|
bab sebelas
MEMPEROLEH KEUNTUNGAN DARI KEHANCURAN
“Dosa terburuk terhadap sesama ciptaan kita bukanlah karena kita membenci
mereka, tetapi karena tidak peduli kepada mereka. Itulah inti dari kebiadaban.”
–George Bernard Shaw
“Dampak dari kutu dan ular yang tak terhitung banyaknya selama bertahun-tahun
telah mengubah lebih banyak jenis tanaman dan bentuk lahan di Barat dibanding
dengan yang dilakukan oleh semua proyek air, pertambangan terbuka, pembangkit
listrik, jalan layang, dan pengembangan subdivisi yang digabungkan.”
–Philip Fradkin di dalam Audubon, Kelompok Nasional Audubon
“Babi dan sapi serta ayam dan manusia semuanya sedang berkompetisi untuk
biji-bijian.”
–Margaret Mead
Industrialisasi Peternakan
Rasanya sulit untuk membayangkan adanya suatu sistem produksi makanan yang lebih
boros, beracun, tidak manusiawi, menambah penyakit, dan merusak selain pada apa
yang ada di industri peternakan kita. Selain sangat tidak manusiawi terhadap
hewan-hewan yang dikurung untuk dijadikan makanan–dan terhadap hewan liar yang
habitatnya dirusak, diracuni, dijerat, dan ditembak oleh pengusaha peternakan,
petani agrobisnis, agen pemerintah, serta industri perikanan sebagai hama dan
pesaing–industri ternak juga sangat memboroskan air, minyak bumi, lahan, dan
bahan kimia; merusak hutan dan perikanan; menciptakan polusi parah bagi tanah,
air, dan udara; dan, dengan biaya besar, membanjiri pasar-pasar kita dengan
produk yang benar-benar beracun bagi kesehatan kita.
Tidak akan mungkin bagi kita memakan makanan hewani dalam jumlah banyak dengan
harga yang murah seperti yang kita lakukan saat ini dengan tanpa melakukan
suntikan bahan bakar fosil dalam jumlah yang besar ke dalam sistem produksi
makanan kita. Jika kita melihat pada peningkatan tajam kurva pertumbuhan
populasi manusia dalam ratusan tahun terakhir ini, kita akan melihat bahwa kurva
itu secara persis sepadan dengan kurva pertumbuhan energi yang memungkinkan kita
menciptakan jumlah makanan yang sangat besar. Kelebihan makanan telah memberi
dorongan terhadap ledakan populasi manusia–dan sapi, babi, ayam, ikan, dan hewan
ternak lainnya yang dikurung untuk disembelih demi makanan.
Pada tahun 1950-an dan 60-an, pertanian negara A.S. diindustrialisasikan, yaitu
sebuah proses yang disebut sebagai “Revolusi Hijau.” Arus sistem produksi
makanan ini berdasarkan pada minyak serta gas alam yang murah dan melimpah.
Industri pertanian bergantung pada gas alam untuk membuat dua belas juta ton
pupuk nitrogen yang dipakai setiap tahun di A.S., dimana mewakili energi yang
setara dengan 100 juta barel bahan bakar diesel.¹
Ini juga membutuhkan jutaan barel minyak bumi untuk menghasilkan 1,3 juta ton
pestisida yang digunakan setiap tahun² (lebih dari
delapan puluh persen pestisida itu digunakan untuk empat tanaman pangan–jagung,
kedelai, gandum, dan kapas–terutama sebagai bahan pokok pakan ternak);
³ untuk memompa triliunan galon air irigasi yang
dibutuhkan tanaman pangan ini; untuk menjalankan mesin pertanian yang hampir
menggantikan semua tenaga kerja manusia; untuk mengangkut dan menyimpan miliaran
hewan setiap tahun; dan untuk menjalankan tempat pengurungan ternak, rumah
jagal, operasi penyimpanan, dan sistem transportasi produk beku. Minyak yang
murah juga menjadi prasyarat dari yang disebut “Revolusi Biru”, atau ledakan
dari pabrik peternakan ikan. Ikan-ikan dalam operasi perikanan juga mengonsumsi
hasil panen ikan lain, dan armada penangkapan ikan yang belakangan ini secara
besar-besaran sangat mengeksploitasi stok ikan di planet ini dimana membutuhkan
sejumlah besar bahan bakar disel yang murah dan tidak berkelanjutan. Dasar dari
hasil pertanian telah beralih dari hasil tanah ke minyak, dan dengan begitu akan
memungkinkan semakin banyak orang yang dapat mengonsumsi lebih banyak makanan
hewani daripada yang pernah terjadi dalam sejarah, harga yang kita semua bayar
untuk hal ini sangatlah mengejutkan. Karena sekarang kita memasuki periode baru
dari penurunan produksi bahan bakar fosil, konflik sengit dan keras demi minyak
yang berharga dan diperlukan oleh kebiasaan makan omnivora kita telah semakin
mengancam di setiap harinya.
Menghabiskan Tanah, Air, dan Bahan Bakar Fosil
Masalah lingkungan utama akibat mengonsumsi makanan hewani adalah populasi
hewan-hewan yang amat besar ini, dimana mereka harus makan, dan makan yang
banyak. Delapan puluh persen biji-bijian di A.S. dan sekitar separuh dari
ikan yang terseret di dalam jala diboroskan untuk memelihara miliaran hewan agar
menjadi besar dan gemuk untuk disembelih secara menguntungkan, atau untuk
menghasilkan produk susu dan telur pada tingkat permintaan konsumen yang tinggi.
Dan lebih dari sembilan puluh persen protein dalam biji-bijian ini berubah
menjadi gas metana, amonia, urea, dan tinja yang mencemari udara dan air kita.
Suatu perkiraan konservatif menyatakan bahwa jumlah lahan, biji-bijian, air,
minyak bumi, dan polusi yang dibutuhkan untuk memberi makan satu orang dengan
Pola Makan Standar Amerika dapat memberi makan lima belas orang yang berpola
makan nabati.4 Pemahaman implikasi terhadap hal ini sangatlah penting
bagi kelangsungan hidup kita, karena industri peternakan kita benar-benar
menguras tiga unsur penting yang ia andalkan: tanah, air, dan bahan bakar fosil.
Kebanyakan dari kita mempunyai sedikit pemahaman tentang sejumlah besar lahan
yang dipakai dalam menanam biji-bijian untuk memberi makan babi, sapi, domba,
unggas, dan ikan yang dikurung. Ada lebih dari 521.000 mil persegi hutan A.S.
yang dibabat untuk menggembala ternak dan menanam biji-bijian untuk memberi
makan mereka. Jumlah ini lebih luas dari jumlah luas gabungan negara bagian
Texas, Kalifornia, dan Oregon, dimana semakin meluas di setiap harinya, dengan
sekitar 6.000 mil persegi dibabat setiap tahun. Ini sama dengan sekitar 10.000
hektar per hari, tujuh hektar setiap menit.5 Penebangan hutan tiada
henti ini, jumlahnya tujuh kali lebih luas dari jumlah pembabatan untuk
membangun jalan, rumah, area parkir, dan pusat perbelanjaan,6 serta
mengakibatkan musnahnya habitat satwa liar, hilangnya keragaman genetik,
hilangnya lapisan humus, kemerosotan kali dan sungai, serta meningkatkan polusi.
Hutan menciptakan lapisan humus, menghasilkan oksigen, membersihkan udara,
membantu turunnya hujan yang dibutuhkan, dan menyediakan habitat bagi ribuan
spesies hewan dan tumbuhan.
Selain penghilangan area hutan yang luas, peternakan bertanggung jawab atas
pengrusakan dan degradasi area yang pada hakikatnya bahkan lebih besar dari
semua padang rumput kita dan kebanyakan daerah gersang di Barat. Ekosistem indah
dan kompleks yang pernah mendukung jenis tanaman dan hewan yang bervariasi ini,
sekarang telah hilang karena lahan itu telah dialihkan menjadi ladang untuk
menanam satu jenis tanaman pakan atau digunakan untuk memelihara ternak.
Menggunakan hutan, padang rumput, dan lahan gersang untuk peternakan ini telah
merusak ekosistem yang secara kompleks saling terkait tersebut menjadi satu
spesies yang hanya diinginkan hidup di lahan itu. Para peternak dan petani
agrobisnis menganggap bahwa kebanyakan spesies lainnya selain hewan ternak dan
tanaman yang mereka miliki adalah sebagai hama yang harus dibasmi. Pemusnahan
dan pengacauan hutan, padang rumput, dan tanah gersang untuk menggembala dan
menanam pakan ternak yang akan disembelih tidak hanya menjadi suatu penghancuran
keragaman dan kecerdasan hayati, tetapi juga memiliki akibat serius lainnya.
Hanya sedikit dari kita yang sadar akan pengrusakan luar biasa yang ditimpakan
peternakan kepada persediaan air kita. Pertanian menghabiskan delapan puluh lima
persen dari semua sumber air bersih A.S.,7 terutama untuk memproduksi
makanan ternak. Produksi makanan sehari untuk seorang manusia omnivora
membutuhkan lebih dari empat ribu galon air, dibanding dengan seorang vegan yang
hanya membutuhkan tiga ratus galon;8 fakta ini melambangkan kerusakan
lingkungan yang sangat besar, terutama di lahan bagian barat Mississippi, di
mana persediaan air tanah yang berharga telah habis, dan sungai serta kali kini
telah dialihkan menjadi kanal irigasi, mengakibatkan kematian dan penderitaan
bagi burung, ikan, dan satwa liar lainnya agar bisa menyediakan jumlah air
irigasi yang banyak untuk menanam biji-bijian demi pakan ternak.
Empat puluh persen air irigasi ini berasal dari persediaan air bawah tanah yang
membutuhkan waktu berabad-abad untuk terisi.9 Faktanya, persediaan
air Ogallala yang terbentang di sebagian besar daerah tengah Amerika Utara, yang
membutuhkan ribuan tahun untuk terbentuk dan merupakan persediaan air terbesar
di dunia, sedang terkuras dengan cepat dan gegabah, dimana lebih dari tiga belas
triliun galon air dipompa keluar setiap tahun untuk mengirigasi sejumlah luas
lahan yang menanam pakan ternak.10 Sementara itu, orang-orang disuruh
untuk menghemat air dengan menggunakan pancuran dan toilet yang beraliran air
kecil. Ahli air dan tanah dari Universitas California telah memperkirakan bahwa
pengunaan satu pon selada, tomat, kentang, atau gandum Kalifornia hanya
membutuhkan sekitar 24 galon air, sedangkan pengunaan satu pon daging sapi
Kalifornia membutuhkan lebih dari 5.200 galon air. John Robbins menunjukkan
bahwa jumlah ini lebih banyak dari air yang akan digunakan untuk mandi setiap
hari selama satu tahun!11 Kebanyakan dari air ini digunakan untuk
mengairi ladang biji-bijian pakan ternak, dipompa oleh minyak bumi dari sungai
dan persediaan air yang jauh dengan dam, kanal, dan stasiun pemompaan yang
dibiayai oleh pembayar pajak dan bukannya agrobisnis peternakan yang meraup
keuntungan dari hal itu. Marc Reisner, pengarang Cadillac Desert
menyimpulkan, “Krisis air dan banyak dari masalah lingkungan di Barat–bisa
disimpulkan, meskipun nampaknya tidak dapat dipercaya, tapi hanya satu kata
penyebabnya: peternakan.”12
Makanan hewani juga membutuhkan jumlah minyak bumi yang besar untuk diproduksi.
Misalnya, selain dibutuhkan dua kalori bahan bakar fosil untuk memproduksi 1
kalori protein dari kedelai, dan 3 kalori untuk gandum dan jagung, juga
dibutuhkan 54 kalori minyak bumi untuk memproduksi satu kalori protein daging
sapi!13 Peternakan berkontribusi secara tidak sebanding terhadap
konsumsi minyak bumi kita sehingga menyebabkan polusi udara dan air, pemanasan
global, dan perang yang disebabkan oleh konflik akibat persediaan minyak bumi
yang semakin berkurang.
Bagaimana mungkin kita menghabiskan minyak bumi 27 kali lebih banyak
hanya untuk menyuplai hamburger kepada orang-orang dibanding banyaknya minyak
bumi yang diperlukan untuk hamburger kedelai, lalu apakah implikasi dari hal
ini? Tanah yang digunakan untuk pertanian cenderung kekurangan nitrogen karena
tanaman menariknya dari tanah untuk menyintesis protein. Solusi tradisional yang
biasa digunakan adalah dengan menyebarkan kotoran ternak atau kotoran burung
untuk memperkaya kembali tanah tersebut, menanam polong-polongan dan menggiliri
tanaman, serta mengosongkan lahan agar memperbaharui diri. Di tahun 1909, dua
ahli kimia Jerman menemukan suatu metode untuk memperbaiki nitrogen atmosferik
dari amonia yang memungkinkan para ilmuwan nanti menemukan metode untuk
menghasilkan pupuk nitrogen anorganik dari gas alam dengan murah dan dalam
jumlah yang banyak. Ketersediaan nitrogen yang relatif mendadak ini memungkinkan
peningkatan produksi pangan yang besar dan mengakibatkan ledakan populasi
manusia maupun hewan ternak selama abad terakhir ini.14 Itu adalah
pupuk buatan sama yang menyebabkan limpasan nitrogen “kaya nutrisi” ke kali dan
sungai yang menjadi salah satu masalah polusi air yang besar, menyebabkan
kelebihan pertumbuhan alga, menghabiskan oksigen, dan membunuh ikan.
Selain gas alam
untuk pupuk, sistem pertanian kita membutuhkan minyak bumi untuk memproduksi
insektisida dan herbisida berbasis hidrokarbon dalam jumlah besar yang telah
meningkat tiga puluh tiga kali dalam dua puluh tahun terakhir.15
Sementara itu, setiap tahun semakin banyak tanaman pangan yang rusak akibat hama
karena penanaman satu jenis tanaman dan pengabaian praktik pemulihan tanah
tradisional. Ketika lahan yang luas hanya ditanami dengan satu tanaman pangan,
lahan itu akan secara kuat menarik spesies “hama” yang memakan tanaman tersebut.
Karena kekurangan keragaman tanaman dan populasi serangga di area itu, hanya
sedikit burung dan predator lain yang datang untuk makan, dan hama itu menjadi
kebal terhadap tingkat pestisida yang semakin tinggi. Tanaman serupa yang
ditanam pada tanah yang sama di setiap musim, akan mengandakan banyak organisme
yang tahan terhadap pestisida. Menurut Worldwatch Institute, saat ini ada
sekitar seribu hama pertanian utama yang kebal terhadap pestisida.16
Menyiram ladang makanan kita dengan racun adalah bagian dari pertarungan
penyebab kanker yang sering melawan ketahanan alam terhadap metode
industrialisasi yang sering dilakukan oleh agrobisnis, dan mengubah jutaan hekar
lahan yang hanya ditanami satu jenis tanaman saja, akan menjadi lahan pembunuh
yang beracun bagi satwa liar.
Pertanian intensif modern juga dengan pasti merusak humus, yang membutuhkan
waktu berabad-abad agar terbentuk–sekitar lima ratus tahun untuk satu inci.17
Karena kerasnya industri pertanian ini, tanah pertaniannya menjadi terkikis tiga
puluh kali dari laju pembentukan, dan setiap tahun lebih dari dua juta hektar
hilang akibat erosi dan kadar garam dari irigasi kronis.18 Pada taraf
ini, tanah dari operasi penanaman satu jenis tanaman dalam skala besar akan
kehabisan mineral dan nutrisi, dan menjadi media tak bernyawa dimana agrobisnis
menuangkan pupuk nitrogen anorganik untuk memproduksi tanaman pangan dengan
hasil yang tinggi–terutama untuk makanan ternak–yang nilai gizinya meragukan.
Pertanian intensif ini tidaklah berkelanjutan. Semakin ia merusak lahan dan
persediaan air serta mengeringkan air tanah, semakin banyak masukan bahan bakar
fosil yang diperlukan untuk irigasi, mengganti nutrisi, menyediakan perlindungan
terhadap hama, hanya untuk mempertahankan agar produksi pangannya tidak berubah.
Kecuali jika kita menghindari konsumsi makanan hewani yang melahap sumber daya,
bila tidak kita akan menghadapi konsekuensi dari persediaan jumlah bahan bakar
fosil yang terbatas dan semakin menurun.
Richard Heinberg membuat hal itu jelas dalam bukunya The Party’s Over: Oil,
War and the Fate of Industrial Societies (Pesta telah Usai: Minyak, Perang
dan Takdir di Masyarakat Industri) dimana para ahli minyak bumi percaya bahwa
produksi minyak bumi di seluruh dunia sedang mencapai puncaknya, dan kita
sekarang memasuki periode penurunan produksi, sedangkan persediaan yang ada akan
habis dengan cepat.19 Empat galon bahan bakar disuling untuk setiap
satu galon minyak bumi yang ditemukan, dan kemajuan dalam teknologi geokimia
serta seismik telah membuat hal itu jelas bahwa persediaan minyak bumi yang
belum ditemukan hanyalah sedikit dan lenyap dengan cepat.20 Kita
terus mempertinggi konsumsi dan menghiraukan konsekuensi yang parah itu karena
kita dapat melakukannya tiga kali sehari untuk menolak konsekuensi itu. Ahli
minyak bumi, C. J. Campbell, telah berkata, “Sinyal peringatan telah dibunyikan
sejak lama. Tanda-tanda itu sudah terlihat jelas. Tapi dunia menjadi buta dan
gagal saat membaca pesan tersebut. Ketidaksiapan kita itu sendiri sangat
menakjubkan, mengingat pentingnya minyak bagi kehidupan kita.”21
Tidak mengejutkan ketika kita menyadari bahwa kemampuan kita untuk menghalangi
dampak adalah karena mental dominasi dan ketergantungan kita mengonsumsi makanan
hewani. Namun sayangnya kita hanya ingin bekerja sama dengan industri daging
yang tanpa disadari menindas kesehatan yang mengancam kebiasaan makan kita.
Bentrokan antara permintaan bahan bakar fosil yang melonjak dengan persediaan
yang berkurang secara permanen akan mengakibatkan tekanan lonjakan harga yang
tak henti-hentinya karena permintaan yang terus bertambah dan konflik atas
keterbatasan minyak yang menghebat. Dengan menurunnya persediaan bahan bakar
fosil yang tak dapat dihindari di masa depan, jumlah hari dengan harga makanan
hewani yang murah dapat dihitung. Kita mungkin mulai mengakui bahwa mengonsumsi
makanan hewani adalah pemborosan suplai minyak bumi kita yang terbatas. Sudah
ada orang yang murka terhadap tipe mobil SUV besar yang memboroskan minyak bumi,
dan tidak efisien dibandingkan mobil yang hemat. Apakah kita juga akan
mendapatkan kemurkaan yang serupa terhadap orang yang makan daging sapi, ayam,
ikan, telur, dan produk susu, yang tidak efisien dibandingkan makanan nabati
dengan tingkat pemborosan yang jauh melebihi mobil SUV terbesar–tingkat
pemborosan 10, 15, dan 25 banding satu? Lebih mudah untuk melihat bergalon-galon
bahan bakar fosil yang dituangkan secara langsung ke mobil kita daripada melihat
bergalon-galon bahan bakar fosil yang dituangkan ke dalam keju, telur, potongan
ikan, hot dog, dan bistik kita.
Racun dalam Peternakan
Lahan luas yang hanya ditanami satu jenis tanaman sebagai pakan ternak yang akan
kita makan meliputi jutaan ekar lahan yang disirami dengan banyak pestisida dan
pupuk beracun. Dua dari tanaman ini, jagung dan kedelai, sekarang telah
direkayasa secara genetis dan telah menjadi komponen utama dari pakan ternak, di
mana lebih dari separuh semua lahan pertanian hanya dipakai untuk dua
jenis tanaman pangan ini semata.22 Tanaman itu direkayasa secara
genetis agar tahan herbisida sehingga agrobisnis menyemprot dua hingga lima kali
lebih banyak banyak kimia beracun di lahan ini daripada tanaman
non-rekayasa-genetika (non-GMO), yang membunuh satwa liar dan mencemari air pada
tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Lahan-lahan beracun ini adalah dasar dari produk susu dan telur yang kita makan,
dan juga daging sapi, ayam, babi, dan ikan, seperti industri ternak ikan
catfish, ikan forel, tilapia dan sebagainya. Residu karsinogenik dari pupuk
kimia dan pestisida yang digunakan pada tanah ini mengontaminasi sungai dan
lautan kita. Bahan-bahan itu terkonsentrasi dalam makanan hewani yang kita makan
serta di dalam daging dan susu kita. Selain itu, kotoran yang digunakan untuk
“memperkaya” makanan hewan mengandung racun yang bahkan lebih besar daripada
makanan nabati yang dipaksakan kepada hewan untuk memakannya.
Fungisida, insektisida, herbisida, dan residu pupuk kimia terkonsentrasi dalam
kotoran ternak. Setiap orang yang mendirikan bangunan telah mengetahui betapa
ketatnya kebanyakan komunitas dalam hal pembuangan limbah kotoran manusia, namun
limbah kotoran ternak pada hakikatnya tidak diolah. Puluhan miliar hewan darat
yang dikurung dan dibunuh setiap hari mengeluarkan tinja dan air seni dalam
jumlah yang sangat banyak, ini tidak setara dengan jumlah yang dikeluarkan oleh
manusia, dan bahkan dua atau tiga kali lebih banyak, namun menurut penelitian
oleh Senat A.S., jumlahnya bahkan 130 kali lebih banyak.23 Kotoran
hewan darat ini dapat ratusan kali lebih terkonsentrasi daripada kotoran manusia
yang tak terolah. Itu lebih beracun karena tingkat bakteri, kimia, dan residu
obat-obatan yang tinggi.24 Misalnya, tingkat antibiotik dari kotoran
ternak yang mengalir ke sungai telah terbukti berkontribusi terhadap munculnya
bakteri yang kebal antibiotik di sungai.25 Perusahaan-perusahaan susu
di Kalifornia Tengah menghasilkan lebih banyak kotoran dibandingkan sebuah kota
yang berpenduduk dua puluh juta jiwa, dan satu peternakan babi yang besar
menghasilkan kotoran lebih banyak daripada penduduk Kota New York!26
Pembuangan kotoran ternak kurang diatur dibanding kotoran manusia karena
industri ternak mendapat dukungan kebal peraturan dari antek-antek mereka di
kantor pemerintahan dan para politisi yang berhutang budi karena kampanye
politik. Kotoran beracun yang tidak mendapat pengaturan ini mencemari air bawah
tanah, sungai, danau, dan lautan.27 Ketika danau tinja raksasa
berisikan kotoran babi ini meluap, dampaknya adalah penjangkitan pfisteria yang
dapat membunuh jutaan ikan dan dengan serius membahayakan manusia yang berenang
di hilir sungai dan teluk. Menurut Kantor Perlindungan Lingkungan, lebih dari
tiga puluh lima ribu mil sungai tercemar oleh tempat pemeliharaan ternak
berskala besar dalam dasawarsa terakhir ini.28 Ketika industri ternak
mencemari air bawah tanah maka untuk membersihkannya atau mengatasi pencemaran
itu, pada umumnya akan memakai uang publik, bukannya uang dari industri itu.29
Kotoran ternak juga menyebabkan polusi air yang menakutkan, seperti yang
ditegaskan oleh mereka yang kurang beruntung yang tinggal di dekat tempat
pengoperasian ini. Bau pesing menyebabkan tekanan mental dan penyakit
pernapasan, dan ketika mengering, kotoran itu dapat tertiup berkilo-kilo meter
jauhnya. Peternakan juga mengeluarkan gas metana dalam jumlah besar, yang
menjadi faktor utama pemanasan global karena gas itu mengikat panas lebih kuat
daripada karbon dioksida. Pemanggangan daging hewan juga menciptakan lebih
banyak polusi udara: para peneliti menemukan bahwa banyak dari kabut asap di
kota-kota tidak hanya berasal dari mobil tetapi juga dari partikel asap dan
lemak dari ribuan restoran cepat saji dan dapur yang memanggang daging.30
Menyembuhkan Bumi dan Ekonomi
Kita nampaknya tidak sadar bahwa ekonomi kita akan jauh lebih baik jika kita
berpindah ke pola makan nabati. Jika kita semua melakukan pola makan nabati,
kita dapat memberi makan diri kita sendiri dengan hasil panen dari tanah yang
lebih kecil dari yang diperlukan oleh pemakan daging. Sebagai contoh, para
peneliti memperkirakan bahwa 10 km persegi tanah dapat memenuhi kebutuhan energi
makanan dari 20 orang pemakan kentang, 19 orang pemakan jagung, 23 orang pemakan
kubis, 15 orang pemakan gandum, atau 2 orang pemakan ayam atau produk susu, dan
1 orang pemakan daging sapi atau telur.31 Semua orang di dunia dapat
diberi makan dengan mudah karena saat ini kita menanam hasil panen lebih dari
cukup untuk sepuluh miliar orang;32 saat ini pada kenyataannya, kita
memberikan hasil panen tersebut untuk hewan yang tak terhitung banyaknya dan
memakan mereka sehingga memaksa lebih dari satu miliar manusia harus menderita
kekurangan gizi kronis dan kelaparan, sementara satu miliar orang yang lainnya
menderita kegemukan, kencing manis, sakit jantung dan kanker yang dihubungkan
dengan pola makan daging yang tinggi.
Obat-obatan yang kita gunakan untuk memberantas beberapa penyakit tersebut
dikeluarkan melalui urin, mengalir ke dalam air dan menjadi satu dengan aliran
utama yang menambahkan polusi ke bumi kita. Ini adalah masalah serius yang
terutama berada di kota-kota yang lebih besar di dunia industrial.
Toksin—seperti konsekuensi negatif yang lain dari makanan hewani—tidak akan
menghilang begitu kita menelan mereka. Mereka dikeluarkan ke ekosistem kita,
meskipun juga jejak besar itu dikumpulkan di jaringan lemak di tubuh kita.
Karenanya, dengan memakan lebih banyak makanan nabati, kita dapat mengurangi
polusi di bumi kita, dan tubuh kita dapat lebih sedikit tercemar dan tidak
berpenyakit, menyelamatkan kita dari lingkaran kejahatan dengan mencelupkan bumi
dan diri kita sendiri dari meningkatnya toksin kimia, yang menjadi bagian dari
perang kita dalam melawan alam yang tak bisa dimenangkan.
Dengan berubah ke pola makan nabati, kita dapat mengurangi penggunaan minyak
tanah dan jumlah impor secara besar, dan memotong jumlah dari hidrokarbon serta
karbon dioksida yang memperparah polusi udara dan pemanasan global.33
Kita dapat menyimpan ribuan miliar dolar per tahun dari biaya medis, obat-obatan
dan asuransi, yang akan menambahkan tabungan pribadi dan kemudian memperkuat
kembali ekonomi, menyediakan dana segar bagi proyek kreatif dan pengembalian
lingkungan. Lahan panen menyedihkan yang digunakan untuk memberi makan
perternakan kini dapat ditanami pohon, menghidupkan kembali hutan, sungai dan
kehidupan liar. Ekosistem laut dapat dibangun kembali, hutan hujan dapat pulih
kembali dan dengan menurunnya permintaan kita secara drastis terhadap segala
macam sumber daya, tekanan lingkungan dan militer dapat menjadi ringan. Hasil
panen yang saat ini diberikan untuk memberi makan peternakan di dunia dapat
diberikan untuk memberi makan orang-orang miskin yang kelaparan.
Jika kita menghentikan praktik yang menciptakan kekuatan spiritual, kejiwaan,
sosial dan ekonomi dibalik perang dan kekerasan manusia ini, anggaran militer
yang melemahkan vitalitas ekonomi juga dapat dikurangi dengan sangat besar.
Pengeluaran militer PBB sangatlah besar, dengan lebih dari setengah jumlah
keseluruhan dana kebijaksanaan pemerintah pusat digunakan dalam bidang militer.
Sudah diketahui bahwa pengeluaran militer, ketika dibandingkan dengan
pengeluaran dalam bidang pendidikan, pemulihan lingkungan, layanan kemanusiaan,
pelayanan kesehatan, pembangunan dan lainnya, akan menciptakan lapangan kerja
paling sedikit dan menghasilkan produk yang tidak dapat dikonsumsi, seperti bom,
ranjau, senjata dan tes senjata, yang juga menciptakan polusi dan penghancuran
yang sangat besar.
Konsekuensi dari Menghindari Konsekuensi
Banyak hal telah ditulis tentang efek buruk terhadap lingkungan akibat
memelihara hewan untuk dimakan, termasuk Diet for a Small Planet, Diet for a
New America, Mad Cowboy, Vegan: The New Ethics of Eating, The Food
Revolution, dan banyak buku serta artikel lainnya. Informasinya telah
tersedia dan bagi siapa pun dari kita yang berminat, dapat melakukan penelitian
dan menemukan bahwa pola makan daging adalah penggerak utama di balik berbagai
masalah lingkungan terserius yang sedang kita hadapi: musnahnya berbagai spesies
yang sedang berlangsung, penghancuran hutan hujan, polusi udara dan air,
kehilangan sumber air, pemanasan global, ketergantungan terhadap minyak,
penyebaran penyakit, kehilangan humus tanah, kekeringan, kebakaran hutan,
penggurunan, kehancuran habitat dan bahkan lebih banyak perang serta terorisme.
Namun informasi ini tidak dipublikasikan dan pengertian kita tentang hal
tersebut ditekan, karena topik tentang mengonsumsi makanan hewani adalah topik
besar di ruang keluarga kita yang kita semua berharap untuk tidak melihatnya,
yaitu kebiasaan yang tidak kita disadari yang menghancurkan keluarga kita namun
menjadi hal yang tabu untuk dihadapi atau didiskusikan.
Lembaga-lembaga kita mencerminkan kebutuhan mental dari omnivoraisme kita.
Bagian dari masalah ini adalah toksin yang digunakan di industri peternakan
dimana itu sangat menguntungkan bagi para elit kaya yang punya hak istimewa
dalam mendominasi percakapan budaya kita melalui kekuatannya dengan media,
pemerintahan, dan pendidikan. Media-medis-industri-daging-militer tidak memiliki
dan menawarkan pendorong untuk mengurangi konsumsi makanan hewani. Meracuni bumi
dengan zat kimia beracun berdosis tinggi dan pupuk dari minyak bumi sangatlah
menguntungkan bagi industri minyak bumi dan kimia. Toksin-toksin ini menyebabkan
kanker yang sangat menguntungkan bagi farmasi kimia – pengobatan kompleks.
Sementara banyaknya omnivora di dunia menghabiskan suplai gandum, minyak bumi,
air dan tanah yang berharga dan memberi makan dan memakan hewan hingga gemuk,
orang-orang miskin di dunia memiliki sedikit gandum untuk dimakan atau air
bersih untuk diminum, sehingga mereka kelaparan, kehausan serta penderitaan
mereka yang kronis ini telah menciptakan kondisi seperti perang, terorisme dan
kecanduan obat-obatan, yang juga sangat menguntungkan bagi industri
bersangkutan. Penduduk lima negara terkaya di dunia mengalami kegemukan,
penyakit jantung dan kencing manis, ini juga sangat menguntungkan bagi industri
tersebut. Berbagai perusahaan transnasional mendapat keuntungan dari konsumsi
makanan hewani, seperti yang dilakukan oleh bank-bank besar, dimana pinjaman
yang mereka berikan telah membangun sebuah keutuhan kompleks dan menuntut
pengembalian yang menguntungkan dari investasinya. Sistem ini menyebar tiada
henti dan mengglobal, dan sementara perusahaan dan bank tersebut kembali sehat,
orang-orang, hewan dan ekosistem di seluruh dunia jatuh sakit, dieksploitasi,
dan dihancurkan.
Dengan sumber finansial yang besar dan berpengaruh kuat di seluruh tingkat
pemerintahan, bisnis peternakan menerima miliaran dolar melalui subsidi, bantuan
harga, bantuan pemasukan, bantuan darurat, pinjaman komoditas, pembayaran
langsung, pembagian jatah, penghentian pajak sementara, subsidi perlindungan dan
makanan, hak istimewa penggembalaan, program insentif ekspor produk susu dan
pelayanan pemerintah lainnya di setiap tahun. Dengn tanpa bantuan ini, industri
peternakan tidak akan dapat bertahan hingga sekarang; hamburger termurah
setidaknya akan berharga tiga puluh lima dolar per pon bila tanpa pajak sistem
dana irigasi, subsidi, tunjangan pemulihan dan campur tangan pemerintah yang tak
terhitung jumlahnya.34 Undang-undang Peternakan tahun 2002, misalnya,
telah menimbulkan kemarahan di antara negara-negara Amerika Tengah dan Selatan
karena jumlah uang pemerintah pusat yang tak pernah muncul sebelumnya, diberikan
ke bisnis peternakan Amerika Serikat - $183 miliar – memperbolehkan
produsen daging, produk susu, telur dan gandum dari Amerika Serikat untuk
membanjiri pasar Amerika Latin dengan produk berharga rendah yang mengeluarkan
para petani lokal dari ajang bisnis di sana.
Penelitian yang diadakan di Food Politics Marion Nestle memperinci
tentang bagaimana industri makanan hewani mempertahankan pegangan besinya di
agen pemerintah dan politisi, dan bagaimana sistem produksi makanan kita
didesain untuk memaksimalkan keuntungan bagi beberapa perusahaan besar yang
mendominasi pemerintah. Dia menulis, sebagai contoh,
Pekerjaan saya adalah mengatur produksi editorial bagian pertama—dan hanya
sampai sekarang—Laporan Operasi Umum tentang Nutrisi dan Kesehatan... Hari
pertama saya di tempat bekerja, saya diberi aturan: Tidak peduli apa yang
ditunjukkan penelitian, hasil laporan tidak dapat merekomendasikan “kurangi
konsumsi daging” sebagai sebuah cara untuk mengurangi asupan lemak jenuh,
ataupun menyarankan pelarangan terhadap asupan makanan di kategori lainnya. Pada
administrasi industri ramah iklim Reagan, produsen makanan mungkin yang telah
terpengaruh oleh nasehat seperti itu, akan mengajukan komplain kepada penerima
keuntungan mereka di Kongres, dan laporan tersebut tidak akan pernah
dipublikasikan.35
Kita semestinya tidak berilusi bahwa agen pemerintah dan penguasa akan bekerja
untuk melindungi konsumen, lingkungan ataupun hewan, karena seperti yang
ditemukan dan digaris bawahi oleh para jurnalis dan peneliti (meskipun jarang
dikeluarkan di media), mereka melayani industri dan perusahaan yang kaya dan
memiliki kekuasaan untuk memberi mereka tekanan langsung secara konstan.
Industri-industri ini juga menyediakan personil pemerintahan baru melalui “pintu
berputar” antara pekerjaan di industri, dengan pekerjaan di agen pemerintah yang
melayani industri tersebut. Seperti Departemen Pertahanan yang dijalankan oleh
orang-orang dari industri senjata, Departemen Pertanian juga dijalankan oleh
pendiri pengusaha peternakan, eksekutif dan pengacara bagi industri daging,
produk susu dan telur. Adalah penting bagi industri makanan hewani bahwa agar
sebisa mungkin para konsumen tetap tidak sadar akan kondisi sebenarnya dari
hewan-hewan yang harus hidup, dan juga efek menghebohkan dari makanan ini
terhadap kesehatan manusia dan ekosistem kita.
Produksi dan penjualan dari makanan hewani kita tidak sebanding dengan
keuntungan dari kaum kecil dalam hal pengeluaran, pengurungan hewan, orang-orang
yang sakit dan kelaparan, serta para generasi di masa depan. Kaum elit ini,
hasil yang tak dapat dihindari dari dominasi dan pengeluaran mentalitas budaya
kita, mengontrol peternakan, industri, dan lembaga pemerintah, media, militer,
pendidikan, medis dan keuangan. Lembaga tersebut mempromosikan konsumsi hewani
karena perbudakan hewan merupakan dasar dari struktur kekuatan kaum elit
tersebut, seperti yang selama ini mereka lakukan dalam menguatkan kekuatan
mereka dengan menggiring hewan-hewan secara kasar sejak delapan ratus tahun
lalu. Ini masih saja dipertahankan secara tradisional, dengan mengontrol
konsentrasi kekuatan keuangan dan politik yang dengan demikian dapat mengatur
pemikiran melalui manipulasi lembaga pendidikan, agama, pemerintah, dan lembaga
sosial lain.
Bukanlah sebuah kebetulan bila kita menemukan ada perusahaan transnasional yang
secara meningkat turut campur dalam mengendalikan kehidupan publik dan pribadi
kita. Perusahaan adalah manifestasi dari keinginan kita untuk menghindari
tanggung jawab (dengan kata lain “membatasi tanggung jawab”) dan mereka berakar
pada piring-piring kita, melalui makanan kita setiap hari, kita membunuh,
membatasi dan menyalahgunakan hewan dengan cara yang tidak dapat kita
pertanggungjawabkan. Luka psikologis dan tidak adanya koneksi ini telah
mengumpulkan momentum budaya selama beradab-abad dengan dominasi mental dan
komodifikasi makhluk hidup yang dibutuhkan oleh makanan kita, dimana pada
akhirnya bereinkarnasi menjadi perusahaan raksasa transnasional yang mengangkang
kita dan dunia kita saat ini. Lebih dari satu setengah abad, mereka tumbuh
membesar dan telah sukses dalam melepaskan diri dari batasan hukum yang
dikenakan kepada mereka di generasi sebelumnya.36 Mereka sekarang
dikenal oleh pengadilan kita sebagai orang-orang legal, namun mereka kekurangan
daging, darah, dan jiwa. Yang ada hanyalah alat-alat abstrak mereka untuk
memaksimalkan kekuatan mereka dan kekayaan investor mereka sendiri. Bukannya
bangkrut, mereka justru berkembang lebih kuat dan lebih jahat. Mereka adalah
ciptaan kita dan adalah refleksi dari diri kita, dan mereka justru menekan kita
untuk melayani kepentingan mereka dengan keluarga, hubungan, komunitas, bumi dan
diri kita sendiri sebagai gantinya. Semakin banyak perusahaan yang dapat
“mewujudkan” pengorbanan, membebaninya kepada para pekerja, hewan, generasi masa
depan, pemerintah, komunitas, dan pihak-pihak lain, maka semakin banyak pula
keuntungan yang mereka dapat.
Makanan hewani kita juga adalah sumber dari kepuasan dan rasa tidak berdaya
penyebab bencana lingkungan dan sosial yang disembunyikan oleh media supaya kita
tidak melihat dan mengerti. Mengonsumsi makanan hewani mengurangi sensitivitas
kita, membingungkan kita dengan mengurangi kemampuan kita untuk merespon –
kemampuan merespon kita. Memakan kekejaman di piring kita memerlukan pengelakan
tanggung jawab sehingga kita bisa percaya bahwa tindakan kita tidak membuat
banyak perbedaan. Kepercayaan yang salah ini sebenarnya didasarkan pada
pemahaman kita yang setengah sadar dimana pada dasarnya dengan setiap makanan
kita telah menyebabkan bermacam penderitaan dan polusi yang ingin kita cegah.
Sistem sosial dan ekonomi yang telah saya jelaskan tadi menciptakan populasi
besar dari orang-orang yang sakit, peka, dan bingung. Terus mendorong budaya
memakan daging, cairan dan telur dari hewan adalah cara dasar untuk memastikan
hal ini dan memastikan keuntungan bagi para dewa yang diabadikan di altar
tertinggi perusahaan.
Salah satu cara agar hal ini dapat terus mereka lakukan adalah melalui
peningkatan kontrol perusahaan terhadap obat-obatan dan ilmu pengetahuan. Saat
ini, penekanan industri farmasi medis adalah secara genetik. Karena
perusahaan-perusahaan ini membuka jalan mereka ke fasilitas penelitian
universitas dengan dana yang sangat dibutuhkan, kita akan melihat bahwa asumsi
akademis sedang mengikuti garis uang perusahaan. Para peneliti didorong oleh
uang yang banyak, status dan tekanan tajam untuk melihat penyakit dan kesehatan
dari pandangan segi genetik, karena ini adalah sebuah sudut pandang yang
menguntungkan bagi industri farmasi – dan sejajar lurus dengan mekanis dan
pengurangan mental yang mendasari ilmu pengetahuan konvensional.
Jika penyakit dilihat sebagai hasil dari pikiran, cara hidup, kebiasaan makan,
perasaan, perilaku, dan kemampuan kita untuk merespon panggilan hidup kita,
serta sebagai pesan, pelajaran dan kesempatan bagi kita di jalan spiritual kita,
maka kita diberdayakan untuk meresponsnya secara kreatif dan langsung, yang akan
menjadi lebih sehat dengan bertanggung jawab atas kesehatan diri kita di dalam
dan di luar lingkungan. Ini semua akan menjadi sangat buruk untuk keuntungan dan
kontrol perusahaan. Jika kita dapat diyakinkan bahwa penyakit kita disebabkan
hanya oleh “kecenderungan genetik” yang tidak bisa kita kontrol, maka perusahaan
memposisikan kita tepat di tempat yang mereka inginkan: di dalam penguasaan
mereka. Dan mereka tidak mengenal ampun.
Teori gen memiliki daya tarik karena itu membebaskan kita dari tanggung jawab
atas tingkah laku dan aksi kita di dalam dan di luar lingkungan, yang meletakkan
kita dengan aman di tangan perusahaan yang mendapat keuntungan dari pengabaian
rasa tanggung jawab utama kita terhadap kesehatan fisik kita. Tidak hanya
keuntungan intensif bagi industri medis dan bank serta lembaga keuangan yang
mendukung mereka, obat-obatan juga melemahkan kita, menutupi pikiran kita,
membuat perasaan kita mati, dan melemahkan kekuatan penyembuh alami kita.
Berdasarkan industri farmasi, pada tahun 2001, ada sekitar 3,2 miliar
resep yang dibuat di Amerika Serikat, dengan 46 persen orang dewasa
mengambil setidaknya satu resep di setiap harinya – dan penjualan obat-obatan
ini meningkat sekitar dua puluh lima persen di setiap tahunnya!37
Efek samping dari obat-obatan tiba-tiba saja menjadi pembunuh paling top, dan
sebenarnya obat-obatan ini sangatlah berpotensi untuk membuat orang kecanduan.
Sejak tahun 1962 hingga 1988, sebagai contoh, pencandu obat-obatan jalanan
meningkat tiga puluh persen, sementara pencandu obat-obatan resep meningkat tiga
ratus persen.38 Mengapa kita mendengar begitu
banyak kisah tentang pencandu jalanan sedangkan sangat sedikit tentang pencandu
resep, dan kenapa perlawanan kita terhadap obat-obatan hanya berfokus pada
obat-obatan yang tidak memberikan kontribusi secara langsung terhadap keuntungan
perusahaan? Seakan mencoba menghindari konsekuensi yang ada saat ini untuk
memiliki konsekuensi yang lebih jauh.
Pola makan nabati tidak dapat dipatenkan, jadi ini sangat tidak menarik
perhatian bagi farmasi kompleks. Ini adalah ancaman yang besar, faktanya,
kampanye besar-besaran diperjuangkan untuk membuat kita kacau dan percaya bahwa
karbohidrat kompleks itu buruk bagi kita sementara protein hewani sangatlah
diperlukan, dan ilmu pengetahuan dapat menyelamatkan kita dari kencing manis,
kanker, dan penyakit lainnya yang dibawa oleh dominasi makanan kita yang tidak
mengenal rasa kasihan terhadap hewan. Miliaran dana dihabiskan untuk mencari
obat-obatan dan bahan berarti lainnya untuk menyembuhkan penyakit etika dan
spiritual yang sebenarnya. Menaburkan penyakit dan kematian terhadap hewan, kita
akan menuai hal yang sama juga di dalam diri kita. Banyak dari penelitian
obat-obatan saat ini sebenarnya adalah pencarian yang sepertinya tidak dapat
menemukan cara untuk terus melanjutkan makanan hewani, dan hanya melarikan diri
dari konsekuensi atas kekejaman kita pada praktik yang tidak alami. Apakah kita
benar-benar ingin sukses dalam hal ini?
Kita menjadi bebas ketika kita berhenti bekerja sama dengan sistem dominasi yang
akan memberi kita makan dengan makanan darahnya. Jika darah hewan ada di tangan
kita, kita – mungkin tanpa disadari – diperbudak. Para elit yang berkuasa
mengontrol media-medis-industri-daging-militer yang kompleks itu berusaha untuk
menarik benang pengontrol agar lebih erat, dan dengan kesadaran kita dapat
melihat ini semua di sekitar kita. Kekejaman hanya akan menurunkan kekejaman
yang lebih lanjut. Kita terpanggil untuk membalas ini semua dengan cinta,
langsung ke hal yang paling rentan dan disalahgunakan – makanan hewani – dan
menyebarkan beritanya.
Hidup kita mengalir dari kepercayaan kita, dan kepercayaan kita ini dikondisikan
oleh tindakan kita pada setiap harinya. Karena kita bertindak, maka kita
membangun karakter kita dan kita menjadi hal tersebut. Dengan secara sadar
membuat perayaan makanan kita dengan damai, cinta kasih dan kebebasan, kita
dapat menebarkan bibit itu dengan cara yang paling kuat untuk menyumbangkan
kesembuhan bagi dunia kita.
Referensi
1. The Fertilizer Institute,
U.S. Fertilizer Statistics,
http://www.tfi.org/Statistics/USfertuse2.asp.
2. Albert Gore, Introduction to Rachel Carson,
Silent Spring
(Boston: Houghton Mifflin, 1962, 1994), p. xix, cited in Howard Lyman,
Mad Cowboy
(New York: Scribner, 1998), p. 72.
3. Lee Hitchcox,
Long Life Now
(Berkeley: Celestial Hearts, 1996), p. 59.
4. Ron Eisenberg and Virgil Williams, “Cost of a Meat-based Diet—for Your
Body and for the Planet,”
The Argus: 4-Bay Area Living,
June 2, 2000.
5. Robin Hur and David Fields, “Are High-Fat Diets Killing Our Forests?”
Vegetarian Times,
February 1984; cited in John Robbins,
Diet for a New America,
pp. 360–361. Hur and Fields estimate 260 million acres, which is 406,000 square
miles of deforested land, and a rate of one acre every 5 seconds. Conservatively
reducing their estimate to one acre every 8.5 seconds, we arrive at the
estimates in the text.
6. Ibid.
7. Mario Giampietro and David Pimentel,
Food, Land, Population and the U.S. Economy, Executive Summary,
Carrying Capacity Network, November 1994.
8. Eisenberg and Williams, “Cost of a Meat-based Diet.”
9. Giampietro and Pimentel,
Food, Land, Population and the U.S. Economy.
10. William Lagrone, “The Great Plains,” in
Another Revolution in US Farming?,
Scherz, et al., USDA, ESCS, Agricultural Economic Report No. 441, December 1979,
cited in John Robbins,
Diet for a New America
(Walpole, NH: StillPoint, 1987), p. 370.
11. John Robbins,
The Food Revolution,
p. 237.
12. Cited in Ibid., p. 237.
13. Ibid., p. 266.
14. For more on the relationship between increased food production and
population growth, see Daniel Quinn, “Population: A Systems Approach.” Center
for Biotechnology Policy and Ethics, Texas A&M University, reprinted in Quinn,
The Story of B
(New York: Bantam, 1996).
15. Mario Giampietro and David Pimentel, “Land, Energy and Water: The
Constraints Governing Ideal U.S. Population Size,”
Focus,
Spring 1991.
16. Worldwatch Institute,
Vital Signs 1999
(Washington, DC: 1999), p. 114.”Today nearly 1,000 major agricultural
pests—including some 550 insect and mite species, 230 plant diseases, and 220
weeds—are immune to pesticides, a development almost unheard of at mid-century.”
17. Giampietro and Pimentel,
Food, Land, Population and the U.S. Economy.
18. Ibid.
19. Richard Heinberg,
The Party’s Over: Oil, War and the Fate of Industrial Societies
(Gabriola Island, BC: New Society Publishers, 2003).
20. Colin J. Campbell,
Peak Oil,
Presentation at the Technical University of Clausthal, Germany, December 2000.
See page 7 of http://energycrisis.org/de/lecture.html.
21. Ibid, p. 2.
22.
Adbusters Journal,
November–December 2002.
23. “Animal Waste Pollution in America: An Emerging National Problem,” report
of the Minority Staff of the U.S. Senate Committee on Agriculture, Nutrition,
and Forestry, December 1997, p. 1.
24. John Robbins,
Diet for a New America,
p. 373.
25. “Scientists Fear Antibiotics Fed to Animals Pollute Streams,”
Iowa Farmer Today Online,
March 29, 2001.
26. Elliot Diringer, “In Central Valley, Defiant Dairies Foul the Water,”
San Francisco Chronicle,
July 7, 1997, p. A1.
27. According to The Sierra Club’s 2002 “Rap Sheet on Animal Factories,” a
report compiled after nearly three years of reviewing state and federal
regulatory agencies’ records, “Millions of gallons of liquefied feces and urine
seeped into the environment from collapsed, leaking, or overflowing storage
lagoons, and flowed into rivers, streams, lakes, wetlands, and groundwater.”
28. “U.S. Sets New Farm-Animal Pollution Curbs,”
New York Times,
December 16, 2002.
29. “Concentrating on Clean Water: The Challenge of Concentrated Animal
Feeding Operations,”
Iowa Policy Project,
April 2005. See also “Report Says Factory Farms Cost Taxpayers,” WOI-TV /
Associated Press, April 6, 2005.
30. “Smogburgers Would Be Out Under Air-Quality Plan,”
San Jose Mercury News,
September 6, 1994, p. 3B.
31. C. Spedding, “The Effect of Dietary Changes on Agriculture,” in B. Lewis
and G. Assmann, eds.,
The Social and Economic Contexts of Coronary Prevention
(London: Current Medical Literature, 1990), cited in John Robbins,
The Food Revolution: How Your Diet Can Save Your Life and the World
(Berkeley: Conari Press, 2001), p. 294.
32. “Diverse Diets, with Meat and Milk, Endanger World Food Supply,”
Hearst News Service,
March 8, 1997.
33. Robbins,
Diet for a New America,
p. 277.
34. Vasu Murti,
They Shall Not Hurt or Destroy: Animal Rights and Vegetarianism in the Western
Religious Traditions
(Cleveland: Vegetarian Advocates Press, 2003), p. 127.
35. Marion Nestle,
Food Politics
(Berkeley: University of California Press, 2002), p. 3.
36. For an historical analysis of how corporations gradually became the
powerful “persons” they are legally and economically today, see David Korten,
When Corporations Rule the World
(West Hartford, CT: Kumarian Press, 1995).
37. “Top Ten Drugs of 2001,”
Pharmacy Times,
April 2002; 68(4), pp. 10–15.
38. Mickey Z., “Pills a Go-Go,”
VegNews,
March–April 2003, p. 12.
|
|