|
Penyebab Utama Perubahan
Iklim
Email Artikel ini ke Teman Anda
 |
 |
Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang
terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90%
aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet
kita semakin panas.2 Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon
dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150
tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2
di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! IPCC juga
menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti
karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini,
telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri,
aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi
pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan
penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer
bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
Penelitian yang telah dilakukan para
ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata
makin panasnya planet bumi dan berubahnya sistem iklim di bumi terkait
langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas
manusia. Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh
pemanasan global, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah
kelompok peneliti yang disebut dengan Panel Antarpemerintah Tentang
Perubahan Iklim atau disebut International Panel on Climate
Change (IPCC). Setiap beberapa tahun sekali, ribuan ahli dan
peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan
pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan
dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan
penemuan- penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat
persetujuan untuk solusi dari masalah tersebut . Salah satu hal pertama
yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas rumah kaca
bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan
manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca
tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan,
pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik
modern, pembangkit tenaga listrik, serta pembabatan hutan.
Tetapi, menurut Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang
peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan
bahwa, "industri peternakan adalah
penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih
banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh
transportasi di
seluruh dunia (13%). " Hampir seperlima (20 persen) dari emisi
karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi
gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!
Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen karbon dioksida, 37 persen
gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam
jangka 20 tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65 persen
dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat
dari CO2). Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan
karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam.
Peternakan juga telah menjadi
penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan
menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih
banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak.
Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan
dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu dan
Pilihan Lingkungan (Livestock’s Long Shadow–Environmental Issues and
Options), peternakan adalah "penggerak utama dari penebangan hutan
…. kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan
menjadi ladang ternak. Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan
mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena
pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan
juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak.
Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk
menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air
bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan
limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.
Konsumsi air untuk
menghasilkan satu kilo makanan dalam pertanian pakan ternak di Amerika
Serikat
|
1 kg daging |
Air (liter) |
|
Daging sapi |
1.000.000 |
|
Ayam |
3.500 |
|
Kedelai |
2.000 |
|
Beras |
1.912 |
|
Gandum |
900 |
|
Kentang |
500 |
Selain kerusakan terhadap lingkungan
dan ekosistem, tidak sulit untuk menghitung bahwa industri ternak sama
sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang
berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di atas meja makan orang.
Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah menghasilkan emisi karbon
dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk memproduksi satu kalori
protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar fosil untuk
menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum; akan
tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging
sapi!
Itu berarti kita telah memboroskan
bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak hanya untuk membuat sebuah
hamburger daripada konsumsi yang diperlukan untuk membuat hamburger dari
kacang kedelai!
Dengan menggabungkan biaya energi,
konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem,
tidaklah mengherankan jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan
15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih.
Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah
kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang
menyumbang emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO:
1.
Emisi
karbon dari pembuatan pakan ternak
a. Penggunaan
bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2
setiap tahunnya
b. Penggunaan
bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2
per tahunnya (misal diesel atau LPG)
c. Alih
fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton
CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk
merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai
makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan
d. Karbon
yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal
jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2
per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai
dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.7
e. Karbon
yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun
menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya
2.
Emisi
karbon dari sistem pencernaan hewan
a. Metana
yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton
per tahunnya.
b. Metana
yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per
tahunnya.
3.
Emisi
karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
a. Emisi
CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton
per tahun.
b. Emisi
CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai
lebih dari 0,8 juta ton per tahun.
Dari
uraian di atas, Anda bisa melihat besaran sumbangan emisi gas rumah kaca
yang dihasilkan dari tiap komponen sektor peternakan. Di Australia,
emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan lebih besar dari pembangkit
listrik tenaga batu bara. Dalam kurun waktu 20 tahun, sektor peternakan
Australia menyumbang 3 juta ton metana setiap tahun (setara dengan 216
juta ton CO2), sedangkan sektor pembangkit listrik tenaga
batu bara menyumbang 180 juta ton CO2 per tahunnya.8
Tahun lalu, penyelidik dari
Departemen Sains Geofisika (Department of Geophysical Sciences)
Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin, juga menyingkap
hubungan antara produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka mengukur
jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas,
susu, dan telur, serta membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang
berdiet vegan. Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika beralih
ke diet tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat mencegah satu setengah ton
emisi gas rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari
sebuah sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius hibrida
menghemat kurang lebih satu ton emisi CO2.
Menjadi vegetarian adalah
solusi yang paling mudah, murah, serta beradab untuk menyelamatkan bumi
dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, serta dan demi kesehatan
tubuh. Hal tersulit untuk bervegetarian adalah mengenyahkan sugesti
bahwa makan daging itu perlu.
Sugesti
paling kuat-dan memprihatinkan-yang telanjur menancap di benak
masyarakat adalah bahwa t ubuh akan lemas kalau tidak menyantap daging.
Ini seakan mengingkari fakta bahwa daginglah penyebab banyak penyakit
yang menurunkan kesehatan tubuh.
Namun,
informasi seputar berbahayanya daging ini tak sampai ke masyarakat .
Jika manusia bisa jernih berpikir, kalau melihat dampaknya, makan daging
sebenarnya tidak perlu. Tetapi, sugesti yang menempatkan daging sebagai
santapan penting, sulit diubah.
Tentu
saja, kalau orang tiba-tiba bervegetarian, tubuhnya terasa kurang
bertenaga, aneh, dan otak seperti kurang bisa berpikir. "Tapi, keadaan
ini kan seperti perokok yang merasa aneh kalau mendadak berhenti
merokok. Artinya adalah, itu hanya sugesti, efek psikologis (membuat
ketagihan) sudah nyata terpapar." kata Prasasto, profesor yang juga Guru
Besar Fakultas Teknik UAJY ini.
Informasi seputar vegetarian masih diterima secara sepenggal-sepenggal.
Vegetarian hanya dianggap gaya hidup demi kesehatan atau ajaran agama
tertentu. Padahal lebih dari itu, pemanasan global, kerusakan
lingkungan, hingga kepunahan hewan, banyak berpangkal dari daging,
termasuk ikan. Terkait pemanasan global misalnya, tercermin dari
borosnya energi untuk menghasilkan sepotong daging.
Mitos
bahwa bervegetarian membuat orang bodoh, juga tidak benar. Banyak orang
penting yang mengubah dunia dan mereka vegetarian, misalnya Albert
Einstein, Socrates, Plato, Leonardo da Vinci, Charles Darwin, hingga RA
Kartini, kata Prasasto.
Pilihannya ada di dapur Anda:
Sekalipun seseorang memilih untuk menutup matanya terhadap kekejaman
dalam pertanian pakan ternak, akan tetapi keadaan darurat untuk
menghentikan perubahan iklim dan bagaimana cara melakukannya sangatlah
jelas. Sekarang bukan hanya para vegetarian atau pencinta lingkungan
yang mengatakannya; tetapi ketua dari sebuah badan internasional, Dr.
Pachauri, telah mengumumkan kepada dunia bahwa pengaruh makan daging
telah merusak planet kita, dan bahwa kita harus menghentikan makan
daging agar dapat membalikkan keadaan. Namun itu semua tergantung pada
pilihan orang. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat Bumi ini
menjadi lebih sejuk, lebih bersih, dan lebih sehat. Jadi mulailah dari
dapur Anda: pilihlah diet vegetarian dan bantulah mengerem perubahan
iklim.
Email Artikel ini ke Teman Anda
 |
 |
© Silakan
Copy atau Download Segala Informasi yang Ada Dalam Situs Ini |