan asli dari Yesus telah dirusak dan ditekan, ia menunjukkan bagaimana
melalui perpecahan dan tekanan di dalam gereja mula-mula, para pengikut Yesus
dengan jelas diakui oleh orang sezamannya sebagai orang-orang vegetarian etis
penentang kurban yang sedang berlangsung di rumah ibadah di Yerusalem.
Pesan Yesus tak tertahankan adalah radikal, karena itu adalah
pesan vegan yang revolusioner tentang kemurahan hati dan kasih bagi semua
makhluk yang menyerang langsung pada mentalitas dominasi dan eksklusif yang
mendasari baik budaya pengembalaan yang kita jalankan sekarang maupun budaya di
zaman Yesus. Yesus mempertanyakan dasar dari perang dan penindasan, yang
kemudian, seperti yang terjadi sekarang, membunuh dan memakan hewan. Kembali ke
zaman tersebut, kurban yang dilakukan oleh imam pada tempat ibadah di Yerusalem
adalah sumber utama kekayaan dan gengsi bagi struktur kekuasaan agama Yahudi
serta sebagai sumber daging bagi rakyat. Konfrontasi Yesus di tempat ibadah, di
mana dia mengusir hewan-hewan yang dijual untuk disembelih merupakan serangan
yang berani terhadap paradigma pengembalaan fundamental yang memandang hewan
hanya sebagai barang, obyek kurban, dan makanan. Akers menulis, “Kita harus
ingat bahwa tempat ibadah pada saat itu lebih mirip seperti toko daging daripada
seperti gereja atau sinagoga zaman modern manapun, ‘Membersihkan’ tempat ibadah
adalah sebuah tindakan pembebasan hewan.”10 Seperti Lakers, J.R.
Hyland dan lainnya menulis, karena tindakan revolusioner yang terang-terangan
ini sehingga Yesus harus disalibkan oleh elit kekuasaan budaya pengembalaan itu.
Akers berpendapat bahwa alasan gereja mula-mula begitu
terganggu oleh perpecahan, karena Paulus dan yang lainnya ingin membawa gereja
ke arah yang hampir seluruhnya berlawanan dari ajaran-ajaran Yesus yang
sesungguhnya. (Paulus pada khususnya adalah antagonis terhadap veganisme yang
adalah prinsip inti sejati dari ajaran Yesus). Akers menjelaskan banyak bagian
dalam Kisah Para Rasul, seperti konflik antara Paulus dan Yakobus, saudara Yesus,
dalam menyoroti tulisan-tulisan paling awal yang dikaitan dengan Clement,
Epifanius, Tertulian, dan Origen, yang mengarah ke pengertian bahwa Yesus,
Petrus, dan murid-muridnya yang terdahulu adalah vegetarian etis, sedangkan
Paulus, Barnabas, dan lainnya yang datang kemudian adalah bukan. Melalui analisa
sejarah yang rinci, Akers menunjukkan bagaiman gerakan non-vegetariannya Paulus
akhirnya mampu, dan sering kali melalui cara yang berutal, memudarkan dorongan
ajaran Yesus tentang anti-kekerasan, dan itulah sebabnya orang Kristen asli,
Ebionit yang vegetarian, tidak dapat tetap bertahan.
Dalam agama, seperti bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat,
ketidak-konsistenan paradigma utama tidak bisa ditoleransi. Paradigma yang
dominan dari budaya eksploitasi orang tua, dilambangkan dan diartikulasikan
dalam kurban hewan, dan bagi Yesus yang dikenal secara luas sebagai Tuhan dan
Juruselamat oleh orang-orang budaya itu, tantangannya terhadap kurban hewan
harus disembunyikan dan disangkal. Lalu mengapa oposisi revolusionernya untuk
perang, untuk elitisme agama yang tidak mencari keuntungan pribadi dengan
mengorbankan orang lain, untuk nasionalisme, rasisme, dan banyak karakteristik
fundamental lainnya dari budaya orang tua tetap dipertahankan dan disucikan
dalam gererja? Penolakannya untuk membunuh hewan secara drastis lebih radikal,
praktis, dan mengancam ordo yang telah terbentuk, karena itu mempertanyakan
tentang makanan kita, pemandangan intim pada kehidupan kita sehari-hari. Namun,
kita tidak menyatakan perang ini dalam tiga kali sehari. Pola penyanggahan yang
sama terus berlanjut hingga sekarang. Seperti disebutkan sebelumnya, ajaran
welas asih dari rekan pendiri Unity, Charles dan Myrtle Fillmore, yang
menganjurkan etika kebaikan vegan terhadap hewan telah hampir sepenuhnya ditekan
dan dilupakan dalam waktu kurang lebih dari tujuh puluh tahun! Sementara itu
para pendeta dan jemaat Unity yang dengan rakus dan hormat membahas buku-buku
Fillmore dan ajaran-ajaran tentang doa, metafisika, dan penyembuhan Kristen,
ajaran mereka tentang veganisme malah diabaikan atau dilewatkan sebagai salah
satu “kebiasaan khusus” mereka.
Sebuah keberatan untuk mengadopsi cara makan berbasis tanaman
yang manarik yaitu banyak orang Kristen bersandar pada kata-kata Yesus bahwa
“Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar
dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Matius 15:11).11 Ini
sering disalah tafsirkan sebagai memberi kita izin untuk makan apa saja yang
kita suka dan dan dan bukan menginstruksikan kita untuk berhati-hati dalam
bicara kita. Sekarang jelas sekali bahwa keberatan ini telah melenceng
seluruhnya. Ketika kita memesan ayam atau burger keju di toko, restoran, atau
pasar, itu adalah saat kita terlibat dalam kekerasan yang menyebabkan “pembunuhan,”
“pencurian,”12 dan penderitaan bagai hewan-hewan yang tak berdaya dan
orang-orang yang kurang beruntung. Pada saat itu kita menjadi seperti jenderal
yang memberi perintah untuk membunuh seseorang di negara yang jauh, meskipun
kita tidak pernah melihat darah atau mendengar jeritan, kita tetap bertanggung
jawab atas pembunuhan tersebut.
Ada banyak penganut Buddha yang menggunakan pembenaran serupa
untuk makan makanan hewani. Meskipun Buddha Gautama dengan jelas melarang makan
daging hewan, ada penganut Buddha yang mengatakan bahwa ia mengijinkan kita
makan hewan yang tidak secara khusus dibunuh untuk kita. Ayam di pasar atau
burger keju di restoran tidak dipesan secara khusus untuk kita, itu sudah ada di
sana. Ini jelas tidak berlaku untuk keadaan kita, namun karena segera setelah
kita memesan ayam atau burger keju, persediaan di pasar atau restoran itu habis,
dan keesokan paginya karena akan kita beli, pesanan lain akan ditempatkan untuk
ayam mati atau burger keju lainnya, dan hewan-hewan akan diangkut dan dibunuh
untuk menyediakannya – secara khusus karena kita.
Keberatan standar “agama” yang lain mengenai hewan-hewan yang
kita celakakan untuk makanan adalah menyangkalnya jiwa-jiwa yang kita berikan
pada diri kita sendiri. Mentalitas dominasi selalu merupakan mentalitas
pengecualian, dan seperti konsumsi hewan, ini bahkan mencapai gerakan Zaman
Baru. Sebuah contoh yang baik adalah Seat of the Soul (Tempat Roh
Bersemayam) karya Gary Zukav, sebuah buku terlaris yang dihargai oleh orang yang
menganggap dirinya progresif, berpikiran terbuka, dan sadar rohani. Tidak
mengherankan, dalam bab berjudul “Roh-roh”, kami menemukan pernyataan Zukav
bahwa hanya manusia yang memiliki roh individu, dan setiap hewan hanyalah bagian
dari apa yang dia sebut sebagai “roh kelompok” spesiesnya. Setiap manusia
memiliki roh. Perjalanan menuju perohan adalah yang membedakan kerajaan manusia
dari kerajaan hewan. Hewan tidak memiliki roh individu. Mereka memiliki roh
kelompok. Setiap kucing adalah bagian dari roh kelompok kucing, dan seterusnya.”13
Dia juga mengatakan bahwa ada hirarki dalam roh kelompok hewan, dan bahwa roh
lumba-lumba dan kera lebih tinggi daripada roh anjing, dan ada roh yang lebih
tinggi daripada kuda, dan seterusnya. Meskipun dia tidak memberikan bukti untuk
hipotesanya.14
Buku ini nampaknya telah menjadi gelombang lain di lautan
sastra yang telah dihasilkan oleh kebudayaan kita untuk mencoba membenarkan
tentang penyalahgunaan hewan di atas alasan rohani kita. Para pembaca buku Zukav
tak diragukan lagi merasa nyaman mengetahui bahwa ayam, ikan, sapi, atau babi
yang mereka makan bukanlah benar-benar sebuah individu dengan roh, tapi hanya
sebuah ekspresi dari “roh kelompok” spesiesnya. Sungguh ironis bahwa sementara
buku itu dimaksudkan untuk menjelaskan kerohanian dan meningkatkan kesadaran,
malah sebenarnya menjadi kebalikannya, mengurangi kepekaan pembacanya dan
membutakan mereka terhadap fakta penderitaan yang dialami oleh individu hewan
karena kita mengurangi mereka menjadi sebuah obyek, hanya karena pecahan dari
hipotesa “roh kelompok.”
Hal itu mengembalikan ingatan ke era perbudakan di Amerika
Serikat, ketika para pemimpin agama dengan Alkitab di tangan, menggunakan
kata-kata serupa untuk menyatakan bahwa orang kulit hitam tidak mempunyai roh
individu, bahwa mereka lebih seperti hewan dibandingkan dengan orang kulit putih
yang dikaruniai roh.15 Hal itu juga mengembalikan ingatan ke Thomas
Aquinas yang pada seribu tahun yang lalu, menyatakan bahwa hewan maupun
perempuan tidak mempunyai roh. Meskipun orang hitam dan perempuan pada akhirnya
diberikan roh, namun nampaknya mereka yang memiliki kekuasaan dapat menentukan
siapa yang memiliki roh untuk tujuan mereka sendiri.
Voltaire dengan bijak berkata, “Jika kita percaya pada
kemustahilan, kita akan melakukan kekejaman.” Budaya adalah produk dari
percakapan, dan percakapan kita masih didominasi oleh ide-ide dan asumsi
paradigma pengembalaan eksploitif yang diberikan kepada kita semua sejak
kanak-kanak. Untuk menghentikan kekejaman itu, kita harus bangkit dari keyakinan
tidak masuk akal yang mengatakan bahwa hewan-hewan adalah tidak berperasaan,
disepelekan, dan obyek barang yang tak mempunyai roh, dan menentang
lembaga-lembaga agama kita untuk memperluas perlindungan etis bagi para hewan.
Ini tentu saja artinya menentang makanan dalam pusat kehidupan sosial dan agama,
serta kekejaman “yang tersembunyi di depan mata” pada makanan-makanan itu.
Kata-kata oleh Swami Prabhupada berikut ini mengungkapkan sebuah alternatif bagi
pradigma budaya kita yang dominan.
Prabhupada: Beberapa orang mengatakan, “Kami percaya bahwa
hewan-hewan tidak memiliki roh karena mereka ingin makan hewan, namun
sebenarnya hewan-hewan memiliki roh.
Wartawan: Bagaimana Anda tahu bahwa hewan memiliki roh?
Prabhupada: Anda juga bisa tahu. Berikut ini adalah bukti
ilmiah. Hewan makan, Anda makan; hewan tidur, Anda tidur; hewan mempertahankan
diri, Anda nenpertahankan diri; hewan berhubungan seks, Anda berhubungan seks;
hewan punya anak, Anda punya anak; Anda punya tempat tinggal, mereka juga punya
tempat tinggal. Jika tubuh hewan dipotong, ada darah; jika tubuh Anda dipotong,
juga ada darah. Jadi semua persamaan ini ada. Sekarang, mengapa Anda
menyanggah suatu kesamaan keberadaan jiwa ini? Itu tidak masuk akal. Anda pernah
mempelajari logika? Dan dalam logika, ada sesuatu yang disebut analogi. Analogi
artinya menarik satu kesimpulan dengan menemukan banyak titik kesamaan. Jika ada
banyak titik kesamaan antara manusia dan hewan, mengapa menyanggah satu
kesamaan? Ini tidak logis. Ini bukan ilmu pengetahuan.16
Dan Schopenhauer, dalam mengkritik bagaimana beberapa orang Nasrani
memperlakukan hewan, menulis, “Sungguh memalukan adanya sebuah moralitas yang
gagal mengetahui hakikat kekal yang ada pada setiap benda hidup, dimana ia
bersinar dengan sangat nyata dari semua mata yang dapat melihat matahari.”17
Apakah kita percaya atau tidak bahwa hewan mempunyai jiwa, tapi ketahuilah bahwa
mereka dapat merasakan penderitaan seperti kita sehingga ini mengharuskan orang
beragama agar tidak menyebabkan mereka sakit. Sebagai alat panduan dan dorongan
pada ajaran spiritual kita, lembaga keagamaan kita mempunyai kewajiban mendalam
untuk dikabarkan atas nama semua makhluk yang tak bisa berbicara dan rapuh, dan
sampai ke tingkat kegagalan mereka dalam kewajiban ini, mereka mengkhianati misi
mereka dan malah menjadi pembuat teror dan penindas. Gagal bertindak melakukan
perlindungan hidup itu sendiri adalah sebuah tindakan, sebuah pemungkiran.
Dengan melihat ke arah lain dan mengabaikan penderitaan dari hewan-hewan yang
tak berdaya, lembaga keagamaan telah mendukung agenda yang tidak
berperikemanusiaan dalam budaya kita. Dengan sengaja mengabaikan untuk
mempertahankan kehidupan yang tidak bersalah dari kekejaman adalah tindakan yang
tidak bermoral, dan dengan kegagalannya, agama telah kehilangan mandatnya dan
hilang kredibilitasnya sebagai otoritas moral atau sebagai otoritas
spiritualitas.
Pemungkiran agama telah memungkinkan kekejaman berlangsung dan disahkan untuk
masyarakat umum. Pemungkiran ini adalah skema pembelajaran yang khusus dari
kebudayaan kita, khususnya yang berhubungan dengan keadaan mengerikan dari
hewan-hewan yang kita makan dan gunakan; ini adalah pelajaran setiap hari dari
sikap tidak melihat, tidak peduli, pemutusan hubungan dan ketidakpedulian.
Pelajaran ini jika dilihat dengan cara lain, adalah kematian spiritual setiap
orang yang melakukannya. Dalam mendorong hal ini, lembaga keagamaan menunjukkan
seberapa jauh mereka telah tersesat dari rahmat dan semua kebaikan yang dapat
dilihat, diajarkan dan dijalankan oleh mereka yang tercerahkan, dan evolusi
spiritualnya ini telah menginspirasi lembaga mereka. Ajaran-ajaran spiritual
tentang keterhubungan kita dengan etika vegan yang berkasih universal, selain
vital dan transformatif, juga adalah kesesuaian yang mendalam dengan inti
instruksi agama-agama dunia, yaitu untuk mengasihi makhluk lain. Ajaran-ajaran
ini berbahaya bagi status quo, karena dapat menghancurkan berlakunya paradigma
yang membenarkan pemungkiran, pengagungan diri dan kekerasan.
Sebagai omnivora, kita mungkin membenci para vegan yang mengingatkan kita akan
penderitaan yang kita sebabkan, karena kita lebih nyaman dengan menutupi semua
keburukan, tapi kenyamanan kita tidak ada hubungannya dengan keadilan atau
dengan kedamaian otentik batin. Ini adalah kenyamanan karena penutupan dan
pemutusan hubungan, dan ini harus dibayar dengan harga yang sangat mengerikan.
Kita mungkin merasionalisasi makanan kita dengan mengatakan bahwa kita selalu
berterima kasih kepada jiwa hewan karena telah memberikan tubuhnya untuk
memelihara kita. Tapi jika seseorang mengurung kita, menyiksa kita, mencuri anak
kita, lalu menusuk kita sampai mati, akankah kita tetap menyetujuinya selama
mereka berterima kasih kepada jiwa kita? Pemutusan hubungan dan penurunan rasa
mudah terpengaruh dalam kenyamanan tidaklah sama dengan kedamaian batin, yang
adalah buah kesadaran dan kehidupan selaras dengan pengertian yang datang dari
kesadaran ini.
Jika kita percaya pada absurditas, kita akan melakukan kekejaman, dan kita akan
menurunkannya ke anak-anak kita, generasi demi generasi. Tindakan kekerasan kita
berbicara jauh lebih nyaring daripada kata-kata kita yang penuh damai, dan ini
adalah dilema yang tak bisa hilang dari kebudayaan menggembala yang kita sebut
rumah. Jalan satu-satunya untuk mengatasi dilema ini adalah dengan berkembang
secara kognitif dan secara etika menuju ke tingkat yang lebih tinggi di mana
tindakan kita tidak lagi mengingkari kata-kata kita dan memaksa kita pada
ketidaksadaran dan penyangkalan, melainkan sejajar dengan penguatan kata-kata
kita dan ajaran-ajaran spiritual universal yang mengajarkan kita untuk saling
mengasihi, dan untuk mengasihi yang lemah dan rentan, bukannya mengeksploitasi
dan mendominasi mereka. Kita semua merayakan Jiwa misterius yang tak terbatas,
yang layak mendapat penghormatan dan penghargaan. Jika agama-agama kita tidak
menekankan hal ini dan termasuk kita semua, maka sudah saatnya untuk
menggantikan mereka dengan ajaran-ajaran spiritual dan tradisi-tradisi yang
melakukan sebaliknya.
Bantahan Lainnya
Ada sejumlah bantahan lain untuk veganisme yang mungkin digunakan oleh pikiran
kita untuk tetap membatasi kita dengan membenarkan pengekangan dan penganiayaan
makhluk hidup lain. Seperti halnya memperbudak dan membunuh manusia tak
bersalah, tidak ada pembenaran yang berlaku untuk perbudakan dan pembunuhan
hewan yang tak bersalah, tapi pikiran kita, yang telah didoktrin dengan budaya
penggembalaan, mungkin masih menentang dengan pernyataan berikut ini: tumbuhan
juga merasakan sakit; vegetarianisme juga merupakan kekejaman, karena pemanenan
kacang-kacangan yang besar turut membunuh tikus; apa yang akan kita lakukan jika
semua sapi tidak ada yang memakan?; hewan makan hewan lainnya, mengapa kita
tidak?; Saya tidak suka menjadi terlalu keras dan berpikiran sempit; Saya hanya
ingin makan secara normal; Saya tidak ingin menjadi “lebih suci daripada Anda”
seperti kebanyakan orang vegan/vegetarian; Saya tidak suka jika orang mengatakan
apa yang harus saya makan.
Bagi banyak orang, argumen-argumen seperti itu membenarkan untuk terus
memperlakukan hewan sebagai komoditas, mengurung, memotong, membunuh dan memakan
hewan untuk makanan, sehingga dibutuhkan beberapa respon. Pertama, bagi
tumbuhan, tikus, jika kita benar-benar peduli pada mereka, kita hanya perlu
mengingat bahwa delapan puluh persen dari seluruh biji-bijian di Amerika Serikat
digunakan untuk memberi makan hewan yang memproduksi daging, telur dan produk
susu; beralih ke pola makan nabati sebenarnya menyelamatkan tumbuhan juga
menyelamatkan makhluk-makhluk kecil yang hidup di ladang-ladang.18
Ratusan juta hektar hutan yang subur dan habitat satwa liar telah dan
terus-menerus dihancurkan untuk menanam jagung, kacang kedelai dan tumbuhan
lainnya yang digunakan untuk memberi makan miliaran hewan yang kita makan di
setiap tahunnya. Jutaan hektar hutan tropis terus-menerus dihancurkan untuk
menyediakan daging sapi murah demi outlet-outlet makanan siap saji Amerika. Jika
kita benar-benar peduli akan tumbuhan dan hewan, menjadi vegan adalah satu cara
yang luar biasa untuk membantu ekosistem, habitat dan populasi hewan agar pulih
kembali. Kedua, dengan secara perlahan kita mengurangi pembiakan sapi, padang
rumput, gunung dan daerah kering di negara kita, yang telah dihancurkan oleh
ternak, khususnya di daerah Barat,19 yang akan secara perlahan dapat
pulih kembali, dan sungai-sungai, waduk, flora, burung-burung, ikan, anjing
padang rumput, elk, anjing hutan, kijang dan satwa liar asli lainnya akan dapat
kembali berkembang, membawa ekosistem yang sudah stres dan terkuras kembali
hidup dan kembali lagi merayakan hidup.
Ketiga, memang benar bahwa beberapa hewan makan hewan lainnya, dan hewan dengan
fisiologi memakan tumbuhan tidak (kecuali jika dipaksa oleh manusia untuk
melakukannya) akan minum susu yang disediakan untuk spesies lain. Ini menyatakan
bahwa kita menggunakan rasionalisasi itu dalam kasus ini, tapi tidak dalam
hubungannya dengan kebiasaan hewan lain yang kita lebih suka untuk tidak
menirunya, seperti praktik oleh beberapa spesies hewan jantan yang membunuh dan
memakan hewan muda dari spesies mereka sendiri. Ruang lingkup dari perilaku
hewan sangatlah luas dan misterius, dan kita tentu setuju bahwa hampir semua
perilaku apapun yang dapat dibayangkan pada manusia, kita dapat menemukannya
dalam beberapa hewan, namun kita tentunya tidak akan melakukannya. Sementara
untuk bantahan lainnya, jika setiap waktu kita ingin makan daging hewan
tertentu, maka kita harus memegang hewan yang sangat ketakutan di tangan kita,
lihatlah pada matanya, dan tusuklah dia dengan pisau, kita akan menemukan
rasionalisasi-rasionalisasi ini menguap dengan cepat. Akhirnya, bantahan
terakhir yang ironis; kita semua telah diberi tahu apa yang untuk dimakan selama
hidup kita, dan itulah satu-satunya alasan mengapa kita memakan makanan hewani.
Ini membawa kita ke bantahan umum lainnya untuk berubah ke makanan nabati: bahwa
terlalu sulit, tidak mudah atau tidak menggugah selera untuk melakukannya.
Bantahan pola pikir menggembala yang hampir universal ini mengabaikan kesulitan
dan ketidaknyamanan yang kita bebankan kepada hewan, orang-orang yang kelaparan
kurang dan beruntung serta generasi masa depan, dengan memakan makanan hewani.
Ini juga mengabaikan hubungan antara makan hewan dan masalah berat akan polusi,
terorisme, kecanduan obat-obatan, penyakit kronis dan hal lainnya yang kita
bicarakan sebelumnya. Para pemilik budak menggunakan bantahan serupa untuk
membenarkan komoditas manusia, dan seperti sebuah perang, mereka tidak bersedia
untuk melepaskan kenyamanan memperbudak orang. Betapa sulitnya, betapa jadi
tidak nyaman dan tidak menggugah seleranya penderitaan yang harus kita tabur dan
tuai saat ini sebelum ia memotivasi kita untuk mengubah pola pikir kita dan
mengubah perilaku kita?
Bantahan yang lebih serius untuk veganisme adalah kebalikan dari yang
sebelumnya. Bantahan ini menyatakan bahwa kita tidak dapat mengharapkan pengaruh
positif yang impresif dalam kehidupan individu dan kolektif kita dengan
menjalankan pola makan yang lebih sederhana, lebih nikmat dan lebih terjangkau
ini. Bantahan ini dipengaruhi oleh mentalitas budaya kekerasan kita, yang
menganggap bahwa perdamaian, kebahagiaan, keselarasan dan pemenuhan adalah sulit
dicapai. Tentu saja itu sulit dicapai jika kita masih terus melakukan ritual
makanan sehari-hari yang memaksa kita melihat makhluk-makhluk hanya sebagai
objek, terus-menerus membunuh mereka, serta memisahkan dan mematikan perasaan
kita untuk menjaga keseluruhan urusan yang tersembunyi dari diri kita. Namun,
kita akan menemukan bahwa seiring kita mulai melihat hewan sebagai makhluk unik
dengan ketertarikan, perasaan, determinasi, dan tujuan-tujuan, dan seiring
perilaku kita berubah menggambarkan pandangan ini, makan secara harmonis, damai
dan bahagia, ini akan mulai berkembang dengan mudah dan alami dalam kehidupan
kita. Dengan menjalankan tindakan tanpa kekerasan dalam kehidupan sehari-hari
kita, kita akan mudah menemukan ketenangan hati yang bersinar sebagai dasar
keberadaan kita.
Sementara menjadi vegan mungkin nampaknya cukup mudah, lalu mengapa vegan tidak
lebih umum dalam kebudayaan kita, khususnya di antara jutaan manusia yang
menganggap diri kita berkomitmen gigih pada pertumbuhan spiritual, keadilan
sosial, perdamaian dunia, kebebasan agama dan peningkatan kesadaran? Dengan
mengambil tanggung jawab atas kekejaman yang kita sebabkan pada makhluk lain dan
diri kita melalui tindakan, kata-kata dan pemikiran, kita tidak akan pernah
semudah itu lagi untuk menyalahkan orang lain atas kekejaman yang terjadi di
dunia kita. Dengan melihat secara umum sejumlah kecil orang yang telah
benar-benar menjadi vegan di budaya kita, ini telah menunjukkan bahwa komitmen
tersebut memerlukan terobosan yang telah secara umum sulit didapat karena
mentalitas dominasi dan pengecualian yang telah kita perdalam sejak dilahirkan.
Ada hal tentang veganisme yang tidak mudah, tetapi kesulitan itu tidaklah
melekat dalam veganisme, namun ada di dalam budaya kita.
Veganisme itu sendiri bukanlah sesuatu yang menyelesaikan segalanya, tapi
veganisme secara efektif menghilangkan halangan mendasar dari kebahagiaan kita,
kebebasan dan ketertutupan kita. Sebagai ekspresi hidup dan terus berjalan akan
tindakan tanpa kekejaman, veganisme adalah perantara yang amat penuh kekuatan
untuk mengubah kehidupan individu kita, khususnya karena budaya kita menentang
dengan kerasnya. Dengan menjalani kehidupan vegan secara alami dan konsekuen,
ini mendorong kita untuk terbangun dari ketidaksadaran yang tidak diragukan lagi
akan membawa keselarasan dan memungkinkan berhentinya kekejaman dan perbudakan.
Dengan menolak hewan sebagai komoditas, kita dapat melihat kepura-puraan dan
kebohongan yang tak terhitung jumlahnya. Dan, setransformasi ini adalah bagi
seorang individu yang mengalaminya, dan ini akan lebih transformatif bila
dilakukan oleh budaya kita untuk merubah orientasi usang yang melihat hewan
hanya sebagai suatu komoditas.
Ini seperti sebuah perahu yang diikatkan ke dok dengan tali yang panjang. Ketika
kita menyeberang ke tepi lainnya, kita akan temukan bahwa untuk sementara waktu
kita telah membuat kemajuan yang memuaskan sehingga talinya tidak mencukupi
lagi. Setelah itu kita akan menghidupkan mesin, namun kita tidak dapat lagi
membuat perkembangan yang nyata, dan kita menciptakan banyak asap, gelombang dan
kegaduhan, dan mungkin juga bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya, atau terus
berputar-putar. Bila kita tidak menyadari bahwa ada tali yang mengikat kita dan
melepaskannya, maka kita tidak akan membuat perkembangan yang berarti dalam
perjalanan kita ke sisi lainnya. Perahu ini tentunya melambangkan hidup kita,
tepi lain itu adalah pemenuhan spiritual kita, kreativitas dan potensi
intelektual kita, dan talinya adalah induksi praktik budaya kita, seperti
membeli, menyiksa, membunuh dan memakan hewan. Ketika kita melepaskan talinya,
kita akan bebas untuk pergi ke tepi seberang dan kita mungkin akhirnya mencapai
tepi lain. Jika kita makan makanan hewan, bagaimanapun juga, ada penghalang
kasat mata yang menghambat kemajuan kita, karena ada keterputusan dan kekejaman
tanpa sadar yang dibutuhkan untuk melakukan hal itu, dimana ini akan menahan
kita agar terus terosot dalam potensi kita yang dangkal.
Sejalan dengan budaya kita bergerak menuju orientasi vegan, kita akan melihat
terungkapnya daya penyembuhan dan kekuatan membebaskan yang sangat besar.
Memang, membayangkan budaya kita sebagai budaya vegan, sungguh seperti
membayangkan budaya yang seluruhnya hampir berbeda. Potensi yang selalu hadir
ini mengisyaratkan kita pada sesuatu. Setiap individu, sebagai perwakilan dari
budaya kita, adalah bagian penting dari dasar transformasi dan kebangkitan. Hal
ini amat menarik sebagai bahan perenungan bagi dunia pendidikan, ekonomi,
pemerintah, agama, kesehatan, dan institusi-institusi lainnya agar menghormati
dan melindungi hak serta kepentingan hewan dan manusia. Ketika budaya kita
berhenti menjualbelikan makhluk hidup, maka dunia baru yang penuh dengan
kebaikan, keadilan, kerjasama, perdamaian, dan kebebasan, secara alami akan
terkuak dalam kehidupan manusia.
Mengubah pilihan pribadi kita dalam makanan sehari-hari untuk mencerminkan
kesadaran berbelas kasih, ini akan mengubah hidup kita dan mengembangkan budaya
kita ke arah yang jauh lebih positif dari perubahan lain yang dapat kita
renungkan. Perubahan pilihan pribadi terhadap makanan ini akan menjadi prasyarat
penting untuk berlatih kesadaran yang penuh antikekerasan dalam semua hubungan
kita yang membawa alam pikiran dan hati kita menjadi selaras dengan kebenaran
terkait, dan untuk memungkinkan diri kita masuk lebih mendalam dan langsung
mengalami misteri, sukacita, dan keindahan yang ada.
Referensi
1. Peter Kropotkin,
Mutual Aid: A Factor in Evolution
(New York: Penguin, 1939).
2. Jim Mason,
An Unnatural Order: Why We Are Destroying the Planet and Each Other
(New York: Continuum, 1993), p. 72. See also Donna Hart and Robert W. Sussman,
Man the Hunted: Primates, Predators, and Human Evolution
(New York: Pereseus, 2005), p. 10.
3. Hart and Sussman, p. 244. According to these anthropologists, early
humans such as
Australopithecus
(2.5–7 million years ago) “depended mainly on fruits, herbs, grasses, and seeds,
and gritty foods such as roots, rhizomes, and tubers. A very small proportion of
[their] diet was made up of animal protein; mainly social insects (ants and
termites) and, occasionally, small vertebrates captured opportunistically.”
4. Mason, p. 70. According to fossil analysis carried out by M. Teaford and
P. Ungar, “The early hominids were not dentally preadapted to meat—they simply
did not have the sharp, reciprocally concave shearing blades necessary to retain
and cut such foods.” (“Diet and the Evolution of the Earliest Hominids,”
Proceedings of the National Academy of Science
97 (25): 13, p. 511.)
5. Ibid., p. 81.
6. Hart and Sussman, p. 190.
7. Plutarch, “On Eating Flesh,”
Moralia,
William Watson Goodwin, ed. (London: S. Low, Son, and Marston, 1870), Volume 5,
Tract 1.
8. Peter D’Adamo,
Eat Right for Your Type
(New York: Putnam, 1996).
9. For an overview of many of these, see Steven Rosen,
Diet for Transcendence: Vegetarianism and the World Religions
(Badger, CA: Torchlight, 1997).
10. Keith Akers,
The Lost Religion of Jesus
(New York: Lantern Books, 2000), p. 117.
11. See Matthew 15:11 through 15:20 for entire relevant passage.
12. Matthew 15:19.
13. Gary Zukav,
Seat of the Soul
(New York: Simon and Schuster, 1989), p. 276.
14. Ibid., p. 278.
15. See Marjorie Spiegel,
The Dreaded Comparison: Human and Animal Slavery
(New York: Mirror Books, 1999) for more on the treatment of black slaves as
animal livestock in the standard practices of extreme confinement in transport,
family destruction, branding, mutilation, and domination. See Sam Keen,
Faces of the Enemy: Reflections of the Hostile Imagination
(San Francisco: Harper & Row, 1986) as well as his PBS documentary of the same
name for more on how we humans have dehumanized people we intended to
systematically harm (such as slaves and enemies), seeing them as sub-human—as
animals. Keen shows, for example, how Nazi propaganda films equated Jewish
people with rats, and U.S. World War II propaganda films and posters portrayed
Japanese people as hordes of beetles, among other instances.
16. Georgio Cerquetti,
The Vegetarian Revolution
(Badger, CA: Torchlight, 1997), p. 31.
17. Ibid., p. 30.
18. Howard Lyman,
Mad Cowboy
(New York: Scribner, 1998), p. 125.
19. See Lynn Jacobs,
Waste of the West,
for a thorough discussion and reporting of the disastrous effects of cattle
ranching in the American West. See also Howard Lyman, “Bovine Planet,” in
Mad Cowboy,
pp. 121–153.
|
|